“ Untuk Blog
Contest Mizan.com ”
Dear Mbak Dee..
Katakan saya naif, ketika menjawab bahwa saya tidak butuh hadiah untuk lomba menulis surat di blog ini. Memang. Akan saya akui dengan lantang! Saya tidak butuh hadiah. Karena novel tersebut sudah saya miliki dan saya bantai habis-habisan. Yang menjadi motivasi utama bagi saya. Ini merupakan kesempatan emas untuk curhat habis-habisan tentang novelis yang saya kagumi beberapa tahun belakangan. Kapan lagi bisa menumpahkan segala "cacian, makian, sumpah serapah" bernada penuh pemujaan terhadap penulis yang telah mengacak-ngacak cara berpikir saya? Ah..karya Mbak Dee terlalu mengganggu untuk tidak saya abaikan. Saya ketagihan untuk mencernanya!
Saya hanyalah gadis kecil polos ketika tahun 90-an grup RSD (Rida Sita Dewi) melejit. Pikiran saya hanya sebatas lugu anak SD. Dan memang masih SD. Saya terlalu dini untuk mengerti lagu-lagu orang dewasa. Ketika remaja pun, saya masihlah ragu untuk membaca Supernova. Keyakinan saya tetap berpegang teguh bahwa J.K. Rowling lah penulis perempuan paling jenius di dunia.
Belasan tahun kemudian dalam kunjungan saya ke Jakarta. Telinga tanpa sengaja diperdengarkan lagu Malaikat Juga Tahu. Ahayy..saya merasa itu lagu paling menyentuh yang pernah saya dengar. Saya cari info sana sini. Lagu tersebut hanyalah satu dari sekian lagu dalam album Rectoverso! Ternyata sang penyanyi juga menulis cerpen untuk beberapa lagu dalam albumnya tersebut. Saya pun mendengarkan fiksinya. Jiwa saya terlonjak! Cerpen Malaikat Juga Tahu rupanya tak seperti dalam bayangan saya! Posisi J.K. Rowling pun bergeser saat itu juga.
Safari penasaran ini pun berlanjut pada laju sepotong Perahu Kertas yang berlayar di planet Neptunus. Lagi-lagi kepala saya bergolak! Ternyata sosok Kugy yang Mbak Dee tulis' memiliki banyak kesamaan dengan saya. Bahkan sekelumit kalimat yang diucapkan kedua tokoh utama tersebut. "Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita
sendiri.." (Keenan) "...Satu saat nanti, kita jadi diri sendiri." (Kugy)
Saya tergugu kala itu. Saya membacanya dalam waktu semalam, dan keesokannya saya langsung menulis!
Fakta tentang Madre pun bergulir. Menulis blog, kegiatan yang paling setia dilakukan oleh sang tokoh utama. Menganggapnya sebagai terapi. Rutinitas sama yang juga saya anut. Hingga filosofi kopi, tentang pencarian kopi terenak yang dianalogikan dengan kehidupan maha sempurna. Saya lagi-lagi berdecak. Tersedak serasa meminum puluhan cangkir dalam semalam!
Dear Mbak Dee..
Saya tak tahu, akan dikemanakan lagi wahana menakjubkan yang akan Mbak Dee bawa buat kami nanti. Saya tak peduli dengan sebutan best seller, best author, best ini-itu, award sana-sini terkait eksistensi Mbak Dee sebagai penulis. Yang hanya bisa saya pahami untuk saat ini. Betapa pengaruh kata-kata yang kadang terdengar remeh..tapi bisa mengubah cara pandang orang lain. Bahkan mungkin hidup orang lain. Terima kasih telah menyesatkan saya dengan kata-kata! Terima kasih.
Dari : DINA ULVIA
Untuk: Mizan.com
Sudah kuduga. Ini tengah malam. Kedatangan seseseorang yang sama
seperti setahun lalu. Masih dengan piyama biru laut berenda. Dan raisin
cupcake dengan lilin berwarna ungu muda di atasnya.
Aku memberikan senyuman jernihku kepadanya. Ia pun membalas. Senyum yang juga sama. Ia mendekatiku perlahan. Amat perlahan.
“Hai,” begitu sapaan pertamanya. Aku mengangguk dengan ekspresi yang pasti terbaca olehnya.
“Aku sudah mengira. Kau pasti datang menemuiku seperti setahun lalu.”
“Mungkin saja”, orang itu mengedipkan matanya kepadaku. “Tanpa kau undang. Aku pasti akan mendatangimu seperti biasa, Dina.”
“Ya. Dan seperti biasa pula, aku takkan melarangmu. Temui saja aku sesukamu.” Ucapku acuh.
Ia tergelak. Menggelengkan kepala. Menatapku dengan sorot mata yang aneh agak lama.
“Tak
perlu kau ceritakan. Matamu sudah sangat berkisah. Tentang banyak.
Tentang setahun yang tlah kau lewati. Setelah kehadiranku di malam
itu.”
“Apa yang kau tahu. Segalanya. Takkan pernah punya pengaruh.” Aku menyahut, tegas.
“Hey,
dengar. Kau masih saja bersikap begitu, Dina. Kesinisan terhadap apa
yang kau hadapi. Seolah itu tak akan mengubah banyak.” Sosok itu bereaksi.
“Karena, itu sudah menjadi tidak penting lagi bagiku. Lalu apa peduliku?” Aku menaikkan alis, menantang sosok di hadapanku itu.
“Baiklah.
Baiklah. Kau memang lebih tahu bagaimana cara memperlakukan
hidupmu..kau selalu lebih tahu. Bukan orang lain. Tapi. Dengarkanlah
ini..kumohon. Akan banyak pertanyaan yang menghantui sepanjang
hidupmu. Tak pernah berhenti pada satu jawaban, dua jawaban yang kau
temukan. Karena ini memang proses misterius, dan cukup rumit. Tak ada
satu penjelasan singkat untuk membuat orang mengerti segala tentang
hidup. Mungkin tidak ada awal dan akhirnya juga. Karena kita pernah
ada, begitupun aku ataupun kau, tidak yakin akhirnya akan pernah
tiada, walau sudah tidak bernyawa.
“Dina, Jika kau
merasa bahwa seperti apapun dirimu, semuanya adalah bagian dari
rencana yang besar. Bahwa kelebihan dan kekurangan diciptakan agar kau
bisa menarik dan membuat makna dari hidupmu, kau bisa mempelajari
begitu banyak hal tentang hidup walau itu hanya berasal dari dirimu
sendiri.”
Aku tercenung dengan kalimat-kalimat yang mengalir deras dari dirinya. Aku terpaku. Tubuhku kaku.
“Yang
namanya pilihan adalah satu hal yang seseorang putuskan secara sadar
sebagai dirinya. Definisi gagal itu terlalu luas untuk menyatakan
pilihanmu gagal atau tidak. Ketika kau berhasil memilih, walau
ternyata tidak seperti pemikiranmu, keinginanmu. Tapi, setidaknya kau
telah memilih secara bebas dan menjadi manusia. Kau bisa terus
berusaha atau menjadi dewasa ketika melihat pilihan itu sebagai jawaban
lain dari pertanyaan yang menyudutkan tadi, mungkin malah itulah awal
dari pilihan baru. Ingat, Dina. Manusia tidak bisa hidup tanpa
pilihan.”
Membisu. Bodoh, aku terbius dengan
ucapannya. Rangkaian kata. Mati rasa. Tapi jiwa seperti terkoyak.
Walau raga tak mengenal apa itu sakit. Apa itu tidak enak. Kupikir
hanya dengan mendengar apa yang dikatakannya, semuanya akan mereda.
“Butuh
hati yang lebih luas dari sekedar lapangan bola untuk melihat bahwa
tidak ada yang akan kita dapatkan dari menyakiti orang lain. Bukan
tidak mungkin, tapi orang butuh pengalaman itu; bahwa bagaimanapun dia
menyakiti orang lain, rasa marahnya tidak akan pernah habis dan secara
tidak sadar, dia sedang menyakiti dirinya sendiri.”
Lalu ia terdiam, menunggu reaksiku. Hingga aku membuka suara.
“Aku
tak bisa benar-benar memastikan. Apa setahun kemarin adalah berat,
atau malah hal yang paling membanggakan bagiku. Ketika aku menemukan
diriku hingga saat ini masih bernafas, bertaruh antara harap,
ketakutan beserta takdir, menghargai apa yang kuyakini, prinsip-prinsip
yang aku pegang hingga kini. Bagiku adalah luar biasa. Aku telah
menyematkan sedalam-dalamnya. Bahwa sekalut apapun, setidak berdayanya
aku. Jangan sampai aku melakukan tindakan konyol yang akan memberikan
penyesalan berkelanjutan untuk masa yang akan datang.”
“Tak
perlu lah aku bersusah payah, berpura-pura, melakukan ini itu.
Ketulusan, selamanya takkan menipu. Hanya itu yang sepenuhnya bisa
kumengerti. Hanya itu..”
Aku menelan ludah. Sekujur
tubuhku bergetar sesaat setelah mengatakannya. Kepalaku kosong. Mataku
mulai berkabut. Aku berusaha menguasai gemuruh ini.
Dia menjentikkan jari, sambil mengatakan..
“Mungkin
benar yang kau sebut kehidupan serupa roller coaster. Naik turun,
bergerak lincah, memutar-mutar hingga membuatmu mual, atau malah
terkadang tamparan angin kencang ketika menaikinya menjadikanmu
bergairah penuh semangat.”
“Ya. Ya. Aku bahkan
begitu cemas menanti kejutan-kejutan di ujung sana yang dipersiapkan
Tuhan untukku. Menunggu hal-hal baru. Yang menyenangkan. Atau tidak
nyaman. Orang-orang baru yang ingin kutemui, hingga yang tanpa sengaja
menemuiku. Terkadang membuatku sakit kepala, saking mendebarkannya,
kira-kira siapa atau apa lagi yang nanti akan kuhadapi.” Aku tertunduk, menghela nafas.
“Aku
banyak belajar. Sangat banyak belajar. Satu hilang, bukan masalah.
Karena Tuhan tak ingkar janji untuk menggantikan. Tapi tetaplah, aku
bukan manusia bijak itu. Bukanlah manusia bijak yang kau maksud.” Aku menatap sosok itu sungguh-sungguh. Berusaha menunjukkan kejujuran yang kumiliki.
Sosok itu mengangkat raisin cupcake dengan sebatang kecil lilin ungu muda menyala, lalu mengarahkannya padaku.
“Sebelum semua dimulai, sebelum semua yang akan berakhir. Luka, tawa, hampa, kedamaian.”
“No
matter how fucked up you are, do what you can do to make yourself
valuable, Dina. Write things or do anything from your misery, trough
your own perspective. Dont be afraid.”
“Mari, kita tiup lilinnya!”
Selamat ulang tahun!
Aku mengamini. Mengamini. Mengamini.
#Sontreknya:
- Muse~Resistance. Ini sengaja apa ya? Mereka bikin lagu ini buat aku? hahaaayy.. :p
- Coldplay~Paradise.
Keren aja pas Om Chris Martin ngucapin "Para..Para..Paradise"
Perspektif tentang surga yang berbeda. Walo kecewa abis sama vidclipnya.
Bener-bener yang bukan dalam bayanganku! Huhuhuh..
- Masih
Coldplay~Every Teardrop is A Waterfall: Bahwa sesuatu yang nggak nyaman
itu sebenernya bisa banget kita ubah menjadi sesuatu yang nyaman, yang
menyenangkan. Selama kita mau..
- Muhasabah Cinta~Nasyid: eciyeeeh..tumbenan! Hahahaha..saya mengalami penginsyafan, perenungan sekian waktu..