Jumat, 16/12/ 2011 18:41 WIB
wolipop - Jakarta, Peran ibu dalam rumah tangga kini bukan sekedar
mengurus rumah, anak atau suami. Selain ikut mencari nafkah wanita juga berperan penting dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan keluarga.
Bahkan menurut riset mengenai wanita Indonesia yang dilansir 20first, di zaman modern ini wanitalah yang lebih banyak menentukan keputusan. Misalnya memutuskan membeli mobil tipe apa, atau tinggal di daerah mana.
"Wanita kini tak hanya memikirkan urusan belanja, tapi bisa semuanya. Mungkin karena semakin banyak wanita yang bekerja, punya penghasilan sehingga lebih bisa menyuarakan pendapatnya,"ujar psikolog Alexander Sriewijono saat talkshow 'Superwoman Rocks!' yang diadakan Sequislife di Largo Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (15/ 12/2011).
Jika diibaratkan, wanita saat ini bisa berperan sebagai menteri dalam
rumah tangga. Dia bisa berlaku sebagai menteri keuangan, menteri pemberdayaan aparatur negara, menteri agama hingga menteri dalam negeri. Bagaimana istilah menteri ini bisa melekat di diri seorang ibu dan apa yang bisa dilakukan wanita agar bisa
jadi menteri yang sukses menjalankan 'roda pemerintahan'
rumah tangganya? Alex berbagi tipsnya untuk Anda.
1. Bahagia dengan Apa yang Dia Lakukan
Alex mengibaratkan wanita yang bisa menjadi menteri rumah tangga haruslah wanita tangguh. Dalam konteks ini, tangguh bukan hanya memiliki jabatan tinggi atau serba bisa. Tapi mampu menggunakan apa yg mereka miliki dan lakukan sehari-
hari, sehingga dia merasa bahagia dengan kehidupannya. Dia bisa jadi inspirasi yang baik bagi anak, dengan segala kebisaannya.
2. Tahu Diri Sendiri
Saya wanita yang seperti apa? Bisa apa? Apa yang saya inginkan? Wanita yang mampu menjawab semua pertanyaan itu, bisa dikatakan wanita tangguh. Bukan hanya menyebut sebagai wanita karier, seorang ibu dan seorang istri. Tapi apa yang bisa dilakukan agar menjadi seperti itu.
3. Memahami Perannya
Tanyakan pada diri sendiri, apa peran dan tanggung jawab Anda
dalam keluarga? Serta apa tujuan yang ingin Anda raih? Bukan sekadar berpikir; 'saya punya suami berarti saya adalah istri' atau
'saya punya anak, berarti saya disebut ibu'. Jika begitu, maka yang
Anda pentingkah hanyalah status. Sementara seorang menteri dalam rumah tangga harus tahu ingin menjadi istri atau ibu yang seperti apa.
"Seberapa mampu dia menjalankan peran dengan baik? Wanita tangguh harus punya keputusan yang seimbang antara pikiran dan perasaan," jelas Alex.
4. Bertanggung Jawab dan Paham Terhadap Keputusan yang Diambilnya
Ketika wanita memutuskan berhenti dari pekerjaannya atas permintaan suami, apakah lantas dia bukan wanita tangguh? Jawabannya, belum tentu. Jika dia menurutinya dengan sukarela dan menjalankan semua pekerjaan dengan baik, predikat wanita tangguh pun pantas disematkan padanya.
"Wanita tangguh bukan sekadar melakukan banyak hal, tapi tahu alasan di belakang setiap tindakannya. Hanya sibuk tapi tidak dapat makna hidup, itu yang salah," urai Alex lagi.
5. Bisa Membedakan Antara Keinginan dan Kebutuhan
Keinginan adalah sesuatu yang dibayangkan untuk memenuhi
kepuasan hidup. Sementara kebutuhan, adalah sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup. Menurut Alex, kebanyakan orang
tidak mempertanyakan apa yang mereka butuhkan. Ketika ada sesuatu terlintas dalam pikiran, tanyakan kembali pada diri sendiri apakah itu yang benar-benar Anda butuhkan? Jika berpikir untuk melakukan atau membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan, otomatis keinginan akan terpenuhi.
"Apa yang terpenting dalam hidup Anda saat ini? Itu yang harus
dijawab," tukasnya. Alex mencontohkan, misalnya Anda ingin liburan akhir tahun ke Italia. Pikirkan lagi, apa yang benar-benar Anda butuhkan sampai harus berlibur ke sana? Jika jawabannya agar lebih dekat dengan keluarga, maka apa yang diperlukan agar kebutuhan itu terpenuhi? Maka Anda bisa menyewa apartemen dibandingkan dua kamar hotel terpisah untuk lebih menciptakan kebersamaan.
Apa yang diungkapkan di atas hanyalah sebagian contoh. Intinya
untuk menjadi wanita tangguh dan menteri dalam rumah tangga, Anda harus bisa mempertanyakan kembali tujuan, peran dan alasan Anda melakukan segala hal dalam hidup.
Sumber Wolipop
Ketika atasan meminta Anda
menyusun proposal untuk ditawarkan
kepada klien penting. Sering kali Anda
panik karena hanya punya waktu
sehari untuk menyiapkannya. Dan,
Anda sendiri yang harus
mempresentasikan proposal itu besok
pagi di depan sejumlah klien penting.
Apa yang terjadi pada Anda, dialami
juga oleh banyak wanita bekerja lain.
Baru-baru ini, www.anxietypanic .com,
salah satu situs penyedia informasi
seputar gangguan kecemasan,
menyebutkan, tiga dari empat
penderita gangguan panik adalah
wanita. Menurut Sylvina Savitri,
konsultan senior Experd, dibanding
pria, wanita memang lebih sering
terserang panik.
Panik sebenarnya adalah kondisi
alami pada setiap orang. Panik dalam
kadar ringan yang datang hanya
sesekali, adalah hal biasa. Tapi, jika
cemas atau panik datang berulang
dalam kadar tinggi, sehingga aktivitas
kerja Anda terganggu, sebaiknya Anda
waspada. Pasalnya, ada kemungkinan,
panik Anda sudah menjadi gangguan
klinis. Kalau hal itu yang terjadi, Anda
bisa mengalami gangguan fisik. Antara
lain, mual, tubuh gemetar, pusing,
diare, serta konsentrasi dan daya
penglihatan menurun.
Gangguan panik yang parah bisa
berujung pada agoraphobia (fobia
berada di tengah banyak orang).
Penderita agoraphobia sering takut
tanpa alasan jelas, bila dirinya berada
di tempat terbuka atau harus keluar
dari rumah.
Seseorang mengalami kepanikan
karena dirinya mempersepsikan
sesuatu secara berlebihan. Persepsi
berlebihan itu bisa muncul akibat
trauma kegagalan di masa lalu.
Kepribadian seseorang juga turut
menentukan muncul atau tidaknya
rasa panik. Mereka yang senang
berimajinasi berlebihan,
berkepribadian perfeksionis atau
berpendirian kaku, biasanya lebih
rentan terserang panik. Demikian pula
mereka yang selalu ingin memegang
kontrol terhadap segala sesuatu.
Selain itu, faktor-faktor fisik seperti
genetis dan kesehatan fisik ikut
berperan. Mereka yang punya riwayat
depresi atau panic disorder dalam
keluarga memiliki kemungkinan lebih
besar mengalami serangan panik.
Pada mereka ini, serangan panik bisa
muncul tiba-tiba, sekalipun ketika
kondisi fisik baru sedikit menurun.
Jangan sampai rasa panik menguasai
diri Anda, sehingga mengganggu
aktivitas, kinerja dan hubungan
dengan rekan kerja. (f)