Showing posts with label note fb. Show all posts
Showing posts with label note fb. Show all posts

Wednesday, May 2, 2012

6:02 AM - No comments

Apa-Yang-Ada-Di-Kepala

Mengenang Setahun Kematian Osama bin Laden

Kamu bisa membunuh seseorang dengan menembak kepalanya. Kamu dapat menghilangkan nyawa seseorang dengan memenggal kepalanya. Menyiksanya sedemikian rupa. Hingga kematian itu benar terasa di depan mata. Menghentikan asa.

Tapi. Apa yang ada di kepalanya itu..takkan pernah mati. Tidak hilang. Tak pernah terbunuh.

Apa-yang-ada-di-kepalanya-itu hanya bersembunyi. Menunggu. Menanti waktu. Untuk memasuki kepala orang lain lagi. Menyelusup. Membayangi hidup. Memberi kecemasan. Menggenerasi. Satu demi satu. Membentuk koloni baru. Hingga Negara akan memburu orang-orang itu lagi untuk kembali membunuhnya.

Itulah yang dinamakan isme. Paham. Aliran. Tidak punah. Tidak bisa dibunuh dengan peluru . Atau ayunan pedang sang Algojo.

Sederhananya adalah.. Walaupun tangan saya suatu saat nanti lumpuh. Tak bisa bergerak. Tak bisa menulis. Tak bisa mengetik dengan sempurna. Saya percaya. Pasti akan ada manusia yang siap. Bersedia membantu saya menuangkan apa yang ada di kepala ini dengan tangannya.

Yang menjadi pertanyaan adalah..

"Sebenarnya Osama itu meninggal karena sakit atau terbunuh dengan ditembak?"

Tak usah dijawab, teman. Itu sudah tidak penting lagi. Beliau sudah menjadi urusan Tuhan sekarang.

Tulisan Setahun Lalu. 020511

Friday, April 27, 2012

Morning After The Love Has Gone

Kita akan kembali bersua pada satu gelombang suara. Basa-basi awal yang wajar dipertanyakan.

“Apa kabar?”

Semestinya semua orang akan menjawabnya dengan ”baik” .

Sedangkan, apakah kita sama dengan semua orang itu? Kita tak ingin mendustai diri sendiri dengan jawaban yang sama itu.

Lalu. Kita akan membicarakan berapa banyak kejadian yang telah terlewat. Apa saja yang telah kita lakukan dalam waktu dan kondisi berbeda. Kita akan mengangguk. Berbasa-basi. Masihlah suasananya sama. Mengingat kembali kesalahan- kesalahan yang hanya kita sendiri yang menyadarinya.

Aku tetap selalu tahu, awal kesalahanmu di akhir itu. Dan kita akan menerimanya, kembali memakluminya. Kini aku bukanlah sosok manis itu. Kau mengatakan aku memanglah seorang pemberani. Tapi tak usahlah kau sebut nama Tuhanku untuk kesekian. Kita lagi-lagi tergelak. Kesulitan berbahasa selalu menjadi kesalahpahaman yang sama ketika kita berkomunikasi dengan orang banyak.

Aku juga mengerti. Aku tak sedang terbang saat ini. Aku berdiri di bumi sama, seperti yang kau pijaki. Mungkin kau akan memberi saran. Kita akan berusaha mencari jejak-jejak dan pertanda itu lagi.

Judulnya diambil dari lagu dengan judul yang sama. Penyanyi aslinya adalah Brian Mcknight. Akan tetapi awal saya mengetahui lagu ini pada saat dinyanyikan band Indie Indonesia, yaitu Kilas Balik Band.

Catatan Setahun Lalu. 270411

Wednesday, April 25, 2012

Oranje!

Melangkahkan kaki ke tempat itu. Sesuai saran ayah saya. Sedikit janggal ketika saya menarik pintu tempat itu. Memasukinya. Memandang orang-orang yang mungkin memiliki kepentingan berbeda ke tempat ini. Tapi. Ya pastilah bisa ditebak. Kalo nggak ”ini”. Ya ”itu” mungkin.

Menyusuri loket yang tepat untuk saya. Lalu mengantri. Walaupun masih bertanya-tanya di dalam hati : ”Bener nggak yah? Antriannya yang sebelah sini?” ”Trus ntar kalo ditanya petugasnya. Gimana ya?” Deg-degan. Padahal orang di sekeliling saya nyantai-nyantai aja tuh! Hahaha.. Saya ketawa dalam hati. Sambil tetap dalam posisi mengamati orang-orang di tempat ini.

Di zaman yang serba digital ini. Di zaman yang serba ditentukan, hanya dengan tekanan jari. Sentuhan jari. Dan saya masih berdiri di tempat ini. Mengantri. Lucu tidak ya? Ah, tidak lah.. Wajar aja kok.

Malah ada anak kecil yang masih berseragam SD juga ikut mengantri dengan lugunya. Wuuh...jadi teringat kata-katanya Doraemon tentang secanggih apapun dunia ini, masihlah tetap kita harus memfungsikan tubuh dan tenaga kita sebagai manusia. Nggak. Tenang. Saya nggak akan ngomong teori di sini. Petugas itu berpesan : ”Minimal 3 hari. Maksimal 5 hari, Mbak. Biayanya Rp.6000.”

Okelah. Saya secepatnya menyelesaikan urusan ini. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Karena terlalu siang. Kesempatan mendapat pelayanan express tidak bisa didapatkan. Ya. Nope lah..

Saya segera menghubungi seseorang. Mengabarkannya. Lalu cepat-cepat pergi. Meninggalkan tempat itu.

#PS : Eh, orang pertama yang saya tag note ini. Segera konfirm ya. Tau nggak? Tadi pas saya ambil surat ijin penelitianmu. Si Bapak bilang, kalau yang ngambil lebih cantik daripada orang yang di foto KTM. Hahahaha... Beneran deh... Saya nggak lagi bikin kebohongan publik lohh.. Ini pengakuan yang paling jujur yang pernah saya dengar hari ini! :p

Friday, April 20, 2012

5:20 AM - No comments

A (May) New Fresh Air

Tiap kali ketika kita pernah kehilangan. Entah sesuatu, atau seseorang yang penting di hidup kita. Rasanya selalu tidak enak. Terasa ganjil. Dan. Tak nyaman. Mirip luka di salah satu anggota tubuh. Sayatannya panjang. Dalam. Dan berdarah-darah. Sesekali. Meninggalkan lubang yang perih. Walau kamu sudah mengobatinya. Melupakannya. Luka itu tetap memberi bekas yang tak indah.

Lalu. Ketika kita menengoknya kembali. Meraba luka itu. Ada kerlingan lembut menggelitik di hati, yang mengatakan :

”Dulu hidupku normal sebelum ada luka ini.”

”Dulu aku mudah sekali untuk tersenyum karenanya. Tapi, sekarang aku tak bisa semudah itu.”

”Dulu mentari selalu menyorotiku ketika pagi. Kini tidak lagi. Tanpa hadirnya.”

”Sepertinya, ada yang salah. Aku tak mengenal diriku yang sekarang. Karena dia tak ada.”

Begitu lah kira-kira..

Perasaan kehilangan. Seperti sempalan di bagian tubuh yang terbuang tanpa kita inginkan. Entah kemana perginya sempalan itu. Usaha untuk menambalnya terdengar percuma. Kita pun dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan hidup bersama bagian ”sempalan” yang tak sesempurna seperti dulu itu? Atau memilih hidup bersama bagian yang benar-benar baru, yang sama sekali tak mirip dengan sesuatu yang hilang dulu? Pilihan yang menyedihkan ya?

Tepat di hari ini. Saya ditakdirkan mencoba pilihan yang terakhir. Ya. Begitulah. Walau hal yang baru ini kualitasnya melebihi hal yang dulu. Tetap saja. Chemistry-nya tetap milik ”yang dulu”. Karena kita masih saja kurang ikhlas. Atau malah tidak ikhlas? Ada bagian dari diri kita yang tak bisa menerimanya. Semuanya tak lagi sama.

Kemudian. Sangat berharap hal yang baru ini mampu mengisi ”lubang” dari hal yang dulu. Memindahkan segala-apa-yang-ada-pada-sesuatu-yang-dulu, menjadi milik yang sekarang.

Contoh yang sederhana adalah : Ada satu kisah. Seorang lelaki yang masih mengingat mantan kekasihnya. Walaupun kisah mereka telah usai. Dia selalu teringat akan wewangian mantan kekasihnya itu. Dan ketika lelaki ini sudah menemukan ”muara terakhirnya”. Dia menginginkan seseorang yang di sampingnya kini, menggunakan wewangian yang sama dengan mantan kekasihnya dulu. Terobsesi. Hanya sekedar ingin mengingat segala-apa-yang-ada-pada-mantan-kekasihnya. Ia memfigurkan mantan kekasihnya itu pada orang lain dengan menggunakan wewangian yang dulu pernah dipakai ketika mereka masih bersama. Entah ini benar kejadiannya atau tidak.

Terkadang. Saya selalu percaya. Suara, jalanan, nama tempat, rasa makanan atau aroma wangi tertentu. (seperti contoh di atas) Meski benda mati. Punya kekuatan magis. Mereka mampu menyimpan banyak memori, melebihi kapasitas otak kita. Kepala kita memang berhasil melupakan. Tapi, mereka –benda mati yang disebutkan tadi, akan selalu bisa menyerap memori dan kenangan itu dengan baik. Tak ada ketentuan yang memerintahkan mereka untuk melupakan. Dan kembali melemparkannya kepada kita dalam waktu yang tiba-tiba! Ketika kita tidak siap mengingatnya kembali. Mendengarnya. Melihatnya. Kita terperosok lagi. Padahal kita sudah mati-matian sengaja melupakannya.

Yang pasti. Saya sekarang akan mencoba mencintai sesuatu yang "baru" ini. Walaupun tidak tahu harus menggunakan teori yang bagaimana. Apakah hidup lebih membaik? Atau masihkah berantakan?

Friday, April 13, 2012

3:49 AM - No comments

Tentang Sebuah Pintu

Lelaki di depan pintu. Ia mengetuk pintu itu dengan ketukan perlahan. Perempuan di belakang pintu. Mendengar ketukan itu. Tapi tak berani membuka pintu. Lelaki di depan pintu kembali mengetuk pintu itu lagi. Perempuan di belakang pintu membuka tirai jendela. Lelaki di depan pintu berbicara di antara celah jendela yang terbuka. Perempuan di belakang pintu mendengarkannya. ”Bisakah kau membukakan pintu ini untukku?” Ucap lelaki tersebut setengah berbisik. ”Sebenarnya bisa. Tapi pintu itu terkunci. Aku lupa menyimpan kuncinya di mana.” ”Mungkinkah kau bisa mengingat-ingat di mana terakhir kali kau menyimpannya, Nona?” ”Entahlah. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa kepadamu. Aku memang sengaja melupakan keberadaan kunci pintu tersebut. Aku tak ingin membiarkan seorang pun memasuki pintu itu.” ”Kau pasti bisa mengingatnya! Percayalah kepadaku, Nona. ” ”Sudah kubilang. Aku tak ingin mengingat kunci itu. Aku benci harus berusaha mengingatnya!” Perempuan itu mulai terlihat emosional. ”Tapi. Tapi. Untuk keperluan apa kau ingin sekali memasuki pintu terkunci ini?” sergah perempuan itu dengan tatapan curiga. ”Err.. Tadinya aku juga bingung. Seperti ada sesuatu yang menuntunku untuk ke sini. Yang mengharuskanku memasuki pintu ini. Mungkin kita bisa memikirkan dan mencari jawaban dari pertanyaanmu setelah kau membukakan pintu ini untukku. Ku mohon padamu. Temukan kunci pintu ini, Nona.” ”Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Siapa tahu kau mau berniat jahat kepadaku.” Perempuan itu masih tetap waspada. ”Tidak. Percayalah padaku. Aku pergi ke sini sama sekali tidak membawa barang-barang berbahaya untuk mencelakaimu. Kau bisa memeriksa saluran telponmu sekarang. Jika nanti aku berbuat jahat kepadamu, kau bisa menghubungi orang yang kau percaya untuk menolongmu.” ”Hmm. . baiklah. Aku akan mencoba mencarinya. Tunggulah sebentar.” Perempuan itu melunak. ”Ya. Aku akan menunggu. ” Lelaki itu menyanggupinya. Cukup lama. Perempuan di belakang pintu mencari benda mungil tersebut. Ia mengelilingi ruangan itu. Meraba-raba di atas lemari. Di bawah kolong meja. Hingga ia menemukan kunci itu terselip di antara tumpukan benang yang belum selesai ia sulam. Perempuan itu bergegas kembali. Dia mengacungkan kunci itu kepada lelaki di depan pintu. ”Heiy.. ini! Sudah aku temukan!”Pekik perempuan itu riang. Lelaki di depan pintu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Perempuan di belakang pintu cepat-cepat membuka pintu. Meraih gagangnya. Dan. ”Cklek” Pintu itu pun terbuka. Lelaki di depan pintu terlihat canggung ketika melewati pintu itu. Keadaan yang sama dengan perempuan di belakang pintu. Ia merasa aneh, karena sana sekali tak pernah membiarkan orang asing melewati pintu ini dengan mudah. ”Jadi. Apa yang kau inginkan?” ”Ummh.. apa ya?” Lelaki itu berpikir serius, dahinya berlipat-lipat. Memandang sekeliling ruangan itu. ”Bagaimana jika kita menggunakan dapurmu untuk melakukan aktivitas bersama di sana?” Perempuan itu terdiam, berpikir sebentar. ”Ya. Boleh. Itu ide bagus” Perempuan itu mengangguk mengiyakan. ”Tapi, apa kau bisa memasak sebelumnya?” ”Tidak juga sih.. Tapi aku bisa merebus spagetti. Atau membuatkan jus. Kau suka jus?” “Ya. Aku suka sekali” Perempuan itu tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada lelaki tersebut. “Baiklah. Hmm... apa kau juga punya persediaan marshmallow? Kita bisa memanggangnya nanti bersama-sama.” ”Oke. Biarkan aku yang meracik saus Bolognaise saja ya? Aku juga akan memotong-motong buah. Kita bisa mencelupkannya ke dalam lelehan coklat.” Mata perempuan itu meyakinkan lelaki tersebut. ”Brilian! Sepertinya aku membutuhkan yogurt untuk menambahkan rasa segar pada jus kita nanti. Oh iya. Jangan lupa. Cincangan daging di sausnya jangan lupa diperbanyak ya.” Pesan lelaki itu. ”Ahh..kau ini bawel sekali seperti nenek-nenek!” Refleks perempuan itu menjulurkan lidahnya kepada lelaki itu. Lelaki itu mencubit hidung perempuan itu dengan gemas. Mereka berdua pun saling membantu memasangkan celemek, dan tak lama mereka sibuk meramaikan ruang dapur milik perempuan itu, mempersiapkan hidangan yang akan mereka nikmati bersama. Mereka menghabiskan hasil kreasi masakan mereka itu di ruang makan terbuka yang bersebelahan dengan taman dan kolam ikan dengan hiasan bunga teratai. Sesekali mereka bersenda gurau. Berceloteh riang. Membicarakan hal-hal yang mungkin mereka anggap penting. Seperti kawan lama yang baru saja dipertemukan. Sangat akrab. ”Hei.. apa kau tak bisa makan dengan pelan? Lihatlah..mulutmu penuh dengan lelehan coklat. ” Perempuan itu menyodorkan tisu kepada lelaki tersebut. ”Ah..ku rasa tak perlu. Kau pasti akan selalu ada untuk membersihkannya bukan?” Lelaki itu mengerling, menggoda. ”Heh..enak saja!” Perempuan itu memalingkan muka, sebal sekaligus jengah. Tiba-tiba pandangan lelaki itu tertuju pada rak yang berisi tumpukan buku koleksi milik perempuan tersebut. ”Kau menghabiskan waktumu dengan buku-buku tebal itu?” Lelaki itu keheranan. ”Tidak juga.. hanya sesekali jika aku sudah bosan menyulam.” Tatapannya berbinar ke arah lelaki itu. ”Kau senang menyulam?” Perempuan itu mengangguk. Lelaki itu pun berkeliling di ruangan mungil tersebut. Sesekali ia bertingkah aneh, dengan sengaja mengetukkan kaki- kakinya di lantai. Ia berjalan menuju sebuah biola yang bersender di kursi yang tak jauh dari tempat mereka duduk. ”Kau bisa...” Lelaki itu menunjuk pada biola tersebut, menatap perempuan itu. Perempuan itu mengangguk sekali lagi, lalu lelaki itu meneruskan pertanyaannya. ”Kapan-kapan kau mau mengajariku kan?” Mata lelaki itu mulai terlihat jenaka. ”Tentu saja.” Perempuan itu menyanggupinya sambil tersenyum ringan. ”Oh iya.. Kau belum menjelaskan maksud kedatanganmu ke sini?” ”Pentingkah?” Lelaki itu mulai merasa tak nyaman dengan pertanyaan barusan. Perempuan itu mengernyitkan dahi. ”Bukankah kau yang mengatakan akan menjelaskannya setelah masuk ke sini?” ”Hmm. . Iya. Tapi aku pikir itu sudah tak penting lagi.” Lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke pintu. Lalu menunduk dalam-dalam. ”Entahlah.. ” Ia bergumam. ”Aku tak tahu..” Perempuan itu pun menghampirinya. ”Hei.." Ia meraba pipi lelaki itu dengan tangan kirinya perlahan. ”Kau terlihat kebingungan.” Ia menatap lelaki itu dalam-dalam. ”Kau tersesat ya?” Perempuan itu menyentuh dagu lelaki itu dengan gestur kikuk. Lelaki itu menaikkan alisnya. Mengangkat bahu. ”Jangan-jangan kau salah pilih pintu untuk kau masuki?” Lelaki itu menggeleng. Diam tak menjawab. “Lalu?” Perempuan itu masih dengan mata jujurnya penuh rasa ingin tahu. ”Tidak penting aku salah masuk pintu atau tidak. Ku pikir waktu yang kuhabiskan bersamamu tadi itu menyenangkan. Sangat menyenangkan dalam hidupku.” Ucap lelaki itu sungguh-sungguh sambil menatapnya tulus. Perempuan itu menarik napas berusaha menahan letupan di dalam jantungnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menormalkan ledakan ini. Lelaki itu merapikan poni perempuan itu dengan lembut. Sambil menyematkan di telinganya. Lalu berkata. ”Terima kasih. Sudah membukakan pintu ini untukku.” Perempuan itu mengangguk tulus. Matanya sedikit memanas. ”Kapan pun kau mau. Kau boleh berkunjung ke sini lagi. Aku tak akan membukakan pintu ini untuk orang lain. Aku hanya...” Perempuan itu tertunduk, menahan gejolak itu lagi. ”Aku hanya akan membukakannya untukmu. Aku akan berusaha mengingat kunci pintu ini untukmu. Karena aku selalu lupa meletakkannya di mana.” Ucap perempuan itu hati-hati dengan tatapan paling jernih yang pernah lelaki itu lihat. Lelaki itu tertawa. ”Terima kasih. Terima kasih.” Lelaki itu melambaikan tangannya. Pergi. Lalu si perempuan itu pun mengunci pintu kembali. Catatan Setahun Lalu 130411

Wednesday, April 11, 2012

6:09 PM - 1 comment

My Darkest Note

Jelas-jelas Tuhan ingin menguji saya lagi di dini hari itu. Saya yang dalam keadaaan aman dan sentosa. Terpancing untuk berada di sudut itu kembali dengan tertunduk pasrah. Memejamkan mata. Memutar ingatan. Gelombang rekaman. Bayangan berkelebatan. Suara-suara. Potongan-potongan gambar. Samar namun tetep terdengar. Saya ingin berteriak!

Demi Tuhaaaaaan.. Sayalah! Ya. Sayalah! Sosok yang di usia seperti ini, masih tetap menutup mata menerima tanggung jawab kedewasaan. Saya tahu. Sejak kecil. Saya sudah memperkirakan. Pergantian fase-fase hidup yang lambat laun terlampaui ini. Tapi ini terlalu cepat. Cepat. Amat cepat.

Katakanlah, ada seseorang yang dulunya pernah melakukan dosa yang tak termaafkan baginya atau orang lain. Ia sadar. Lalu bertobat. Dan meminta ampun kepada Tuhan. Ia pun dinyatakan bebas dari segala perkara. Tapi. Bagaimana dengan orang yang sama sekali tak pernah melakukan sesuatu apa pun di kehidupan sebelumnya? Tanpa kesalahan. Tidak juga kebaikan. Apa yang tersisa dari hidupnya itu? Tak ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Tak perlu juga sesuatu yang harus dpuji. Sama sekali tak ada bekas dari hidup sebelumnya itu yang perlu diingat. Hilanglah kesempatan. Terhormatkah ia? Saya. Sayalah. Orang barusan.

Lalu. Saya mengingatnya. Orang itu. Saya meyakininya. Mempercayainya hingga membagi rahasia saya kepadanya. Bahkan rahasia tergelap sekalipun. Hanya kepadanya. Ia tak seharusnya diragukan. Karena, sayalah yang sepantasnya diragukan untuknya. Di sampingnya. Saya tahu, apa dan siapa saja yang mengitarinya. Berbanding kebalikan dengan saya. Yang berdiri rapuh di antara apa dan siapa. Jadi. Saya selalu siap. Jika siapa dan apa yang mengitarinya itu tak cukup baik menghayati saya suatu saat nanti. Atau sekarang misalnya. Karena saya hanyalah sekejap menghampiri hidupnya. Tak lama. Tidak seperti apa dan siapa yang sudah cukup lama mengitarinya

Padahal. Saya sudah berdoa mati-matian kepada Tuhan sebelumnya. Cukuplah berikan saya seseorang yang biasa saja. Yang tak perlu menghantui perasaan khawatir kepada saya dan hidup saya nantinya. Saya mengamininya. Tapi. Tuhan tak mengabulkan. Atau belum mengabulkan? Apabila akhir ini, adalah bukanlah bersamanya. Tidak apa-apa. Saya siap. Jika harus menjadi seseorang yang terlupakan bagi dirinya. Saya sudah punya rencana hebat. Saya sudah menyiapkannya dengan matang. Walau ini membutuhkan waktu dan siksaan yang lama. Menjadi sesuatu yang kejam untuk dirinya, dan saya. Saya punya alasan.. saya hanya ingin berhati-hati dengan ekspektasi terlalu tinggi. Sendiri. Tidak menjamin kamu memiliki teman. Punya kekasih. Atau keluarga. Bisa saja kamu malah tak bisa membagi apa yang menggelisahkanmu saat ini. Belum tentu mereka bisa memahaminya. Sendiri. Mungkin hanya kamu yang bisa mengatasinya. Saya mengoreksi. Saya egois. Ada yang salah dalam diri saya. Geliat yang tak terkendali Saya hanya mau berurusan dengan kepentingan. Jika kepentingan menghilang. Maka saya akan kembali menjadi egois. Saya memang brengsek! Tapi. Mengapa masih saja ada orang yang ingin menguliti cara hidup saya ini dengan tidak elegan? Apa sih yang perlu dihayati dari sosok sampah seperti saya ini? Yang berserakan di sini hanyalah omong kosong. Sedikit pernah hidup dengan riuh tepuk tangan, tatapan kekaguman dan sikap mendewakan. Saya muak! Saya hanya ingin menjadi seseorang yang tak pernah tampak di mata orang lain. Saya ingin keberadaan saya tak perlu diperhatikan oleh orang lain. Saya ingin terlupakan. Terbuang. Terabaikan. Dini hari itu bukanlah insomnia. Tapi semacam alarm Tuhan untuk saya. Saya mengiba, mempertanyakannya kepada Tuhan. Dan melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan hamba kepada Padukanya. Tapi Tuhan tak menjawab. Mungkin masih ingin mengulur-ngulur jawaban itu untuk saya. Pagi itu. Saya memutuskan untuk berkeliling. Bersepeda. Menjelajahi kota ini. Saya jadi ingat satu kejadian di pertengahan tahun 2007. Keadaan yang nyaris sama saat saya kehabisan nafas kehilangan pegangan. Saya melarikan diri ke sebuah pulau. Saya mengumumkan kepada teman-teman bahwa saya terdampar di pulau itu. Tak ada kegiatan penting yang saya lakukan di sana. Setiap sore di pulau itu, hanya menikmati matahari terbenam di dermaga sendirian. Merasakan gelombang-gelombang air laut di bawahnya. Nelayan dan beberapa orang yang memancing di sana melihat saya dengan tatapan aneh. Tapi. Selama mereka tak mengganggu rutinitas ini. Saya tak peduli. Paginya pun saya bersepeda. Mengambil rute yang tak terlalu jauh di sekitar pulau itu. Saya tak ingin membuat ini semakin ruwet. Dan pagi itu. Saya melakukan hal yang sama. Berkeliling di jalan- jalan aman yang saya tahu. Karena cukuplah pikiran ini yang tersesat. Saya tak ingin tersesat dalam kondisi nyata. Masih pagi. Saya mengayuh melewati pusat perbelanjaan. Tak terlalu banyak aktivitas mencolok. Ada penjual nasi pecel yang mulai menyiapkan dagangannya. Satu dua gereja yang nampak ramai oleh jema’atnya untuk mengikuti kegiatan kerohanian. Orang-orang jogging, berjalan-jalan dengan anjing peliharaan mereka. Terlihat ada juga yang duduk-duduk di warung menikmati kopi pagi. Atau bersepeda seperti saya. Di kota ini sepertinya sudah ada komunitas pecinta sepeda. Saya lihat dari kostum kuning oranye yang mereka kenakan. Namanya OCC, kalau tidak salah singkatannya adalah Orzy Cycling Club. Entah. Saya tak terlalu yakin dengan huruf O-nya . Sepeda saya pun mengarah ke jalan Kilisuci, lalu belok ke pasar pahing yang cukup ramai. Dan kembali melewati Sri Ratu. Saya teruskan ke arah Imam Bonjol. Ada hal yang cukup menghibur ketika melewati jalan ini. Sebelum perempatan di sebelah kiri jalan. Ada banner dengan tulisan yanng cukup menggelikan : ”Pengobatan Tradisional Alat Vital oleh Mak Iyot asal Banten” . Oh.. Goaaaaaaat! Saya ingin tertawa sekeras-kerasnya! Kayuhan saya berlanjut ke jalan A. Yani. Di sebelah kiri jalan ini ada warung bakso yang setahun lalu pernah saya kunjungi bersama Om dan Tante selepas bepergian dari Blitar. Sebenarnya ada yang saya cari di dekat situ. Menemukannya. Tapi saya hanya meliriknya sebentar. Saya meneruskan perjalanan ke jalan Joyoboyo. Yang mana, lagi-lagi warung pecel di sebelah kiri jalan itu pernah saya nikmati pagi-pagi bersama Om dan Tante. Saya bergerak ke arah ladang tebu, dan disebelahnya berdiri megah bangunan-bangunan perusahaan rokok yang mendominasi di kota ini. Gudang Garam. Aroma tembakau menguar dari balik gedung-gedung itu. Saya suka wangi tembakau. Tapi menjadi kebalikan. Ketika ia dibakar dengan sengaja. Saya benci. Sungguh benci! Di sini terdapat rumah pribadi pemilik perusahaan rokok tersebut, konon di dalamnya terdapat satu kawasan khusus untuk penangkaran hewan-hewan peliharaan. Semacam kebun binatang lah. Tapi saya tak tahu pasti. Di depannya saja sudah banyak sekuriti yang berjaga. Sepertinya keberadaan rumah itu masih jauh di dalam. Karena halamannya begitu luas, tak bisa terlihat dari luar. Di antara bangunan-bangunan itu. Terdapat satu bangunan megah bernama Sasna Kridha Surya Kencana. Gedung ini biasanya digunakan untuk perhelatan besar, seperti pernikahan dari keluarga pemilik perusahaan rokok ini dan acara-acara lainnya. Malah di depan gedung itu, terdapat pangkalan helikopter. Pernah dengar sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan ini di tahun 2008 tidak? Tak usah dijelaskan ya. Pemandangan yang menarik juga. Ketika melihat seorang nenek renta di pinggir jalan sepanjang kawasan bangunan ini, sedang asyik menikmati tabung nikotin di bibirnya. Sepertinya. Beliau tidak terlalu ambil pusing. Usianya mungkin renta. Tinggal menunggu panggilan Yang Maha Kuasa. Jadi, beliau tidak perlu berkonsultasi dengan Mak Iyot akibat dari apa yang ia hisap. Tidaklah ada sesuatu yang hebat yang perlu tangkap dari tulisan ini. Tidak berarti. Tidak menginspirasi. Tak akan mengubah dunia. Saya hanya berusaha jujur kepada diri saya sendiri. Tiap-tiap dari kita pasti ingin mencari pembenaran-pembenaran dari apa yang terjadi. Entah dengan cara Tuhan. Atau pun non-Tuhan. Lihatlah. Betapa mudahnya memberi terapi kepada orang lain. Tapi memberi terapi untuk diri sendiri.. .susahnya tak terbayangkan. Penyesalan yang tak berkesudahan. Kekecewaan yang mustahil ada kesembuhan. Saya ingin mencoba mengobatinya sendiri. Saya. Tetaplah akan menjadi saya. Seseorang di sudut sana yang masih perlu tuntunan. #Tere~ Sendiri Saya suka lagu ini. Saking sukanya saya pernah menuliskan liriknya di diari ketika berusia 15 tahun. Beberapa hari yang lalu. Om memutar lagu ini lagi tanpa sengaja. Beliau memang suka dengan lagu-lagu lama. Saya kembali teringat saja. Di hari ini. Tuhan memutuskan untuk menghukum saya. Menghilangkan apa yang pernah saya milliki. Tak apa. Apa sih yang kekal di sini? Saya memilih Tuhan menghukum saya di sini. Daripada menghukum saya di akhirat nanti. Apa? Saya membicarakan akhirat? Yang pasti. Sehina apapun saya. Saya tak ingin keimanan saya terambil. Catatan Setahun Lalu. 120411

Sunday, April 1, 2012

APRIL MOP, Everyone..

Tadi sore mendapat pesan singkat dari sahabat saya, yang isinya : “Din.. inget 5 taon yang lalu g? Pas niha’ie?” Dan saya balas : ”Inget lah!! Inget banget!! Tuh si tia nulis di di fb [Grup : Sanvalery Ngumpul] gini : 'Inget kejadian 1April2006 Laila Nu'mani b'guncang.. Wkwkwkwkwk..'

Bagaimana saya bisa lupa kejadian di tanggal yang sama dengan hari ini pada 5 tahun silam? Kejadian lucu yang bikin heboh angkatan saya. Hahahaha...

Cerita lengkapnya, saya juga separo inget separo lupa. Karena saya memang nggak termasuk tim panitia pencetus ide gila tersebut. Jika mau lengkapnya. Silahkan hubungi dua orang di atas tadi. Jadi jika tulisan ini tidak sesuai, saya mohon maaf. Tapi mungkin kurang lebihnya begini :

Sahabat saya, Susanti Apriana yang biasa kami panggil dengan Ncai.berulang tahun di hari itu. Tanggal 1 April 2006. tahun terakhir kami mengenyam pendidikan di sana. Sebelum hari H, kira-kira dua hari sebelumnya. Sahabat saya ini pun menyebarkan undangan perayaan ulang tahunnya. Kertas undangannya tak istimewa. Hanya berupa kertas HVS berwarna yang diprint. Dan yang membantunya menjalankan misi dodol ini adalah Tia. Sahabat saya itu juga termasuk dedengkotnya!! Di situ tertera acara ulang tahunnya akan dirayakan di gedung Aisyah lantai 2 jam 1 siang.

Maka siangnya tepat di hari itu, berbondong-bondonglah rekan Sanvalery menuju TKP. Beberapa orang, entah banyak atau tidak. Sudah mempersiapkan segala sesuatu berupa hadiah, kado dan semacamnya. Mereka begitu bersemangat untuk menghadiri acara ulang tahun sahabat saya tersebut. Dan menurut saya, itu perayaan ulang tahun paling heboh yang pernah saya tahu. Karena, jarang- jarang ada teman se-angkatan yang secara sengaja dan ikhlas merayakan ulang tahun hingga mengundang teman-teman satu angkatan yang jumlahnya 156 orang. Saya, pada saat itu juga ada di TKP. Dan sempat terkecoh juga! Walopun tidak seheboh teman-teman lain yang membawa hadiah atau kado.

Dua jam sebelum acara tersebut. Saya dengar Santi memang sedang dikunjungi keluarganya. Jadi, teman-teman sudah mengira mereka akan mendapatkan hidangan-hidangan sebagaimana perayaan ulang tahun seperti biasanya. Tapi, cukup lama saya dan teman-teman menunggu di gedung itu. Sepertinya tak ada tanda-tanda kemunculan Santi. Kami menunggu. Dan terus menunggu Karena sudah tak sabar, dan sorenya kami wajib mengikuti kegiatan pengarahan di pondok putra. Kami pun kembali ke rayon Lani –Laila Nu’mani (tapi, saya tidak satu rayon khusus dengan teman-teman Niha’ie.

Saya ditempatkan bersama adik-adik kelas di rayon berbeda). Kesal. Dan campur rasa penasaran menjadi topik obrolan kami selama perjalanan ke Lani. Mungkin kami ingin sekali meminta penjelasan kepada Santi mengapa dia bisa begitu teganya membuat kami menunggu lama di sana. Kami merasa ada yang tidak beres dengan hal ini. Curiga karena ruangan di tempat kami menunggu tadi, tak ada atribut-atribut atau pernak-pernik yang dipersiapkan untuk perayaan ulang tahun.

Sesampainya di Lani. Ternyata Santi sudah diarak dari kamar mandi. Tubuh beserta pakaiannya basah kuyup karena didorong paksa ke tempat becek. Dia pun dibantai habis-habisan di depan rayon. Semua anak ternyata sudah menyadari bahwa mereka telah ditipu mentah-mentah oleh Santi. Mereka pun memaki. Mengeluarkan semua kekesalannya kepada Santi gara-gara ide jahilnya tersebut. Santi tertawa. Dan dia mengatakan, ini memang hari ulang tahunnya.

Tapi. Hari ini juga adalah perayaan April Mop. Hari usil sedunia. Dia memang sengaja melakukan penipuan ini untuk mengusili kami Kami yang satu angkatan! Arghhhh.............!!! KAMI DITIPUUUUUUU....!!! >,<

ayangkaaaaan?!! Satu melawan seratus lima puluh enam orang!!! Eh, enggak denk. Ada satu kunyuk lagi yang turut membantu mensukseskan tindakan kriminal ini. Hehehehe... SiTioooo Asgujaaaaa...! Tapi. Idenya briliaaaaaan kook! Salut deh! Saya aja yang biangnya, kena tipu juga!

Beuuuuhhhh….. hahahaha :D

Sayang sekali. Sahabat saya yang lain. Si Yayah. Tidak ada di TKP saat itu. Padahal dia berulang tahun di hari yang sama dengan Santi –Ncai Marucai Hai Hai.

Met ultah Cai. Met ultah Yah. Met ultah Tio. *nyusul ceritanyah Hehehe..

For more view comments of my note, you can click this.

Thursday, March 29, 2012

#14 curhatsession : Sapa Skripsi. Haloooo.. Kamu apa kabar?

Sebenarnya sudah beberapa waktu terakhir ini, saya ingin sekali meninggalkan dunia kebiadaban fesbuk. Pindah nongkrong ke situs social network yang lain. Tapi, ada fitur di fesbuk ini yang membuat saya enggan mewujudkan niat untuk berganti “buku wajah”.

Fitur apa? Foto-foto? Nggak! Bukan itu. Iya sih, saya memang punya prinsip GSK, Gerakan Sadar Kamera dengan motto setel gaya di mana aja. Tapi, saya juga sadar diri. Saya suka privasi. Jadi, saya yang nggak goblok ngaplot foto private supaya dibilang apa’an gitu. Emang pengen dibilang apa’aaaan coba?? Nggak tauuuk dehh...

Yang bikin saya masih berat buat pindah status kenegaraan akun, gara-gara fesbuk ini punya fitur bikin catetannya itu loooh... penyakit saya kalo uda bikin status yang kayak ular naga panjangnya bisa nggak cukup kalo disediainnya cuman 160 karakter. Yasuuudd..saya bisanya cuman nulis di note. Curhat di note. Kalo blog mah, jarang saya tengok. Yang punya aja males?!! gimana penontonnya? ya nggak? Nggak. Iya deh ya..

Lagian di fesbuk uda kebanyakan fans-fans setia saya. Jadi mereka pasti banyak yang patah hati kalo saya pergi.Hakhakhakhakhakhakhak ...

Jadi, kemaren saya baru nyapa si skripsi di lapty.

Aku : ”Helooooow..skripsi!”

Dia : ”Helooo...juga..”

Aku : ”Kamu apa kabar?”

Dia : ”Kabar buruk! Kamu kok belom kelar-kelar sih garap aku?”

Aku : ”Heh??! Garap?!! Garap sawah maksutnyah?”

Dia : ”Eh, ni anak nggak gaol banget sik! Saya walo isinya kebanyakan kamus bahasa dunia planet, tapi saya ngertilah bahasa gaoll..”

Aku : ”Hahhaay...! Iya deh...iya! Kamu emang keren..gawuuul abeeezh!”

Dia : ”Ayo! Jadi kapan nih kamu nyelesein aku?”

Aku : ”He.he.he *nyengir marmut biar imut. Masih males nihh si akuu...huhuhu”

Dia : ”Kalo gitu kapan lulusnya? Kapan wisudanya? Kapan sarjananya?? Kapan dapet ijazah?? Kapan kerjanya? Kapan dilamarnya? Kapan nikahnyaaaa?!!”

Aku : ”Ehh...eittsss! ini obrolan nggak sehat nih! Udahan ah! Udah...Stop!”

Dan cukup di situ saja lah perbincangan singkat saya sama si skripsi. Hehehe..

Iya sih. Sebenarnya saya emang punya target akhir Maret ini mau nyelesein revisi Bab 1. Setelah KKN kelar, saya emang ogah-ogahan nyentuh file ini lagi. jangankan nyentuh. Ngintip. Nengokin. Ngecek uda sebesar apa perkembangannya (emang hewan peliharaan apah??) saya malessss bangeeet!!! Revisinya emang nggak banyak-banyak banget, tapi yaaa gituuu... apalah mau dikata, kenapa lagi... kita memang tak pernah satuuuuu...huwooo.. *lah..ini kok malah nyanyi lagunya kahitna!!

Apalagi kemaren ada kabar duka. Mbah saya meninggal Senin pagi seminggu yang lalu. (Allahummaghfirlahu..amien ya Ghaffar). Otomatis saya mesti pulang. Catatan revisi proposal beserta file soft copinya saya bawa juga. Tapi, ya namanya lagi berduka kan ya…jadi ya nggak saya revisi-revisi juga. Nggak sempet. Saya paling cuman cari bahan-bahan buat persiapan bab 2. Nah itu dia…bahan-bahan referensi saya ini susahnya Masya Allah! Karna apa yang saya teliti cukup baru lah..jarang-jarang orang mau ngebahas tentang hal ini eksklusif dalam satu buku khusus.

Beraninya cuman di artikel-artikel ato jurnal gitu. Kalo pun ada buku, kemaren saya dikasih temen 2 folder dalam bentuk digital. Tapi, itu semuanya pake bahasa Inggris loh. Semuanyaaaaaaah.....!

Haiyaaahh..gimana nggak tambah desperate tuuh saya?? Saya pun usaha-usaha lagi. Nyari-nyari di internet. Kali aja ada yang nyempil maen petak umpet trus nggak keliatan sama saya mungkin. Walo masih nggak ada gambaran mau ngerevisi gimana.

Dan. Akhirnya. Ketemu!! Fuuh senengnya! Alhamdulillah. Saya pun balik lagi ke Surabaya. Tapi, gara-gara kehujanan. Semua print out proposal saya lumer tintanya. Asli basah kena ujan! Untungnya masih bisa kebaca, walo keadaannya sangat menggenaskan gitu.

Keesokan harinya. Mulailah saya bergerilya ngerevisi bab 1 itu. Ngoprek-ngoprek kalimatnya. Sedikit ngerubah judul aslinya sesuai petunjuk dosen penguji proposal saya itu. Nambahin ini itu. Ternyata nggak serumit yang kita bayangkan sebelumnya loh..hehe Saya nya aja yang males. Ngeliatnya susah-susah aja gitu. Ya karena belom ngerjain mungkin yah?

Besoknya saya ngajuin hasil revisian itu ke dosen pembimbing. Berangkat bareng temen senasib seperjuangan, Uul Hutfiyati ke rumah dosen tersebut. FYI, dosen pembimbing skripsi saya ini dulunya juga dosen pembimbing skripsi ibu saya loh..hehe :D

Jadi pas bulan Januari lalu, waktu ujian proposal si Bapak ketawa pas saya bilangin gitu. Hehehe...dosa turunan! Upss...dosen turunan ceritanyaah.. :D

Kita berdua uda baca-baca mantra sebelumnya. Deg-degan takut ditolak. Persiapan senam jantung kalo harus revisi lagi misalnya. Apalagi temen saya, dia itu agak trauma gara-gara ujian proposalnya yang kemaren dibantai habis-habisan. Tapi untunglah. Ternyata benar kata ibu saya. Bapak dosen ini baik kok. Ngejelasin ini itu sama kami. Eh malah nawarin metode analisis yang lain. Kami pun agak belingsatan. Karena kami emang belum pernah mempelajari (apalagi mencoba!) teknik analisis yang Bapak maksudkan itu. Maka, pulanglah kami dengan separo kelegaan karena coretan-coretannya nggak fatal-fatal banget lah. Bapaknya juga pesen ke kami berdua. Kalo mau balik ke sana, usahakan semua bab sudah selesai dan nyerainnya dalam bentuk file aja biar enak revisinya gausa corat-coret gitu. Duhh..itu bulan apa ya kira-kira kelarnya??

Dan separonya lagi, mikirin teknik analisis baru itu. Lumayan muyeng juga deh..

Ups! Tambahan lagi! My Playlist repeating back over and over and over again….buat nemenin saya sama si skripsi cantik kolaborasi di lapty. Hehehe..

1. Sepanjang Jalan Kenangan, penyanyinya? lupa nggak tanya mama.hehe ~ “Hujan yang rintik rintik..di awal bulan ituuu…menambah nikmatnya malam syahdu!” Hahhay!

2. Temani Masa Tua, ini juga nggak tau penyanyinya sapa. Ini agak metal kayaknya deh! Tumbenan juga suka melayu-melayu. Lagian rada mirip grow old with you-nya Adam Sandler lohh..Yaudinlah..yang penting enak didenger! ~ ”Selalu temani masa tuaakuuu...” huhu..

3. Trouble – Coldplay ~ “I never meant to cause you trouble..”

4. Dee – Simply ~ Simpel bangeeeet kayak hidupku! Yihaaaaay…

5. Dee – Curhat Buat Sahabat ~ “Menanti seorang yang biasa saja. Segelas air di tangannya, kala kuterbaring… sakit. Yang sudi dekat, mendekap tanganku Mencari teduhnya dalam mataku. Dan berbisik : 'Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku..' Woooo...Loveee….Loveee diz sooooong! :)

6. Far East Movement ft Ryan Tedder – Rocketeer~ “Here we gooo..come with meee..”

7. Maliq N D’essentials –Untitled ~ “Salahkah ku bila, kau yang slalu ada di hatiku…” Haduuuh boo….ini okee beraaaatss..Lembut banget musiknya!

8. Eric Clapton – Tears in Heaven ~ so pathetic deh…

9. Kahitna – Menikahimu ~“Menikah denganku..menempatkan cinta..melintasi perjalanan usia..” *gyahahahahaha..busyeeeeeettt!

SEKIAN! :)

Catetan Setahun Lalu-30 Maret 2011

Saturday, February 4, 2012

#10 curhatsession: Tentang Hari Ketujuh

Perasaan yang campur aduk. Begitu mudahnya membumi..Begitu gampangnya melangit. Pagi, pada satu hari sebelumnya. Melihat rupa-rupa lukisan alam yang luar biasa. Tak henti-hentinya hati berdecak bahagia.

Sebenarnya, saya bukanlah perempuan penakut. Sekali lagi. Saya selalu berusaha merasionalkan apa yang perlu ditakutkan. Dan apa yang tidak penting untuk saya takutkan. Ini sudah cukup mendarah dalam diri saya. Saya pun percaya, bahwa tidak hanya makhluk bernama "manusia" yang bernyawa di dunia ini. Maka dari itu. Saya percaya: mereka ada.

Namun, ketika keresahan ini berujung dengan nyawa. Keberlangsungan hidup saya atau -kami. Suasana mencekam ini mampu mempengaruhi pertahanan saya juga. Saya tidak dapat menyebut bahwa saya tidak takut lagi. Sayang sekali kali ini, saya bukanlah wanita pemberani.

Saya atau -kami, mungkin mengakui. Kami memang hanyalah manusia muda yang belum matang dalam mengendalikan keinginan, harapan, emosi dan semacamnya untuk diwujudkan di tempat asing ini. Kami kurang menjaga sikap terhadap siapa atau apa yang lebih berkuasa di tempat asing ini.

Tak apalah, saya anggap ini adalah pembelajaran yang berharga bagi kami agar lebih berhati-hati. Dan satu hari setelahnya. Saya ingin sekali menertawakan diri saya. Betapa rapuhnya saya jika menghadapi hal-hal remeh lainnya.

Tapi saya belum sempat menangis.
Tuhan.. Lindungi saya.. Beri kami kesempatan.

Tulisan Setahun Lalu