Showing posts with label review buku. Show all posts
Showing posts with label review buku. Show all posts

Tuesday, April 18, 2017

[Review Buku] Buku Super Lengkap Makanan Bayi Sehat Alami



Walau belum sampai tamat bacanya, karena Mada lagi Mpasi, jadi buku ini saja yang diulas, yuk!

Judul : Buku Super Lengkap Makanan Bayi Sehat Alami
Penulis : Wied Harry Apriadji
Penerbit : Pustaka Bunda, Jakarta, 2012
Tebal : 198 halaman

Soal makanan sehat dan lezat, Pak Wied sudah pasti jagonya. Apalagi bayi yang imunnya masih belum sempurna terbentuk dan tidak boleh begitu saja makan makanan yang tercemar pengawet, perasa, pewarna atau pemanis sintetis. Tentu perlu sekali menyajikan makanan sehat dan alami seperti judul buku ini.

Di dalam bukunya, Pak Wied memaparkan soal pentingnya makanan segar kaya nutrisi. Berbagai macam resep dan varian menu sudah tercantum di sini. Bahkan menunya bisa dipakai sampai bayi usia setahun loh. Jadi sangat membantu sekali bagi para Ibu baru yang masih awam dengan dunia Mpasi atau malah dunia memasak (uhuk!). Bahan-bahannya pun mudah, bahkan diberi alternatif bahan jika tidak tersedia. Cara membuat resep-resep dalam buku ini juga terbilang gampang, karena memang untuk makanan bayi metode memasak hanya sekitaran merebus, mengukus, atau menumis sebentar saja. Dan juga metode penyimpanan makanan yang cukup penting. Mungkin yang cukup berat pada peralatannya saja. Seperti hand blender yang disarankan Pak Wied, harganya cukup wow loh.

Selain menu dan resep yang jadi bahasan utama dalam buku ini, ada juga penjelasan soal kemampuan cerna bayi, Traveling Food, panduan pengenalan Mpasi, perlunya menikmati cemilan, panduan pemberian Mpasi, Fingger Food. Bahkan, soal ASI Ekslusif juga tak luput dibahas pada halaman-halaman awal. Mengenai tampilan fisiknya, buku hardcover ini didesain dengan ilustrasi dan layoutnya yang cukup menarik. Sederhana, tapi ada juga informasi tambahan yang berwarna-warni.

Thursday, March 30, 2017

[Review Buku] Matilda-Roald Dahl



Judul Buku : Matilda
Pengarang : Roald Dahl
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 1991
Tebal : 264 halaman

Bersyukur sekali bisa mendapatkan buku Matilda versi cover warna cokelat, yang berbeda dengan cover versi boxset. Karena yang cover cokelat ini lebih lawas dan susah dicari. Meski ilustratornya tetaplah sama, Quentin Blake.

Lebih tahu filmnya dulu malah, ketimbang bukunya. Dua-duanya sama-sama bagus dan memberi kesan.

Sesuai dengan judul dari buku ini, menceritakan gadis kecil bernama Matilda. Anak dari keluarga  Wormwood. Tapi Mr. Wormwood dan istrinya tergolong orang tua yang acuh kepada Matilda, mereka lebih mempedulikan kakak sulungnya yang bernama Michael. Malah orangtuanya  menganggap Matilda sebagai anak yang mengganggu. Padahal Matilda tergolong anak yang sangat pintar. Kenapa bisa dibilang begitu? Pada usia 3 tahun. Matilda sudah bisa membaca. Ia belajar sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Di umurnya yang ke 4, kemampuan membacanya sudah lancar.

Karena orangtuanya tidak mau membelikan Matilda buku, untuk memuaskan dahaga membacanya, ia berkunjung ke perpustakaan umum di desanya. Di sana ia dibantu oleh Mrs. Phelps dalam mendapatkan buku bacaan. Yang awalnya hanyalah buku-buku anak dan ternyata langsung dilahap habis oleh Matilda! Lalu merambah pada buku-buku karangan pengarang besar seperti Charles Dickens, Ernest Hemingway, Jane Austen dan lain-lain.

Di usia yang termasuk terlambat, 5 setengah tahun, Matilda mulai disekolahkan oleh orang tuanya. Mengapa terlambat? Karena anak lain sudah bersekolah sejak umur 5 tahun bahkan kurang. Di sana ia bertemu banyak sekali teman, juga guru wali kelasnya yang cantik bernama Miss Honey. Di hari pertamanya bersekolah, Matilda telah membuat Miss Honey takjub akan kemampuan berhitung dan mengejanya yang melebihi anak-anak lain seusianya. Di sekolah tersebut juga dipimpin oleh Kepala Sekolah yang kejam, bernama Miss Trunchbull. Ia tidak suka pada anak kecil dan sering mengejutkan para muridnya dengan hukuman dan alat penyiksaan yang sangat mengerikan. Tapi bukan Matilda, kalau tidak menggunakan kemampuan rahasianya demi menyelamatkan nasib teman-temannya yang bersekolah di sana, serta seseorang yang waktu demi waktu mulai ia sayangi melebihi kedua orangtuanya sendiri.

Buku ini lucu dan sangat menarik! Dan namanya juga buku anak-anak, tak mungkin kalau tidak aneh dan ajaib. Bagaimana bisa anak sekecil Matilda, mampu mengerjai orangtuanya yang begitu menyebalkan seperti Mr. Wormwood. Apalagi terhadap Miss Trunchbull yang jahat. Tentunya ini hanya khayalan menyenangkan yang ada dalam benak anak-anak ketika mereka sedang mengalami emosi yang negatif. Lalu ditransfer dengan piawai oleh Roald Dahl ke dalam buku ini.

Juga ada kritik untuk orangtua yang ditampilkan oleh Mr. dan Mrs. Wormwood, contohnya tentang kesukaan menonton TV. Makan bersama tetapi tidak di meja makan. Hanya menyediakan makanan cepat saji atau instan untuk anak-anaknya di rumah. Tidak memahami emosi dan kemampuan anak. Meninggalkan anak sendirian di rumah dengan kegiatan yang belum tentu berguna.

Walau banyak sekali ditemukan umpatan dan serapah yang cukup aneh bila didengar. Tapi kalaupun tidak diterjemahkan, sepertinya tidak cukup pantas untuk dibaca anak-anak. Minus kecil ini pun seluruhnya ditutupi dengan endingnya yang sempurna, suka sekali!

Tuesday, February 28, 2017

[Review Buku] Keluarga Cemara

Ahmada menjadi 'cameo' dalam foto ini :D
Judul Buku : Keluarga Cemara #1
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2013
Tebal : 288 halaman

Acara rutin di televisi yang dulu kita kenal di area 90-an, yang asalnya berasal dari cerita karangan Arswendo Atmowiloto ini. Mengisahkan keluarga dari gadis kecil bernama Cemara yang biasa dipanggil Ara. Keluarga ini terdiri dari; Abah sebagai kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai penarik becak, Ema sang ibu yang membuat Opak untuk dijajakan putri sulungnya, Euis yang kelas 6 SD,  juga Ara sendiri yang baru masuk TK serta Agil si bungsu.

Dahulunya, keluarga ini sangat berkecukupan. Mereka tinggal di Jakarta, hidup dengan rumah yang lengkap dengan perabotannya, mobil dan segala kemewahannya. Pada saat itu, di antara ketiga anaknya, hanya Euis yang sempat merasakan kehidupan serba berada. Sebelum akhirnya mereka ‘jatuh miskin', karena usaha Abah yang ditipu rekannya sendiri. Akhirnya mereka pindah dan tinggal di rumah yang sangat sederhana di desa.

Sekalipun hidup mereka kurang beruntung secara materi, tapi hubungan antar anggota keluarganya erat sekali. Terkadang ada pertengkaran-pertengkaran kecil antar kakak beradik ini, yang membuat Abah perlu turun tangan untuk menyelesaikan. Mereka pun kembali akur dan saling menyayangi. Euis sebagai kakak tertua yang melindungi adik-adiknya dengan caranya sendiri. Ara yang lugu dan polos. Serta Agil, si bungsu peniru yang selalu mengiyakan tiap apa yang diceritakan oleh Ara. Abah sebagai sosok Ayah yang menjadi idola buat anak-anaknya. Ema yang sangat sabar, tak pernah mengeluh pada keadaan, selalu patuh kepada suaminya yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini tak perlu menyesali hal yang telah lalu. Hubungan Ema dan Abah pun terlihat harmonis dalam cerita ini. Suguhan tentang keluarga yang patut diteladani, karena pondasi pertama yang membentuk karakter anak-anak adalah interaksi erat dalam keluarganya.

Dalam mendidik, Abah selalu menjelaskan alasan kepada anak-anaknya jika melarang sesuatu. Abah juga pandai membahagiakan anak-anaknya meski berada dalam keterbatasan, misal membuat puisi di ulang tahun Guru TK Ara, becak yang dijadikan helikopter untuk perayaan karnaval, membuat akuarium dari toples opak.

Buku ini memang telah ditulis lama oleh sang penulis. Tapi nilai-nilai di dalamnya sangat relevan di jaman sekarang. Dimana kejujuran menjadi barang langka. Padahal seperti yang dilakukan Abah dalam mendidik anak-anaknya, kejujuran mulai ditanam dan disemai dari lingkup terkecil yakni keluarga.

Membaca buku ini membuat kita berkali-kali berurai air mata. Bukan hanya karena kemiskinan mereka, tetapi banyak kesempatan dan keberuntungan yang nyaris mereka genggam lalu lenyap begitu saja. Tapi mungkin benar kata sang penulis. Jikalau air mata bisa menjadi simbol kebahagiaan, inilah kisah itu.