Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Monday, February 6, 2012

5:32 AM - No comments

Tips Agar Wanita Sukses Jadi 'Menteri' dalam Rumah Tangga

Jumat, 16/12/ 2011 18:41 WIB wolipop - Jakarta, Peran ibu dalam rumah tangga kini bukan sekedar mengurus rumah, anak atau suami. Selain ikut mencari nafkah wanita juga berperan penting dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan keluarga. Bahkan menurut riset mengenai wanita Indonesia yang dilansir 20first, di zaman modern ini wanitalah yang lebih banyak menentukan keputusan. Misalnya memutuskan membeli mobil tipe apa, atau tinggal di daerah mana. "Wanita kini tak hanya memikirkan urusan belanja, tapi bisa semuanya. Mungkin karena semakin banyak wanita yang bekerja, punya penghasilan sehingga lebih bisa menyuarakan pendapatnya,"ujar psikolog Alexander Sriewijono saat talkshow 'Superwoman Rocks!' yang diadakan Sequislife di Largo Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (15/ 12/2011). Jika diibaratkan, wanita saat ini bisa berperan sebagai menteri dalam rumah tangga. Dia bisa berlaku sebagai menteri keuangan, menteri pemberdayaan aparatur negara, menteri agama hingga menteri dalam negeri. Bagaimana istilah menteri ini bisa melekat di diri seorang ibu dan apa yang bisa dilakukan wanita agar bisa jadi menteri yang sukses menjalankan 'roda pemerintahan' rumah tangganya? Alex berbagi tipsnya untuk Anda. 1. Bahagia dengan Apa yang Dia Lakukan Alex mengibaratkan wanita yang bisa menjadi menteri rumah tangga haruslah wanita tangguh. Dalam konteks ini, tangguh bukan hanya memiliki jabatan tinggi atau serba bisa. Tapi mampu menggunakan apa yg mereka miliki dan lakukan sehari- hari, sehingga dia merasa bahagia dengan kehidupannya. Dia bisa jadi inspirasi yang baik bagi anak, dengan segala kebisaannya. 2. Tahu Diri Sendiri Saya wanita yang seperti apa? Bisa apa? Apa yang saya inginkan? Wanita yang mampu menjawab semua pertanyaan itu, bisa dikatakan wanita tangguh. Bukan hanya menyebut sebagai wanita karier, seorang ibu dan seorang istri. Tapi apa yang bisa dilakukan agar menjadi seperti itu. 3. Memahami Perannya Tanyakan pada diri sendiri, apa peran dan tanggung jawab Anda dalam keluarga? Serta apa tujuan yang ingin Anda raih? Bukan sekadar berpikir; 'saya punya suami berarti saya adalah istri' atau 'saya punya anak, berarti saya disebut ibu'. Jika begitu, maka yang Anda pentingkah hanyalah status. Sementara seorang menteri dalam rumah tangga harus tahu ingin menjadi istri atau ibu yang seperti apa. "Seberapa mampu dia menjalankan peran dengan baik? Wanita tangguh harus punya keputusan yang seimbang antara pikiran dan perasaan," jelas Alex. 4. Bertanggung Jawab dan Paham Terhadap Keputusan yang Diambilnya Ketika wanita memutuskan berhenti dari pekerjaannya atas permintaan suami, apakah lantas dia bukan wanita tangguh? Jawabannya, belum tentu. Jika dia menurutinya dengan sukarela dan menjalankan semua pekerjaan dengan baik, predikat wanita tangguh pun pantas disematkan padanya. "Wanita tangguh bukan sekadar melakukan banyak hal, tapi tahu alasan di belakang setiap tindakannya. Hanya sibuk tapi tidak dapat makna hidup, itu yang salah," urai Alex lagi. 5. Bisa Membedakan Antara Keinginan dan Kebutuhan Keinginan adalah sesuatu yang dibayangkan untuk memenuhi kepuasan hidup. Sementara kebutuhan, adalah sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup. Menurut Alex, kebanyakan orang tidak mempertanyakan apa yang mereka butuhkan. Ketika ada sesuatu terlintas dalam pikiran, tanyakan kembali pada diri sendiri apakah itu yang benar-benar Anda butuhkan? Jika berpikir untuk melakukan atau membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan, otomatis keinginan akan terpenuhi. "Apa yang terpenting dalam hidup Anda saat ini? Itu yang harus dijawab," tukasnya. Alex mencontohkan, misalnya Anda ingin liburan akhir tahun ke Italia. Pikirkan lagi, apa yang benar-benar Anda butuhkan sampai harus berlibur ke sana? Jika jawabannya agar lebih dekat dengan keluarga, maka apa yang diperlukan agar kebutuhan itu terpenuhi? Maka Anda bisa menyewa apartemen dibandingkan dua kamar hotel terpisah untuk lebih menciptakan kebersamaan. Apa yang diungkapkan di atas hanyalah sebagian contoh. Intinya untuk menjadi wanita tangguh dan menteri dalam rumah tangga, Anda harus bisa mempertanyakan kembali tujuan, peran dan alasan Anda melakukan segala hal dalam hidup. Sumber Wolipop

Wednesday, December 21, 2011

2:24 AM - No comments

Ketika Panik Menghantui Wanita

Ketika atasan meminta Anda menyusun proposal untuk ditawarkan kepada klien penting. Sering kali Anda panik karena hanya punya waktu sehari untuk menyiapkannya. Dan, Anda sendiri yang harus mempresentasikan proposal itu besok pagi di depan sejumlah klien penting. Apa yang terjadi pada Anda, dialami juga oleh banyak wanita bekerja lain. Baru-baru ini, www.anxietypanic .com, salah satu situs penyedia informasi seputar gangguan kecemasan, menyebutkan, tiga dari empat penderita gangguan panik adalah wanita. Menurut Sylvina Savitri, konsultan senior Experd, dibanding pria, wanita memang lebih sering terserang panik. Panik sebenarnya adalah kondisi alami pada setiap orang. Panik dalam kadar ringan yang datang hanya sesekali, adalah hal biasa. Tapi, jika cemas atau panik datang berulang dalam kadar tinggi, sehingga aktivitas kerja Anda terganggu, sebaiknya Anda waspada. Pasalnya, ada kemungkinan, panik Anda sudah menjadi gangguan klinis. Kalau hal itu yang terjadi, Anda bisa mengalami gangguan fisik. Antara lain, mual, tubuh gemetar, pusing, diare, serta konsentrasi dan daya penglihatan menurun. Gangguan panik yang parah bisa berujung pada agoraphobia (fobia berada di tengah banyak orang). Penderita agoraphobia sering takut tanpa alasan jelas, bila dirinya berada di tempat terbuka atau harus keluar dari rumah. Seseorang mengalami kepanikan karena dirinya mempersepsikan sesuatu secara berlebihan. Persepsi berlebihan itu bisa muncul akibat trauma kegagalan di masa lalu. Kepribadian seseorang juga turut menentukan muncul atau tidaknya rasa panik. Mereka yang senang berimajinasi berlebihan, berkepribadian perfeksionis atau berpendirian kaku, biasanya lebih rentan terserang panik. Demikian pula mereka yang selalu ingin memegang kontrol terhadap segala sesuatu. Selain itu, faktor-faktor fisik seperti genetis dan kesehatan fisik ikut berperan. Mereka yang punya riwayat depresi atau panic disorder dalam keluarga memiliki kemungkinan lebih besar mengalami serangan panik. Pada mereka ini, serangan panik bisa muncul tiba-tiba, sekalipun ketika kondisi fisik baru sedikit menurun. Jangan sampai rasa panik menguasai diri Anda, sehingga mengganggu aktivitas, kinerja dan hubungan dengan rekan kerja. (f)