Tuesday, July 28, 2020

9:02 AM - No comments

Di Balik 2 Kotak Risol Mayo

Dibalik dua kotak Risoles Mayo
Terdapat tumpukan perkakas kotor yang menunggu untuk dicuciiiii.
Karena jam bangunnya bergeser jam 2an pagi. Akhirnya seharian jadi mengantuuk sangaad. Padahal udah rencana sore tadi setelah pulang kerja, langsung uprek dapur bikin risol mayo yang lumeeerrr enaaak.

Ternyata, sampai rumah cuman bisa bikin adonan kulitnya aja. Udah nggak kuaat, pengen rebahan. Kebetulan ada bahan isian yang belum lengkap, sambil nunggu Ayahnya Mada belanja jadi ketiduran beneran (yang disengaja). Lagian kalau bikin kulit, misal udah mateng dari pan, kulitnya kudu cepet-cepet dikasih isian. Kalau kelamaan, kulitnya bisa lengket dan rusak, jadi gampang robek.

Soal risol mayo, pas awal-awal corona banyak banget yang jualan kuliner frozen online dan dipromoin sama infomalang di tuiter. Nyobain deh, beneran enaaak. Cuman ordernya agak lama karena PO dan juga ketambahan ongkir. Jadi kayak merasa rugi. Trus liat ada resep risol mayo, kok kayak gampiiil yaah. Jadi bertambah "merasa ruginya". Haha.

Nyobain bikin pertama kali, agak frustasi juga. Soalnya yang lama pas bikin adonan kulitnya dan gagal dongs. Kadang tipis, g lentur, rawan robek, tapi kalau didobelin nuang di pannya terlalu tebal. Kalau terlalu tebal, risolnya jadi gendut bangeeet. Agak gimana gitu. Masih belum pas lah di percobaan pertama. Jadi googling lagi, dan dapeeet resep yang cocok. Percobaan kedua mayaaan dapeet lah tekstur kulit risolnya. Yang akhirnya bikin ketagihan bikin, eh maksudnya yang udah icip jadi ketagihan makannya. Kalau pada seneng, kan jadi semangat bikinnya hehe. Untuk tampilannya emang nggak secantik yang dijual orang. Tapi kalau rasanya, haduuuh..puasss bangeeett makan (dan bikinnya). Soalnya bahannya kan udah kita tau sendiri lah, kita pilih dan beli sesuai kualitas dan keinginan kita juga.

Thursday, July 27, 2017

7:37 AM - No comments

Ngerandom

Paling kzl kalau mau bikin postingan baru. Tapi sebelumnya masih ada antrian draft yang belum kelar. Hrrrr. 😂 Hutaaaang.

Dibikin karena ngerasa sekarang ini auranya paling megang banget buat kembali nulis. Anak bayi udah tidur dengan nyenyak setelah kemarin beberapa malam sempet sakit demam. Customer @payungbuku nggak mungkin jam segini mau order atau nagih rekapan. Lagi hujan di luar. Segelas coklat anget. Dan suami yang lagi asik yutupan.

Wuaaah. Nikmaaatnyee yang tak terbantahkan. Hamdanlillah. 🙏

Udah gitu dulu, yes. Post and run *as always 😆 Bubye.

Potoin coklat angetnya dolooo deh.



Eh udah abiiiss. 😂

Tuesday, April 18, 2017

[Review Buku] Buku Super Lengkap Makanan Bayi Sehat Alami



Walau belum sampai tamat bacanya, karena Mada lagi Mpasi, jadi buku ini saja yang diulas, yuk!

Judul : Buku Super Lengkap Makanan Bayi Sehat Alami
Penulis : Wied Harry Apriadji
Penerbit : Pustaka Bunda, Jakarta, 2012
Tebal : 198 halaman

Soal makanan sehat dan lezat, Pak Wied sudah pasti jagonya. Apalagi bayi yang imunnya masih belum sempurna terbentuk dan tidak boleh begitu saja makan makanan yang tercemar pengawet, perasa, pewarna atau pemanis sintetis. Tentu perlu sekali menyajikan makanan sehat dan alami seperti judul buku ini.

Di dalam bukunya, Pak Wied memaparkan soal pentingnya makanan segar kaya nutrisi. Berbagai macam resep dan varian menu sudah tercantum di sini. Bahkan menunya bisa dipakai sampai bayi usia setahun loh. Jadi sangat membantu sekali bagi para Ibu baru yang masih awam dengan dunia Mpasi atau malah dunia memasak (uhuk!). Bahan-bahannya pun mudah, bahkan diberi alternatif bahan jika tidak tersedia. Cara membuat resep-resep dalam buku ini juga terbilang gampang, karena memang untuk makanan bayi metode memasak hanya sekitaran merebus, mengukus, atau menumis sebentar saja. Dan juga metode penyimpanan makanan yang cukup penting. Mungkin yang cukup berat pada peralatannya saja. Seperti hand blender yang disarankan Pak Wied, harganya cukup wow loh.

Selain menu dan resep yang jadi bahasan utama dalam buku ini, ada juga penjelasan soal kemampuan cerna bayi, Traveling Food, panduan pengenalan Mpasi, perlunya menikmati cemilan, panduan pemberian Mpasi, Fingger Food. Bahkan, soal ASI Ekslusif juga tak luput dibahas pada halaman-halaman awal. Mengenai tampilan fisiknya, buku hardcover ini didesain dengan ilustrasi dan layoutnya yang cukup menarik. Sederhana, tapi ada juga informasi tambahan yang berwarna-warni.

Saturday, April 15, 2017

(Super) Mada Persiapan MPASI



Sebentar lagi perjalanan Mada menuju Mpasi. Ibunya deg-degan sih, karena tantangannya naik level lagi setelah menyusui. Apalagi Ibunya punya cita-cita supaya anaknya nanti lebih doyan makanan rumahan yang lebih aman dan semoga selalu konsisten pada makanan yang bergizi seimbang. Ini memang juga jadi tantangan bagi Emaknya supaya makin mahir dalam hal perdapuran. Hahaaaii.

Sejak Mada usia 2 bulanan, sudah mulai cari tahu tentang Mpasi. Ada sedikit sesal, kenapa minta kado lahirannya bukan printilan Mpasi ya? Padahal lebih lumayan (dan lucu) juga. Haha. Ini sih keinginan Emaknya saja.

Dari ina inu soal Mpasi, ternyata ada 3 paham. Pertama penganut WHO. Kedua AIMI. Untuk WHO dan AIMI nyaris sama kok. Dan yang ketiga, yaitu food combining, khusus ini dipelopori Pak Wied Harry. Setelah menimbang-nimbang, dan dari dulu sudah mulai tertarik dengan pola makan terakhir ini. Maka memantapkan hati untuk menerapkan pola fc di awal Mada mengenal makanan dalam hidupnya. Beli buku karangan Pak Wied sejak Mada usoa 4 bulan, dan alhamdulillah dipelajari, dipahami sedikit demi sedikit. Selain nyasar ke forum buibu dan blogger para Emak yang membahas soal per-Mpasian. Tapi, sepertinya juga tidak akan melulu saklek fc terus sih. In sya Allah bakal menyesuaikan juga. Apalagi denger-denger minusnya pola fc ini, bb bayi susah naik dan kabarnya bisa kekurangan zat besi. Ya nggak mau doong laaah.

Teruuus. Metode pemberiannya gimana?BLW apa Spoon Feeding? Emm, disuapin aja deh. Kalau umur segini khawatir kesedak dan belum mahir makannya. Biar hemat waktu juga. Jadi Eboknya bisa ngerjain hal lainnya. Hehe. Tapi, lagi-lagi, in sya Allah bakal nyesuain kok. Kali umur 8-9 bulan, Mada makan cemilan/buah yang dipotong untuk melatih motorik halusnya dan juga kemandiriannya.

Sedangkan dengan persiapan peralatannya, sampai saat ini palingan sedia wadah-wadah penyimpanan dari Tupperware, seperti Petite Square, Ice Tray bertutup buat nyimpen kaldu. Juga ada Turbo Chopper buat menghaluskan makanan. Kalau peralatan masaknya, ya paling menggunakan yang tersedia di dapur aja kali ya. Kayak kukusan, panci, saringan dkk. Memang banyakan peralatan baru karena kami akan menempati rumah kontrakan di Malang. Yeaaay, No LDM anymore! Peralatan makan buat Mada sendiri udah banyak dari kadoan. Tinggal pilih yang cocok dan BPA Free dong pastinya. Tapi ada juga yang ketinggalan belum sempet kebeli. Kayak Slabber tuh. Haha. Mungkin belinya sambil lalu aja lah ya. Kalau awal-awal gini paling makannya masih sekali sehari, itupun porsinya masih sedikit dan bertahap. Eboknya ada wishlist juga sih sebenernya. Hahaha. Kayak botol sendok, fruit feeder buat BLW, mangkok bertutup yang dilengkapi sendok buat traveling.

Lalu, bagaimanan dengan kesiapan bocah bayi yang mau makan ini? Hoho. Sesuai petunjuk WHO, bayi mulai dikenalkan dengan makanan tepat 180 hari setelah kelahirannya. Untuk Mada, jatuh pada tanggal 22 April ini. Kesiapan lain secara fisik, karena ini yang jelas tampak mata ya; mulai doyan kecapan, ingin meraih sesuatu dengan tangannya terutama kalau ada yang sedang makan, yang kemudian dia masukkan tangan/benda tersebut ke dalam mulutnya, digigitin oulak, jadi dibelikanlah teether berbentuk jagung untuk memuaskan hasrat gigit-gigitnya tadi, kadang rewel tengah malam walau sudah puas minu ASI bolak-balik, sudah bisa duduk sendiri dan ini jadi pertimbangan buat menghemat beli kursi makan bayi. Palingan bakal didudukkan di stroller aja, atau dipangku, atau yaa..dia duduk sendiri.

Terakhir. Doa dan menguatkan mental (terutama Eboknya). Karena mungkin harapan dan bermacam persiapan di atas hanyalah sekedar tekad untuk mengajak Mada menjalani salah satu fase penting dalam hidupnya ini dengan cara yang menyenangkan. Kalaupun kenyataannya nanti berbenturan dan ada rintangan, yah semoga bisa menghadapinya dengan kalem, tenang. Ekspektasi boleh tinggi, realita bisa nanti.

Thursday, March 30, 2017

[Review Buku] Matilda-Roald Dahl



Judul Buku : Matilda
Pengarang : Roald Dahl
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 1991
Tebal : 264 halaman

Bersyukur sekali bisa mendapatkan buku Matilda versi cover warna cokelat, yang berbeda dengan cover versi boxset. Karena yang cover cokelat ini lebih lawas dan susah dicari. Meski ilustratornya tetaplah sama, Quentin Blake.

Lebih tahu filmnya dulu malah, ketimbang bukunya. Dua-duanya sama-sama bagus dan memberi kesan.

Sesuai dengan judul dari buku ini, menceritakan gadis kecil bernama Matilda. Anak dari keluarga  Wormwood. Tapi Mr. Wormwood dan istrinya tergolong orang tua yang acuh kepada Matilda, mereka lebih mempedulikan kakak sulungnya yang bernama Michael. Malah orangtuanya  menganggap Matilda sebagai anak yang mengganggu. Padahal Matilda tergolong anak yang sangat pintar. Kenapa bisa dibilang begitu? Pada usia 3 tahun. Matilda sudah bisa membaca. Ia belajar sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Di umurnya yang ke 4, kemampuan membacanya sudah lancar.

Karena orangtuanya tidak mau membelikan Matilda buku, untuk memuaskan dahaga membacanya, ia berkunjung ke perpustakaan umum di desanya. Di sana ia dibantu oleh Mrs. Phelps dalam mendapatkan buku bacaan. Yang awalnya hanyalah buku-buku anak dan ternyata langsung dilahap habis oleh Matilda! Lalu merambah pada buku-buku karangan pengarang besar seperti Charles Dickens, Ernest Hemingway, Jane Austen dan lain-lain.

Di usia yang termasuk terlambat, 5 setengah tahun, Matilda mulai disekolahkan oleh orang tuanya. Mengapa terlambat? Karena anak lain sudah bersekolah sejak umur 5 tahun bahkan kurang. Di sana ia bertemu banyak sekali teman, juga guru wali kelasnya yang cantik bernama Miss Honey. Di hari pertamanya bersekolah, Matilda telah membuat Miss Honey takjub akan kemampuan berhitung dan mengejanya yang melebihi anak-anak lain seusianya. Di sekolah tersebut juga dipimpin oleh Kepala Sekolah yang kejam, bernama Miss Trunchbull. Ia tidak suka pada anak kecil dan sering mengejutkan para muridnya dengan hukuman dan alat penyiksaan yang sangat mengerikan. Tapi bukan Matilda, kalau tidak menggunakan kemampuan rahasianya demi menyelamatkan nasib teman-temannya yang bersekolah di sana, serta seseorang yang waktu demi waktu mulai ia sayangi melebihi kedua orangtuanya sendiri.

Buku ini lucu dan sangat menarik! Dan namanya juga buku anak-anak, tak mungkin kalau tidak aneh dan ajaib. Bagaimana bisa anak sekecil Matilda, mampu mengerjai orangtuanya yang begitu menyebalkan seperti Mr. Wormwood. Apalagi terhadap Miss Trunchbull yang jahat. Tentunya ini hanya khayalan menyenangkan yang ada dalam benak anak-anak ketika mereka sedang mengalami emosi yang negatif. Lalu ditransfer dengan piawai oleh Roald Dahl ke dalam buku ini.

Juga ada kritik untuk orangtua yang ditampilkan oleh Mr. dan Mrs. Wormwood, contohnya tentang kesukaan menonton TV. Makan bersama tetapi tidak di meja makan. Hanya menyediakan makanan cepat saji atau instan untuk anak-anaknya di rumah. Tidak memahami emosi dan kemampuan anak. Meninggalkan anak sendirian di rumah dengan kegiatan yang belum tentu berguna.

Walau banyak sekali ditemukan umpatan dan serapah yang cukup aneh bila didengar. Tapi kalaupun tidak diterjemahkan, sepertinya tidak cukup pantas untuk dibaca anak-anak. Minus kecil ini pun seluruhnya ditutupi dengan endingnya yang sempurna, suka sekali!

Friday, March 24, 2017

5:41 AM - No comments

(Super) Mada Usia 5 Bulan

Ahmada udah usia 5 bulan. Alhamdulillah. Berarti bulan depan mulai Mpasi dong. Haa. Yang dagdigdug malah emboknya nih. :D Jadi di usianya yang udah 5 bulan, ada update terbaru apa nih?

  • Imunisasi DPT 3 dan Polio 2. Alhamdulillah, di puskesmas polionya sudah tersedia.
  • Semingguan setelah imunisasi sempet sakit. Awalnya dari batuk, yang bikin dia muntah byor byor. Baru aja kelar mimik, asi yang diminum keluar banyaaak. Sempet demam. Juga ada pileknya. Mau dibawa ke dokter bareng Ayahnya (rencana ijin cuti kerja dari Malang), tapi entah ya feeling Ibu nyuruh Ayahnya batalin ke sini. Maunya ditangani sendiri dulu. Alhamdulillah, 2-3 harian udah sembuh dan kembali ceria lagi. Penanganannya sederhana aja. Inhalasi. Jemur di pagi hari. Perutnya ditempeli irisan timun. Juga sempet diolesi minyak kayu putih plus kemangi di bagian dada dan perutnya. Sedangkan emboknya, jaga makanan (karena ada gejala mau sakit juga), minum air agak banyakan dari biasanya, wedang lemon madu tiap pagi, tiap makan juga diselipin irisan bawang merah, dan tiap hari minum degan ijo. Alhamdulillah banget. Nggak perlu ngerepotin Ayahnya buat ninggal kerja, hemat biaya ke dokter dan Mada tak perlu kontaminasi dengan obat kimiawi. Yang terakhir itu sebenarnya pengen digalakkan. Paling nggak kalau Mada udah di atas setaun lah. Tapi apakabar imunisasi? Kan juga kimiawi? Haha. Lillaahi ta'alaa deh.
  • Udah belajar ongkong-ongkong. Pas sakit, sempet vakum belajarnya. Tapi abis itu udah gigih lagi belajarnya.
  • Sebelum sakit, Mada dipijet. Supaya nggak pegal-pegal karena belajar ongkong-ongkong itu tadi. Terutama bagian bahu ya. Karena sering dipakein buat menopang tubuhnya. Anak bayi sempet nangis jejeritan pas dipijet di bagian tersebut. Ibunya nggak tegaaaaah.
  • Bisa ngemut jemari kakinya. Kalau dipakein kaos kaki, ganti kaos kakinya yang diemut sambil ditarik-tarik.
  • Di fase oralnya ini, sebenarnya masih wajar aja sih kalo dia doyan ngemut. Khawatirnya paling kalo dia ngemutin benda-benda yang kotor. Fyuuuh.
  • Tiap dipanggil namanya, refleks noleh.
  • Suka geleng-geleng kepala. Biasanya dengan Mbahnya diplesetin jadi gerakan dzikir.
  • Mulai paham kalo ditinggal sendiri di kamar, jadinya langsung nangis. Padahal Emboknya cuman ke kamar mandi atau ke tv ajaaah. Belum masak atau cuci-cuci padahaaaal.
  • Dari ongkong-ongkong di atas, dia sebenarnya juga mulai belajar angkat bokong sampai menjulang dengan tangan nopang tubuhnya, bentuk badannya udah kayak segitiga gitu lah. Haha. Kadangan juga mulai belajar setengah duduk. Posisi duduknya mirip duduk di antara dua sujud. Cuman badan masih belum tegak, dan dia masih bingung nempatin posisi kaki. Kalo udah gini, kadang dia ngguling. Haha. Karena itulah, kami jadi bingung sebenarnya belajar duduk apa merangkak dulu ya? Untuk merayapnya, waduh udah cepet banget. Terutama kalo ada benda yang menarik dan bikin dia penasaran. Pasti udah kayak mau dikejar. Jadi nyeret badannya pake dada, tangan dan kakinya gitu lah.
  • Saking gesitnya, kasur bagian bawah mulai sering diberdayakan buat ditarik takut jatoh. Dan beneran, udah beberapa kali nyungsep. Untung Ayah, Ibu dan om nya sigap.
  • Genggamannya kuat banget. Lengan emboknya pernah dicengkeram sampe merah dan berbekas.
  • Kalo dipakein baju, masya Allah bikin emaknya keringetan! Sukanya kabuuur. Gimana caranya? Banting tubuh sambil geser-geser posisi. Kadang udah kayak nggak sabaran mau tengkurep terus belajar lebih lagi.
  • Sering melongo dan kecap-kecap kalo liat orang makan. Sabar yaa, Nak. Belajar maem in sya Allah bulan depan. Alhamdulillah udah mulai nyicil persiapan Mpasi.

Tuesday, February 28, 2017

[Review Buku] Keluarga Cemara

Ahmada menjadi 'cameo' dalam foto ini :D
Judul Buku : Keluarga Cemara #1
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2013
Tebal : 288 halaman

Acara rutin di televisi yang dulu kita kenal di area 90-an, yang asalnya berasal dari cerita karangan Arswendo Atmowiloto ini. Mengisahkan keluarga dari gadis kecil bernama Cemara yang biasa dipanggil Ara. Keluarga ini terdiri dari; Abah sebagai kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai penarik becak, Ema sang ibu yang membuat Opak untuk dijajakan putri sulungnya, Euis yang kelas 6 SD,  juga Ara sendiri yang baru masuk TK serta Agil si bungsu.

Dahulunya, keluarga ini sangat berkecukupan. Mereka tinggal di Jakarta, hidup dengan rumah yang lengkap dengan perabotannya, mobil dan segala kemewahannya. Pada saat itu, di antara ketiga anaknya, hanya Euis yang sempat merasakan kehidupan serba berada. Sebelum akhirnya mereka ‘jatuh miskin', karena usaha Abah yang ditipu rekannya sendiri. Akhirnya mereka pindah dan tinggal di rumah yang sangat sederhana di desa.

Sekalipun hidup mereka kurang beruntung secara materi, tapi hubungan antar anggota keluarganya erat sekali. Terkadang ada pertengkaran-pertengkaran kecil antar kakak beradik ini, yang membuat Abah perlu turun tangan untuk menyelesaikan. Mereka pun kembali akur dan saling menyayangi. Euis sebagai kakak tertua yang melindungi adik-adiknya dengan caranya sendiri. Ara yang lugu dan polos. Serta Agil, si bungsu peniru yang selalu mengiyakan tiap apa yang diceritakan oleh Ara. Abah sebagai sosok Ayah yang menjadi idola buat anak-anaknya. Ema yang sangat sabar, tak pernah mengeluh pada keadaan, selalu patuh kepada suaminya yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini tak perlu menyesali hal yang telah lalu. Hubungan Ema dan Abah pun terlihat harmonis dalam cerita ini. Suguhan tentang keluarga yang patut diteladani, karena pondasi pertama yang membentuk karakter anak-anak adalah interaksi erat dalam keluarganya.

Dalam mendidik, Abah selalu menjelaskan alasan kepada anak-anaknya jika melarang sesuatu. Abah juga pandai membahagiakan anak-anaknya meski berada dalam keterbatasan, misal membuat puisi di ulang tahun Guru TK Ara, becak yang dijadikan helikopter untuk perayaan karnaval, membuat akuarium dari toples opak.

Buku ini memang telah ditulis lama oleh sang penulis. Tapi nilai-nilai di dalamnya sangat relevan di jaman sekarang. Dimana kejujuran menjadi barang langka. Padahal seperti yang dilakukan Abah dalam mendidik anak-anaknya, kejujuran mulai ditanam dan disemai dari lingkup terkecil yakni keluarga.

Membaca buku ini membuat kita berkali-kali berurai air mata. Bukan hanya karena kemiskinan mereka, tetapi banyak kesempatan dan keberuntungan yang nyaris mereka genggam lalu lenyap begitu saja. Tapi mungkin benar kata sang penulis. Jikalau air mata bisa menjadi simbol kebahagiaan, inilah kisah itu.

Friday, February 24, 2017

5:38 AM - No comments

(Super) Mada Usia 4 Bulan

Tentang Ahmada yang sudah berusia 4 bulan :
  • Udah imunisasi DPT 2. Polio nya dari dinas masih kehabisan katanya. Kemungkinan bakal cari sendiri ke klinik deket rumah. Beratnya ditimbang 6.1 kilo.
  • Mulai digundul dikarenakan ada kerak seperti ketombe di kulit kepalanya. Hal yang wajar terjadi pada bayi sih. Tapi kok gemes aja pengen bersihkan. Dan dengan dicukur lebih gampang bersihkannya loh. Tukang cukurnya tak lain; Mbah dan Ibunya sendiri. Hehe. Mada belum sempet dicukur sebelumnya, karena susah cari tukang cukur buat bayi apalagi anak bayi ini aktifnya warbiyasak. Kami aja nyicilin nyukurnya. Cari waktu malam. Karena kalo siang, jangan harap deh. Itupun hasilnya nggak rapi karena si dedek bayi gerak-gerak terus, terutama pas ngeriknya. Kalo cuman potong kasaran, lebih gampang. Apalagi rambutnya memang cukup lebat. Dan sekarang udah mulai tumbuh kok.
  • Karena udah mahir mengkurep dengan gampilnya. Dia mulai coba-coba nungging dan angkat badannya bagian depan. Gerakannya udah kayak mau push up gitu. Haha.
  • Bisa muter dan mindahin posisi tubuhnya pake kekuatan tangan dan kakinya, juga dengan dada sambil mengkurep. Pernah dapet satu putaran malah. :D
  • Suka narik-narik bajunya. Atau apapun yang bisa dia jangkau.
  • Hobi masukin semua benda ke mulutnya, atau yang ada di dekatnya.
  • Abis masukin ke mulut, selanjutnya jadi Rajanya ngemut tangan deh. Kalau dilarang atau diambil tangannya langsung marah. *anak bayi udah tau marah ye. 
  • Udah mau dipakein topi. Alhamdulillah.
  • Disangka matanya dikasih celak. Padahal sih nggak. Emang bulu matanya si boncil ini lebat dan panjang.
  • Doyan jejeritaaan. Heboooh. Teriak-teriaknya dengan sepenuh hati kayak mau keselek malah. Sampe ngeri aja kalau tetangga depan/sebelah nyangka diapa-apain gitu sama emboknya. Haa. Dan pernah semenit setelah jejeritan, tetiba anteng, pas diliat eh udah bobok nyenyak ternyata! Mungkin saking capek dan ngantuknya.
  • Beberapa kali Mada memang pernah tidur tanpa perlu dimimiki dulu. Seperti kasus di atas. Cukup menggembirakan kalau itu memang tandanya dia bisa mandiri.
  • Kalau main sama guyon, waduh jangan ditanya. Ayahnya paling jago soal ginian. Makanya tiap wiken, aku sebagai sumber ASI-nya jadi nggak laku. :D
  • Menang giveaway berupa buku dongeng Charles Dickens terbitan BIP, dalam rangka Giving Books International Day yang diselenggarakan oleh Toko Buku Binta. Lumayaaan, irit 65 ribu plus ongkirnya dari Jombang. Haha. Alhamdulillah. Rejeki anak bayi.



Tuesday, February 21, 2017

Hubby's Quotes

Kalau ada kutipan suami yang menarik lagi, mungkin akan ada postingan-postingan selanjutnya. :D

Pada suatu siang kami makan bareng di rumah. Iya, karena kami sedang menjalani LDM, tiap kebersamaan menjadi sangat berarti. Termasuk makan bareng. Waktu itu kami makan seperti biasanya, masakan ala rumahan sederhana. Aku masak sayur, lauk seadanya dan sambel bikinan suami. Suami memang tidak repot soal makan, beliau bisa sangat mandiri sekali. Nggak harus ini itu, asal ada nasi dan lauk ya dimakan saja. Kalaupun improvisasi, yaa..bikin-bikin sendiri lah. Contohnya sambel itu.

Sedang asyiknya makan, tiba-tiba beliau nyeletuk; "Hidup itu ya kayak gini, Sayang.Cukup-cukup aja."
Aku bertanya, "Maksudnya?"
Beliau menjawab, kurang lebih seperti ini, "Iya,cukup. Bagi saya, hidup cukup itu kita sudah mampu bantu orang lain. Nggak perlu lauk dan makanan mahal."

Can get the point? ^_^

Untuk urusan bijak-bijakan dalam hidup, suami memang andelannya. Mungkin karena sudah lama merantau apalagi di negeri orang (bahkan benua lain), bertemu banyak orang dengan warna kulit, mata, usia, tingkat pendidikan, jabatan, asuhan kedua orangtua serta kerasnya hidup tlah menempa suami menjadi pribadi yang seperti ini. Mau rekan kerja, rekan biasa, junior atau senior, jujukannya pasti suami. Bahkan keluargaku sendiri juga mulai mempercayainya, selain menyerahkan aku pastinya. :D

Lantas yang kedua ini kami sedang ngobrol di chat, andalan pasangan LDM. Hehe.

Waktu itu suami membagikan lowker menggiurkan yang berada satu kota dengan suami. Ngiler dooong pastinya. Karena lowker ini pernah aku lepas taun lalu, dikarenakan masih hamil. Lalu sekarang? Apa kabar? Suami tentunya tidak setuju. Dan jawabannya bikin terhenyak.

"Saya nggak mau Mada jadi nggak terurus karena urusan nyari duit. Saya lebih kuat lapar daripada anak terbengkalai..."

Uwuuwuuuw. Suami dakuuh. :') Lucky me, having you in my life! :*

Dipotret tunangannya waktu sebelum nikah, perut masih tipis loh :P

Friday, February 3, 2017

6:47 PM - No comments

(Super) Mada Imunisasi DPT 1

Kenapa imunisasi yang ini sampe ditulis? Denger -denger banyak pengalaman horor setelah bayi diimunisasi, terutama DPT ini.

Harusnya, berdasarkan buku Pink (buku pedoman wajib dari Puskesmas buat Ibu dan Anak) Mada perlu diimunisasi DPT di umur 2 bulan mau ke 3 bulan. Gitu yang ku periksa di buku tersebut. Tapi sebelumnya, ketika Mada imunisasi BCG, nakesnya nyaranin supaya datang kembali buat imunisasi DPT kalau dia udah 3 bulan. Mada tepat usia 3 bulan di hari Selasa, sedangkan jadwal DPT adanya hari Jumat. Berarti plus 3 hari doong. Oke lah, kami turuti.

Maka datanglah Ayah-Ibu nya nganterin dia buat diencus sesuai saran nakes tersebut. Dan apakabar kata nakes yang lebih senior dari yang sebelumnya? Beliau negur aku, harusnya Mada diimun sebelum usia 3 bulan, sesuai di buku petunjuk. Hrrrr. Akhirnya Mada dapet posisi tanda ijo deh tiap waktu imunisasi. Karena jaraknya harus sebulan tet kaaan? Huuuuh. Padahal yang BCG itu awal bulan Desember, dan DPT (yang disarankan nakes junior) selanjutnya di ujung akhir Januari.Yasudalaaah. Katanya sih, kotak ijo masih dalam batas aman waktunya. Dadahbabaiii kotak putih.

Mulai siap-siap dienjus deh anak bayi ganteng, yang sebelumnya dia musti ditimbang dulu. Bbnya 5.5 kilo. Abis disuntik, Mada nangis kejer. Langsung deh disumpal mimik dari Ibunya. Nakes senior juga meresepkan obat penurun panas, kalau nanti si bayi demam. Beliau juga menyarankan untuk mengompres bekas suntikan dengan air matang, bukan dengan air hangat. Oke. Setelah dapat obatnya kami pulang.

Sampai di rumah, Mada masih bersikap seperti biasanya. Aktif tingkahnya. Drama dimulai ketika Ayah nya pergi cukur rambut. Mada mulai demam, tapi masih wajar geraknya. Sepulang ayahnya dan mulai siap-siap berangkat Jumatan. Si kecil bayi mulai rewel-wel. Malah nangis nyaris menjerit. Mungkin badannya mulai nggak nyaman karena panas tersebut. Diukur pake termometer suhu badannya 37.8 derajat C. Digendong-gendong lah, ditimang-timang lah, dipeluk-peluk skin to skin untuk menyalurkan panasnya. Dan nggak mau kalau digeletakin di kasur. Itu berlanjut sampe Ayahnya berangkat dan pulang dari Jumatan. Pasti kalau udah ada tanda mau digeletakin, si bayi ini langsung jerit histeris. Digendong pun masih tetep rewel. Ohlaalaaa.

Barulah ketika kami makan siang, bergantian gendong, Mada mulai tenang tapi anteeeeng sekali. Nggak segesit dan secerewet biasanya. Badannya masih panas sih, tapi kami belum ngasih dia obat. Mungkin kalau rewelnya lebih hebat, barulah dikasih obat. Apalagi kalo nanti malam sampe nggak bisa tidur. Mada juga tetap aku susukan, lebih siaga malah. Supaya rewelnya akan haus dan lapar nggak terlalu merisaukan dia. Lantas menjelang siang, sang bocah mulai kembali bawel ngoceh-ngoceh dan ketawa. Ahh..leganya. Malah kami berdua yang tepar setelah bergantian menggendong untuk menenangkannya. Matanya juga mulai awas dan aktif, serta kembali ceria lagi si jagoan kami ini. Alhamdulillah.

Hingga sore dan malam badannya masih tetap panas. Ketika Maghrib juga seperti biasa aku susukan karena itu memang jadwal tidurnya Dan lagi-lagi alhamdulillah Mada mau tidur seperti biasa. Walau kami tetap siap siaga dengan obat dari Puskesmas, kalau nanti Mada bangun, rewel, dan susah tidur. Ternyata tidurnya pun nyenyak sampe keesokannya. Palingan bangun untuk minta mimik saja seperti malam-malam biasanya. Obat penurun panasnya pun masih utuh segelnya, belum sempat kami buka.

Jadi intinya, tetap tenang dan siap siaga menghadapi bayi setelah imunisasi. Kalaupun dia panas, memang hal yang wajar sih. *btw katanya ada imunisasi yang nggak bikin panas ye? Yetapi saya pilih yang dari Pemerintah aja deh yaa. Yang nggak bikin panas, malah musti diinjeksi berkali-kali, kasiaan si kecil* Mungkin memang agak lebih rewel, tapi pastikan dia nyaman. Yah seperti menenangkan dengan cara menggendongnya, memeluknya, serta tetap dapat ASI yang cukup. Syukur-syukur kalau bisa melewatinya tanpa obat penurun panas. Keesokannya Mada malah kami bawa jalan-jalan ke Palapa. Dia enjoy-enjoy aja tuh.






Tuesday, January 24, 2017

11:26 PM - No comments

(super) Mada Usia 3 Bulan

Dari postingan terakhir tentang hamil, langsung loncat ke bayik ini yang sudah berumur 3 bulan. Hahaii. Yaap, si bayik ganteng pas umurnya menginjak 3 bulan tepat tanggal 24.

(super) Mada usia 1 bulan
  • Diberi vaksin hepatitis langsung pasca dilahirkan. Polio seminggu kemudian. Saat itu beratnya 3.38 kg, dari yang awalnya berat lahir 3.2 kg dan sempat susut menjadi 3.1 kg.
  • Sempat kuning setelah lahiran. Tapi karena asi nya kuat, dan juga rutin dijemur, dapet sebulan udah nggak kuning lagi. Dapat saran juga supaya Ibunya konsumsi gula aren. Aku sempet ngemutin sekali aja, abis itu nggak lagi.
  • Kena "merintis" kecil, merah dan berair sekitar usia hampir seminggu. Kata dsa di rs dia dilahirkan, dr. Roosna akibat pemberian bedak bayi, Woooss, yap. Mbahnya suka banget mbedakin biar wangi katanya. Tapi kata dsa nya, bayi sebenarnya nggak perlu diberi bedak. Cukup diwashlap saja, begitu saran beliau. Kami ikuti, tapi rupanya merintisnya nggak sembuh, malah jadi sebadan. Sebagai ortu baru kami khawatir dong. Akhirnya kami bawa ke Klinik Geomedika yang ditangani dr. Rizal. Diberi sabun Lactacyd dan salep yang dioles setelah mandi. Walau dr. Rizal ini RUM, tapi beliau tetap memberikan obat minum juga untuk Mada. Alhamdulillah sembuh. Kulitnya mulus kembali. Di Klinik Geomedika berat Mada 3.5 kg, alhamdulillah asi mulai menunjukkan hasil sedikit demi sedikit.
  • Karena masih dalam tahap penyembuhan bekas luka sc, memandikan Mada hanya dengan dilap saja di sore hari. Haha. Kalau paginya baru deh ditangani Mbahnya untuk dimandikan.
  • Nggak suka begadang. Pernah rewel tengah malem, itupun di malam pertama baru dateng dari rs. Masih penyesuaian kali ya. Malem selanjutnya palingan minta mimik, abis itu bobok nyenyak lagi deh dia.
  • Di awal sempet mimik sufor, ngedot pulak dikarenakan asi sang Ibu belum muncul juga. Untungnya meski pertama kali yang dia kenal adalah dot, tapi ketika aku susui dia nggak melakukan penolakan atau hal menghambat lainnya. Ngenyoot terus. Malah dia gumoh kalo dikasih sufor, setelah rutin mimik asi.  Yasuudalahyaa..lanjut ASI seterusnya. 
  • Untuk mimik nggak mau berdamai dengan kata "tunggu". Bahkan pernah satu hari di mana merasa diri ini seperti "sapi perah" saja. Karena superMada bener-beneeerr super sekali nenennya. Sampe lebayy. Lemess bray! :D
  • Punya tanda lahir di sekitar lutut nya. Emh, mau jadi pesepak bola ta, Nak? Atau mau jadi pejalan seperti Ayah? :)

(super) Mada usia 2 bulan
  • Imunisasi BCG (yang harusnya bulan sebelumnya, berhubungnya emaknya polos jadi baru 1.5 bulan diimun). Beratnya 4.5 kg. Sebenernya sih udah ideal, cuman karena ketemu sama anak bayi yang juga bareng lahirnya, dan si bayi tersebut ternyata beratnya 5 kg. Wow! Iyah, bayi tetangga itu dicekoki asi mix sufor. Baeklaaa.
  • Akhir November, emboknya kena serangan flu plus batuk. Dan iya aja, si bayi ngganteng pun ikut tertular. Emboknya mulai drama deh. Karena nggak tega liat si kecil ikut-ikutan bersin dan uhuk-uhuk. Semua usaha dilakuin, dari mulai inhalasi, jemur si bayi sambil tengkurep, kamar pun diuapin minyak kayu putih, disodorin asi tiap saat. Ini yang bikin lega, walo sakit tapi masih mau mimik. Ada kali semingguan terus sembuh-sembuh sendiri. Tapi di akhir yang seminggu itu, aku berobat ke puskesmas sekalian imunisasi Mada. Alhamdulillah langsung sihat!
  • Diadakan selametan lahiran Mada di rumah. Sekalian sama pengajian Mbahnya juga sih. Aku bikin kertas ucapan selamat kelahirannya pake aplikasi seadanya. Waktunya mefet!
  • Udah mulai nggak pake popok kain lagi, tapi pake celana dong. Etapi Mada sejak newborn emang pakenya itu pospak. Bukan masalah males, tapi emang Emaknya terbatas gerakannya pasca lahiran. Apalagi jauh dari suami. Jadi kita cari mudahnya aja deh ya.
  • Juga udah nggak pake stk. Kenapa? Karena anaknya mulai seneng ngemut tangan. Jadi cuman kakinya aja yang dibungkus kaos kaki.
  • Pernah hari Jumat dan kebetulan ayahnya lagi tugas di Surabaya. Mada reweeelll dari Magrib sampe jam 10 malem! Biasanya dia udah klepek bobok sekitar Magrib atau Isya. Tapi di hari itu nggak. Gendong udah gonta ganti tangan. Mimik kanan kiri. Dinyanyiin. Disalawatin. Dikasih liat video anak-anak di yutup. Nggak berhasil juga. Curiganya sih karena mandinya kemaleman. Iyup, jam 5 sore anak bayi baru dimandikan karena waktu itu nggak ada orang buat dimintai tolong. Ayahnya lagi jemput Mbahnya pulang ngajar sore-sore.
  • Ngerayain anniversary pernikahan pertama barengan bertiga di Gule Cak Mat Sepanjang. Cari yang terdekat dan emang rekomen temen yang terpercaya. Yaah, tapi namanya udah punya anak, nggak bisa nikmatin makanan senikmat-nikmatnya. Pas lagi asyik makan, si bayi gelisah juga kelaparan minta mimik. Sedangkan sang Ibu masih nervous ngeluarin anggota badannya yang paling sakral di depan umum. Haha.
  • Mulai ngoceh dan ketawa-ketawa. Sebenernya waktu umur sebulanan pernah beberapa kali bersuara "aaaooo..aooo". Tapi makin ke sini udah makin cerewet apalagi kalo udah diajak ngobrol dan guyon.
  • Nggak suka dipakein topi. Huah. Padahal udah dicoba buat make, dirayu, tapi tetep nggak mempan. Dia ngerasa nggak nyaman.
  • Juga mulai nggak mau digendong bayi. Terus karena makin besar jadi udah bisa nolak yang nggak dia mau, misal; mimik, gendong bayi, atau diletakkan di kasur karena keenakan di gendong.
  • Sebenernya nggak pengen Mada terus-terusan digendong siih. Tapi berhubung kalo Mada nangis kejer, Mbahnya nggak tega dan akhirnya diambil juga buat digendong.Yah, ibunya hanya bisa menatap tak bisa melarang. Jadinya dia mulai ngerti kalo digendong itu lebih nyaman ketimbang digeletakin di kasur.
  • Suka banget nonton tv (tapi kalo kelamaan jadi bosen). Paling nggak, benda yang bergerak dan bersuara. Pernah jendela kamar kebuka waktu hujan dan sedikit berangin. Mada langsung terpana liat dahan dan daun-daun yang bergoyang-goyang.
  • Masuk 2 bulan ini, Ibunya udah mulai mandikan dia full pagi dan sore. Sepertinya dia nyaman dengan kegiatan mandi, walo itu agak lama. Kenapa? Diajak ngomong sambil nyanyi, ngasih sugesti kalo mandi itu menyenangkan.
  • Mukanya udah bukan muka bayi baru lahiran lagi, yang kemerah-merahan itu, dan ehm, entahlah. Pokoknya udah mulai keliatan jelas muka lucu nan menggemaskan ala bayi. 
  • Paling mirip Ayah apa Ibunya? Entah juga deh. Ada yang bilang mirip emboknya, juga ada yang bilang mirip bapaknya. Yang pasti ada bagian wajah Mada yang mirip aku, juga ada kemiripan dengan Ayahnya. Tapi beberapa orang bilang Mada kayak orang Arab. Haah. Menurut Ebok, dikarenakan keadaan hidungmu, maka kayaknya namamu masih belum pantes untuk dikasih embel-embel "Habib" di depannya, Naak.

(super) Mada usia 3 bulan
  • Imunisasi DPT 1, Polio 2 nya nggak langsung sekaligus di hari itu. Dikarenakan kehabisan stok kata nakesnya. Bb nya ditimbang 5.5 kilo.
  • Mada ikutan kelas Laktasi di RSI Jemursari yang diadakan AIMI Jatim serta promosi klinik Laktasi di rumkit tersebut. Hahaii. Ibunya aja yang telat mendalami info soal asi. Htmnya cuman 10 K saja. Karna waktu itu hari Sabtu dan ayahnya Mada masih kerja, kami berdua ngajakin Mbahnya juga supaya lebih paham dan mendukung dong.
  • Jadwal tidur siangnya sih nggak teratur. Tapi kalo malem udah ketauan. Abis mandi sore-minta mimik-bobok bentar-bangun-ngajak guyon/ngomong/gendong-kadang pake rewel-Magrib/Isya minta mimik-terus bobok nyenyak deh sampe pagi.
  • Mada bebas pospak di siang hari. Yeaayyy. Selain penghematan, supaya Mada juga belajar bahwa basah karena bak dan bab itu nggak enak. Pospak dipake hanya ketika tidur di malam hari dan bepergian saja. Lalu, dipakein apa? Dipakein popok plastik yang bentuknya hampir mirip clodi. Popok plastiknya kulapisi alas ompol lorek-lorek. Lumayan awet 2-3 jam selama dia nggak mengkurep. Tapi kalo mengkurep, 1 jam-an aja udah bocooorr. Maklum bocornya ke depan. Haha. Intensitas ganti sekitar 5-7 kali sampe dia pake pospak di malam hari. Lumayan ribet sih, tapi hematnya ituloh bikin hati terhibur. *udah mental ibuk-ibuk banget laaah*
  • Udah bisa mengkurep. Yaa..waktu umur 2 bulanan emang pernah sekali dua kali dia udah nyoba-nyoba mengkurep. Trus menginjak usia 3 bulan ini, dia udah bisa telungkup dengan gampilnya. Haa. Tapi soal balik lagi, dia nya masih belum bisa. Bayi ini memang udah gesit sejak dari perut. Kadang ketika tidur, juga mulai doyan tengkurep. Ini yang mesti diwaspadai.
  • Bepergian terjauh main ke Pakde dan Budenya aja di Manyar. Maunya liburan akhir taun kemaren mudik ke Pasean, tapi Mbahnya nggak setuju karena Mada dianggap masih terlalu kecil buat diajak pergi jauh.
  • Mall pertama yang disambangi Mada baru Marina aja, belum ke mall lainnya. Haha. Ciyeeh. Anak metropolitan banget. XD
  • Makin bawel sampe teriak histeris kadang. Suka angkat kaki.
  • Bajunya yang ukuran newborn mulai memamerkan pusernya. Haha. Buat ngakalin biar perutnya nggak 'ngampar-ngampar' (bahasa Medunten), dipakein singlet aka kaos dalem deh.
  • Tubuhnya tumbuh ke samping, sampe dijuluki "Si Dabak" (maksudnya bantet) sama sang Mbah. :D



Monday, June 20, 2016

Hamil dan Puasa

Hamil saja, bagiku adalah berkah. Apalagi sambil berpuasa di saat bulan Ramadhan. Supeeerr dupeeerr!

Melewati pertengahan Ramadhan, alhamdulillah hingga saat ini kami berdua (aku dan Dedek mungil) diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini. Baik itu berpuasa, maupun ibadah-ibadah lainnya. Bahkan di hari ke 12 Ramadhan, kami pun mengkhatamkan Al-Quran. Semoga bisa mengkhatamkan lagi, paling tidak 3 kali. Kalau tidak malas-malasan. Hehe.


Karena sempat setelah khatam, dua hari bolos ngaji karena sedang khusyu' menyelesaikan buku bacaan Gone Girl. Btw, sudah dua buku juga loh kami namatin buku bacaan sepanjang Ramadhan ini. Sebelumnya ada The Tales of Beedle The Bard. Untuk bacaan tak ada target sih, hanya untuk selingan. Semampu dan sesempatnya saja.

Hari petama Ramadhan kami sempatkan mengaji di Sunan Ampel. Berangkat setelah Subuh, dan kembali ke rumah menjelang Dhuhur. Suami dapat juz 5, sedangkan aku juz 4. Panasnya ketika pulang, benar-benaaarr bikin cenat cenut. Mana jalanan juga sudah ramai, jadi kecepatan tersendat untuk segera sampai di rumah. Sorenya masih segar, tapi ketika menggoreng tempe sambil berdiri untuk persiapan buka, mulai terasa pusing. Aku memang bermasalah dengan darah rendah, makanya tidak betah jika berdiri lama.

Sekali dua kali, ada juga merasakan perut melilit. Pertama ketika Ashar, dan yang kedua menjelang Dhuhur di hari yang berbeda. Yang terakhir lumayan agak lama. Sampai-sampai hanya duduk saja tak melakukan apa-apa, melihat teman-teman kerja kompak mengeset atlas. Mungkin si Dedek protes karena Ibunya ke sana kemari catat ini itu. Tapi setelah itu, sembuh-sembuh sendiri. Yang paling penting kami masih tetep lanjut puasa. Suami juga khawatir dan menyarankan supaya membatalkan puasa. Untungnya kami masih sehat wal-afiat. Rencananya minggu ini kontrol ke Puskesmas, penasaran juga pengen tahu keadaan si Dedek selama menjalankan puasa bareng.

Untuk aktifitas ataupun bekerja juga berjalan seperti biasa. Bahkan minggu pertama Ramadhan, kami berdua sempat lembur di saat wiken. Diajaklah suami juga untuk menemani.

Asupan makanan menjadi poin penting untuk puasa kali ini. Karena keadaan sudah berbeda, sekarang sudah berbadan dua. Sebisa mungkin sayur buah jadi menu wajib untuk buka dan sahur. Porsi minum juga.

Ada keanehan yang kutangkap untuk Ramadhan kali ini. Aku bukanlah termasuk orang yang doyan dengan kurma. Tapi sejak berpuasa, kurma menjadi idola buatku. Biasanya dulu kalau ada kurma, aku ambil sebutir dua butir saja, itupun kalau ingat dan ingin sekali. Untuk sekarang? Bisa makan lebih dari 5 butir kurma. Aku mencurigai si Dedek mungil yang membuat minatku pada kurma berubah.

Kemarin ketika hari pertama ke Ampel, kami sempat keliling pasar yang menjual aneka baju, tasbih, termasuk makanan-makanan yang berbau Arab. Tak ketinggalan, kurma yang makin hits di kala Ramadhan. Sebelum kami berangkat, Mama memang meminta kami untuk membeli kurma. Berburulah kami di sana. Dari yang harga paling mahal dengan kualitas bagus, hingga kurma curah yang tak menarik minat. Untung suami lumayan paham soal buah satu ini, jadi aku tidak kesulitan untuk memilih kurma yang berkualitas tapi dengan harga terjangkau. Nah, karena berkeliling itulah melihat kurma yang dipajang terutama yang kualitas bagus, lumayan menggugah selera. Sampai-berandai-andai memborong kurma hingga berkilo-kilo terutama yang mulus-mulus mengkilat kecoklatan, terlihat lezzaaat. Kenyataannya, kami hanya membeli dua tray kurma Tunis yang beratnya masing-masing 250 gr. Haha.

Karena Dedek yang doyan sama kurma ini. Aku pun mulai berburu kurma dengan merek sama tapi dengan harga lebih murah. Kebetulan ada supermarket yang mengadakan promo untuk produk kurma, tak terkecuali kurma yang kuincar. Suami pun sangat-sangat mendukung, karena manfaat dan gizi kurma tak diragukan lagi. Bahkan kami juga berencana membawakan oleh-oleh untuk Emak, ibu mertuaku yang juga senang dengan kurma nanti ketika mudik.

Ada saja rejeki yang berhubungan dengan buah favorit Dedek ini, mimggu lalu Pak Bos juga memberikan kami kurma premium seharga lumayan dengan berat 500 gr. Baru kemarin juga aku dapat uang tambahan, yang akan kugunakan untuk membeli stok kurma, paling tidak hingga lebaran nanti.

Kurma jadi perbincangan di kalangan medsos semenjak Ramadhan, terutama teman-temanku yang sedang menyusui dan masih ingin berpuasa. Resep yang beredar adalah susu kurma. Kurma yang sebelumnya direndam, diblender bersama susu. Katanya sih mampu membuat para Busui tidak lemas ketika berpuasa, dan menjaga ketersediaan asi sehingga kegiatan menyusui tetap berjalan lancar.

Makinlah menjadi obsesi dengan kurma. Kemarin malah suami membuatkan kami susu kurma yang disimpan di kulkas. Diminum ketika buka dan sahur, rasanya enaaak, segar. Efeknya memang seharian bikin tidak lemas. Biasanya, Dedek paling senang jedat-jedut di dalam perut, terutama di waktu yang sudah kuhapal, karena mungkin lapar. Tapi setelah minum susu kurma tadi, pergerakannya jadi berkurang dan cenderung anteng malah. Waaah, cocok banget dia sama susu kurma. Haha. Tapi jadi kangen sebenernya sama gerakan-gerakannya yang lucu, karena sudah biasa berisik di waktu Ashar. Kalau Dedek sudah ngulet-ngulet, biasanya aku elus-elus sambil kubisikkan untuk bersabar dulu.

Alhamdulillah, tinggal separuh perjalanan lagi Ramadhan tahun ini. Agak sedih juga sebenarnya. Karena merasa begitu cepat Ramadhan akan meninggalkan kami. Ya Allah, semoga kami serta keluarga kami dilancarkan dan dimampukan untuk menjalankan ibadah-ibadah di Ramadhan-Mu ini dengan khusyu'. Aamiin.



Wednesday, April 20, 2016

Jika Kamu Perempuan, dan Ditanya

Kalau ditanya kapan menjadi seutuhnya seorang Perempuan?

Mungkin lebih terasa di depan mata setelah ada lelaki yang mengucapkan ijab kabul untukku. Menjadi seorang istri, membuatku merasa sebagai perempuan yang utuh.

Lalu proses menyandang gelar istri ini, akan mengantarkan kita pada satu gelar terhormat lainnya. Sebagai seorang Ibu.

Aku tak mendebat, soal kamu masih lajang. Belum mau menikah. Masih banyak hal yang ingin dilakukan. Mau meningkatkan tingkat pendidikan. Mau memperluas kesempatan berkarir. Berbagai pilihan yang dipilih akan selalu dikatakan benar dan patut dihargai. Mungkin ada satu di waktu dulu aku juga lebih memikirkan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti di atas.

Tapi kali ini, berbeda. Tak bisa disimpelkan segampang itu. Karena keputusan haruslah kesepakatan dua orang. Bukan lagi seorang yang sepenuhnya punya kontrol atas dirinya. Keinginan-keinginan pribadi pun akan bergeser menjadi kepentingan dengan lingkup berdua atau malah lebih luas.

Dua gelar tadi bukan sekedar sebutan dari suami atau anak-anak kelak. Tapi akan banyak ibadah dan hal-hal yang perlu diupayakan serta diperjuangkan. Terasa seperti itu.

Maka, di luar dua gelar tersebut apa yang akan dilakukan? Mungkin akan tetap menulis secara random dengan waktu yang juga takkan tentu. Sebagai penyeimbang atau pelengkap dari dua gelar mulia ini. Dan semoga dalam berproses dengan dua gelar ini, akan ditemukan arahnya secara tematis. Karena sudah hampir mendekati kecendrungan yang diminati akhir pekan lalu di Malang.


Setelah Kontrol Kedua

Untuk kontrol kedua ini, aku pergi ke Puskesmas bukan ke dokter kandungan seperti sebelumnya. Karena rencana lahiran nanti mau menggunakan fasilitas BPJS. Jadi mesti runut dari faskesnya toh?

Berkaca pada kontrol pertama, antri kontrol pastilah lama. Apalagi dalam waktu seminggu, di Puskesmas faskesku ini hanya ada jatah dua hari untuk kontrol kehamilan, yakni Rabu dan Kamis. Jadi aku pikir kalau berangkat siangan mungkin lebih sepi antriannya. Ternyata... Bukan tentang antriannya, tapi untuk kontrol hamil prosesnya sangat lama dan memang harus lebih pagi. Beda loh yaa..dengan kontrol hamil di dokter kandungan sebelumnya. Waktunya cuman sebentar, omong-omong sama dokternya, usg, omong-omong lagi, udah kelar. Palingan hanya 15 menitan kali yaa.

Juga karena periksa hamil pertama di Puskesmas, ada program wajib dari Pemerintah yang mengharuskan tes HIV tiap ibu hamil. Entah ini berlaku karena aku baru hamil pertama, atau diwajibkan bagi seluruh ibu hamil baik yang sedang hamil kedua atau seterusnya. Aku lupa tanya. Pokoknya intinya kudu tes darah.

Setelah sebelumnya didata, termasuk kapan terakhir mens, data diri dan suami, sudah berapa lama menikah bla bla. Ditensi (rendah bangeeet, makanya sering pusing dan nggak kuat berdiri lama), ditimbang (BB bulan ini turun 3 kilooo loh!). Ditensi pun sampai dua kali, yang kedua disuruh baring ke kiri untuk tau selisihnya. Tapi tetep sama, tensinya rendah. Hiks.

Selanjutnya dites darah di lab puskemas. Oiyah, sekarang tuh walau namanya puskesmas tapi udah bagus loh pelayanan dan fasilitasnya. Jadi nggak usah ragu buat periksa ke sana yaa. Apa mungkin karena ini di kota besar ya? Tapi semoga ini berlaku untuk semua daerah karena Pemerintah sudah mulai sadar untuk lebih memperhatikan kesehatan masyarakatnya. Aamiin.

Yak, jarum suntik mulai menembus lenganku. Ini juga karena aku nggak tau golongan darahku apa. Atau mungkin pernah tau tapi lupa. Selanjutnya, disuruh tes urin. Emmh..agak gimana itu. Hehe. Puskesmas udah mulai sepi karena mendekati jam istirahat. Nunggu hasil tes, lalu dikasih amplop hasil tesnya oleh petugas lab. Balik lagi ke ruang Ibu dan Anak nyerahin amplop tersebut.

Lanjut ke bagian gigi, buat diperiksa giginya. Cuman disuruh mangap aja. Lalu dibilang giginya bagus, tinggal bersihkan karang giginya nanti setelah melahirkan. Periksa gigi harus 6 bulan sekali. Oke, setelah operasi gigi kemarin jadi males periksa lagi.

Sampai di ruang Ibu dan Anak lagi, dikasih wejangan bla bla. Hasil pemeriksaan kita telah tertulis dalam buku khusus (foto bukunya menyusul), yang wajib kita bawa ke puskesmas tiap kali kontrol. Sebulan lagi kembali ke sana, dan jangan lupa untuk datang lebih pagi.

Dan beneran aku lupa, karena keburu pulang dan emang udah sepi pada istirahat. Lupa nggak ambil resep obatnya. Owalah. Obatnya berupa vitamin asam folat dan penambah darah. Asam folat masih punya sisa bulan kemarin, kalo penambah darah ini nggak ngerti yang aman buat Ibu hamil yang mana.

Friday, April 8, 2016

Tentang Trimester Pertama

Cuman pengen ngedokumentasiin apa-apa yang terjadi selama trimester pertama. Walau mungkin suram, tapi karena pengalaman pertama hamil, pastilah punya kesan tersendiri. Ini nggak terpoin perminggu, melainkan secara acak aja deh. Lupa lupa inget juga kalo mesti dirinci perminggu.

Sejak melihat garis dua minus pada testpack. Mulai lah berancang-ancang ini itu demi bayi dan kehamilan yang sehat. Misaaal, rajin beribadah, olahraga ringan, melakukan aktifitas yang bisa merangsang otak bayi, juga memakan makanan sehat. Tapi benarkah seperti itu? Benarkah sesuai rencana?

Ibadah
Shalat malam dan tilawah di awal baru tahu hamil, dijalankan dengan gigih. Terkadang seperti alarm tubuh yang secara alami terbangun dini hari. Sempat khatam di minggu ke 9. Tapi setelah itu..abu-abu. Bangun pagi terasa tak bertenaga. Bahkan pernah shalat dengan posisi duduk, karena tidak kuat berdiri sempurna. Mengaji pun sempat berhenti, karena tak kuat jika harus bersuara. Mengaji dalam hati rasanya kurang plong. Jadi sempat terhenti beberapa minggu. Yah, padahal hamil menjadi momen tepat untuk lebih dekat kepada Allah. Saat itu yang bisa dilakukan hanya berdoa, supaya keadaannya kembali normal.

Olahraga
Minggu-minggu awal hamil, masih bisa jalan kaki sepanjang gang rumah di pagi hari. Tapi karena lemas, juga pola tidur yang kacau, waktu pun jadi molor. Dan hilanglah hasrat untuk menghirup udara segar di luar. Adanya bersembunyi di kamar. Hanya keluar ketika bekerja saja, berangkat kerja pun seringnya agak telat dari biasanya. Karena memang tak sebebas seperti biasa dalam beraktivitas. Lemaaass sekali. Terkadang ada satu hari pada beberapa minggu, yang ijin tidak masuk kerja.

Aktifitas pendukung
Seperti ngisi-ngisi tts. Tapi itu nggak lama. Karena kurang greget sama males juga. Hahaii.

Makanan sehat
Pas awal emang gigih mau makan sehat. Sempet bikin tumisan bawang putih dan bayam kukus. Memperbanyak asam folat. Lalu kemudian era eneg dimulai, langsung traumaaa makan bayam kukus. Hiyeks. :(

Ngidam
Sempat kepikiran dengan bakdabak. Feuh. Ini sih walo nggak hamil pun pasti mau mau dong yaa. Apa bakdabak? Makanan bertepung yang dicampur ikan terus digoreng. Rasanya gurih dan kenyel-kenyel seru. Biasanya dicocol dengan sambel petis dan tomat. Tidak ditemukan di tempat lain, melainkan hanya di Prenduan sana. Ya, ini jajanan waktu di Pondok dulu. Secara teknis mirip pempek. Tapi walaupun makan pempek pun tak tergantikan loh. Pernah juga nyobain cireng sebagai tombo ganti. Nasibnya sama seperti pempek. Heuu. Akhirnya iseng-iseng cari di Instagram, di dunia serba cyber gini apa sih yang nggak dijual? Haha. Dan ketemu beneran, yes! Lokasinya di Malang, langsung deh ngubungi suami demi tuntasnya kengidaman sang istri. Rupanya yang jual juga masih adek angkatan suami. Alhamdulillah, suami beli adonannya untuk dibawa ke rumah.

Dan hal-hal random terjadi ketika Trimester Pertama Hamil:
  • Pernah mimpi betapa maknyusnya Bubur Kepiting yang dijual salah satu resto di Bali.
  • Mulai sembuh eneg dan nafsu makan di saat suami udah bawakan bakdabak. Sebenernya bukan karena bakdabaknya sih, tapi timingnya emang udah berlalu. Terus juga sempet nyambangi adek yang mondok, kita bawakan makanan buatnya. Aku ikutan ngicipiin. Trus juga nyeruputin es Dawet Jepara. Rasanya segeeer, gula merahnya enaaak banget.
  • Sempet mbliyur dan nyaris pingsan waktu antar Ibu ke pasar.
  • Ngebis ke Malang karena ada panggilan interview. Siap amunisi roti coklat dan susu uht.
  • Mual kalo cium aroma tumisan bawang goreng. Padahal malah suka laper dulu-dulunya kalo udah kecium tumisan bawang goreng.
  • Nggak suka makanan pedas, dan nggak selera sama makanan asin gurih. Padahal kaaan?
  • Doyan baca buku kriminal atau yang agak horor. Ini semacam obat pengalih eneg, selain tidur.
  • Kena sembelit dan muka jerawataaan!
  • Karena eneg dan nggak nafsu makan sekitar sebulanan lebih, bb turun 3 kilo. Uwow!
  • Kepengen makan nasi pecel dengan telur dadar tebel.
  • Nggak lupa juga. Kepikiran sama sayur daun kelor alias "gengan maronggih kella konce", nase' bukbuk, juko' paes atau palappa rojek (ikan laut brengkes atau bumbu rujak) dan sambel petis mix timun tomat. Pokoknya kepingin makan ala Maduraan yang sederhana itu.

Wednesday, March 30, 2016

10 ke 11

Belum membaik banget (seperti normal sebelum hamil), tapi masih selevel di atas minggu kemaren..

Mual? Pastiii.
Lemes? Cencuh sajah!

Tapi kali ini, muntah masih bisa ditanggulangi. Karena adaaa... Jreeng-jreeeeng..



Alhamdulillaaaah, permen ini udah kayak BFF buatku. Tiap mulai mual dan berujung mau muntah (udah hapal banget tanda-tandanya!), langsung ngemutin permen jahe ini. Awalnya nggak kepikiran sampe ke permen. Ku pikir dengan minum jahe anget tiap pagi udah bisa mengatasi. Oke sih, biasanya itu cuman pagi aja efeknya. Nah, gimana kalo siang? Sore? Atau di saat tak terduga? Ujug pengen hoek dan byor tanpa bisa ditunda. Tanpa harus jerang air dulu ditambah jahe, trus nunggu sampe anget baru diminum? Muntahnya nggak bisa dipause kali, mamiiih! Huhuuu.

Maka dicarilah alternatif paling simpel. Jahe emang dipercaya buat ngatasi mual. Jadi apa sekiranya, sesuatu yang mengandung jahe tanpa perlu direbus dahulu? Yak, lampu di kepala menyala! Tentu aja tinting jahe. Keinget karena ini permen yang biasa dijajakan di bis-bis kalo kita lagi mudik ke Madura. Dan suami yang tiap minggu bolak balik Malang ngebis, jadi utusan untuk mendapatkannya. Hehe. Tapi suami nggak beli di bis loh yaa. Jangan kira permen jahe yang dijual di bis sekarang itu kayak jaman daholo kala. Kita lelah dengan kepalsuan. Hikshiks. Suami cari di Malang, entah toko apa. Sempetin juga beli di bis, jahenya nggak berasa. Banyakan gulanya.

Sejauh ini.. Permen jahenya ampuh mencegah muntah. Kenapa sebisa mungkin nggak muntah? Karena ngerasa rugi banget, udah susah payah maem, trus keluar gitu aja. Apalagi susah maem gini. Siapa yang nggak senewen. Bukan itu saja, misal muntahnya itu buah atau makanan yang tidak berbumbu kuat, masih nggak seberapa. Tapi kalau makanan yang agak pedas, efeknya bener-bener ngelukai tenggorolan loh. Makanya, aku jadi mudah batuk dan flu sekarang. Setelah muntah juga biasanya jadi makin lemas. Di satu titik itu sempet bikin diri ini ngerasa frustasi karena lemah, tak berdaya. Tangisan dangdut pun tak bisa dicegah di sela-sela kepayahan muntah. Bener-bener so drama! Untungnya sih, kemarin ketika muntah tak sampai keluar cairan kuning. Konon sih, ada temen yang bener-bener mabok, saking parah-parahnya sampai keluar semua isi perutnya termasuk cairan kuning tersebut. Mungkin cairan lambung kali yah..entah.

Kelar urusan muntah, sekarang malah kena flu daaan, diare! Hikss.

Batuknya sih enggak sampe nyiksa, pileknya juga. Tapi bikin badan meriang kayak demam gitu. Badan nggak enak lah pokoknya. Sampe tiduran pun nggak nyaman. Untung ngemutin permen jahe itu, lumayan bikin dahak di tenggorokan bertahap keluar. Jadi kesiksanya emang seputaran badan yang greges itu. Sempet bolos kerja (lagi) sehari. Karena emang butuh rehat beneran. Lumayan setelah itu segeran. Oia, udah kubilang ya..kalau aku ini agak RUM, Rational Use Medicene. Pas flu dan meriang itu nggak ngobat. Cuman istirahat, makan, minum jahe madu, emut permen, sempet juga minum degan. Lumayan bekerja kok.

Itu juga berlaku pas diare. Kena diare dua harian gitu. Diare kan bikin lemes ya, dan juga bisa dehidrasi loh. Sama suami dibelikan buah jambu merah. Alhamdulillah, ngefek. Walau yang paling ampuh sih, minum rebusan daun jambu biji ya. Tapi di sini dapet dari mana coba? Mana waktu itu suami nyariin jambunya malem-malem pulak. Masih untung dapet. Suami beli di tukang jus loh. Hehe. Aku makan dengan lahap. Sisanya dimakan besoknya.

Moga makin membaiiiik, dan nggak ada yang aneh-aneh lagi. Aamiiin.

Thursday, March 24, 2016

9 ke 10

Minggu terberat..

Muil yang berujung munti-munti. Kerasanya udah dari Sabtu yang mana lemasnya lebih dari biasanya.

Lalu. Di minggu pagi, saat bangun tidur minum air putih seperti biasa. Tiba-tiba seperti ingin bersendawa, berkali-kali. Perut bergolak. Seakan-akan naik ke atas. Masih berusaha menahan sambil mengalihkan perhatian dan memberi sugesti. Jangan muntah dulu. Rupanya tak manjur. Pertahanan untuk menahan muntah terkalahkan dengan dorongan untuk keluar. Air yang baru saja kuminum, byorlah sudah. Sempat berceceran juga sebelum ke kamar mandi, minta bantuan suami untuk membereskannya. Makasih, suami sayang..

Setelah itu, makan buah seperti kebiasaan pagi sebelum-sebelumnya. Minum madu anget juga. Tak terjadi apa-apa.

Siangnya, Mama menyuguhkan teh anget yang nampaknya menyegarkan. Segelas habis. Lanjut ke gelas kedua. Dan beranjak ke kamar mandi. Muntah lagi.

Makan siang diisi dengan suapan suami yang sedang asik dengan gado-gadonya. Lumayan masuk dan tak ada keluhan.

Malamnya minum susu. Tak berhasil. Jackpoot.

Keesokannya menyerah, bolos sehari. Pagi makan bubur manis, sukses. Siang muntah lupis. Juga telur ayam kampung rebus. Malam berhasil makan brengkes rempelo ati. Hrrrr. Segitu kronologinya.

Hari-hari selanjutnya muntah ramuan Jahe Temulawak yang katanya mampu menanggulangi mual atau muntah. Iya, aku lebih mengedepankan yang alami terlebih dulu serta bergantung pada keajaiban tiba-tiba. Obat anti mual tersedia sejak awal bulan, tapi tak ku gunakan. Karena pernah mendengar kurang baik untuk perkembangan otak janin. Makanya, sekedar mengandalkan kemampuan diri dan ramuan tradisional.

Tetapi muntah paling menyakitkan itu.. Nasi dan campuran kering tempe. Zzzzz. Karena bumbunya yang kuat dan pedas, ketika muntah seperti melukai tenggorokan dan hidung. Malamnya langsung radang dan batuk. Hrrr. Batuk adalah penyakit yang seharusnya dihindari bagi ibu hamil, terutama yang hamil muda. Mengapa? Karena kontraksi dari batuk terus menerus dapat menggoncang perut. Obatnya? Sebanyak mungkin minum air putih dan tentu saja berdoa.

Sesi mual dan muntah ini, bikin aku benar-benar merasa makan adalah kegiatan yang menyiksa. Efeknya ke badan makin lemas. Sesekali suhu badan menghangat. Bahkan shalat pun dilakukan dengan duduk. Ngaji sekedarnya, karena jika bersuara lama membuat ngos-ngosan. Jadwal tidur malam pun sedikit kacau. Beberapa malam ini sering "ngelilir" tengah malam. Tak bisa tidur sampai 3-4 jam. Hrrrr.

Kata mama, itulah perjuangan seorang Ibu. Suami pun tak lelahnya memberi semangat dan mendoakan. Mengupayakan supaya aku hepi dan enjoy di TM 1 ini. Konsennya lebih-lebih soal makan. Aku pun berusaha mencari cara bahkan memaksa agar mau makan. Entah mencari makan yang bisa membangkitkan selera. Kadang berhasil, kadang juga berakhir eneeg.

Indera penciuman juga menjadi sensitif sekarang. Aroma beberapa makanan yang harusnya mengundang selera, tapi tak berlaku untukku. Mau selezat apapun, atau makanan yang dulunya aku sukai, seperti tak menggugah. Bahkan aku bisa mencium aroma nafas orang lain, padahal aku sebelumnya tak pernah sampai "segitunya".

Luar biasa sekali hamil ini. Sesekali aku juga mengimbangi membaca beberapa blog yang membahas tentang kehamilan TM 1. Sekedar mencari referensi yang bisa membantu. Tapi, pada intinya tak ada cara lain selain dijalani dan diupayakan yang terbaik untuk kebaikan si Mungil di perut. Ya Allah, moga kami bisa mengantisipasinya dan melewati ini dengan baik. Apapun demi Dedek pinter..

Monday, March 14, 2016

Awal Mula Hamil

Mungkin suatu hari di bulan Januari..

Dan di akhir bulan itu juga, aku berkunjung ke Malang karena ada teman kerja suami yang mau menikah. Mau tidak mau, aku perlu menemaninya menghadiri acara tersebut. Apalagi di undangannya, jelas-jelas menyebut namaku selain nama suami. Tidak sopan, kalau suami hanya sendiri.

Di Senin pagi akan kembali ke Surabaya, aku merasakan suhu tubuhku menghangat. Saat kukatakan bahwa aku demam, suami menempelkan tangannya di dahiku saat kami berdua sama-sama berbaring. Dia bilang, tidak. Ya sudah, mungkin ini hanya gejala kelelahan karena perjalanan kemarin dari Surabaya-Malang aku berdiri dari Bungur sampai Singosari, kehabisan tempat duduk. Oh, moga itu pengalamn terakhirku berdiri terlama di dalam bis. Karena aku sudah terlanjur masuk, dan keburu ingin bertemu dengan suami. Padahal, bis Surabaya-Malang tak habis-habis, kalau aku mau menunggu bis selanjutnya untuk dapat tempat duduk.

Sekembalinya dari Malang, hari-hariku mulai diselingi dengan bagian dada yang mulai membengkak, pinggang yang senat senut. Gejalanya seperti mau datang bulan. Tapi hei, jadwal menstruasiku masih lebih dari seminggu yang akan datang. Masih lama. Biasanya gejala ini baru akan datang sekitar 2-3 hari menjelang menstruasi.

Tak cuma itu terkadang, badan sedikit meriang walau tidak sampai demam parah.

Senior tempatku bekerja sempat bercerita, tanda-tanda ketika akan hamil. Istrinya mengeluh meriang dan badan agak hangat. Seniorku yang lain juga mengomentari perubahan bentuk tubuhku. Tapi aku masih belum yakin waktu itu. Karena jadwal menstruasiku masih lama untuk menegaskan bahwa aku benar-benar hamil.

Di saat yang sama, aku sedang tidak berbicara dengan suami. Kuakui moodku lumayan kacau. Baru setelah kami berbaikan, aku menceritakan gejala tadi. Termasuk bangun pagiku yang mulai molor dari biasanya. Meski mata sudah terjaga, tapi tubuhku tak juga mau beranjak hingga sejam sejak mata terbuka.

Suami menyarankanku untuk tes melalui testpack. Ku turuti sarannya. Karena di akhir pekan ini, kami akan pergi bersama ke Kediri. Paling tidak kalau positif, mungkin kami harus menunda dulu perjalanan kami.

Ternyata Jumat pagi aku tes urin, hasilnya tentu masih negatif. Karena belum masuk jadwal menstruasiku. Jadwal seharusnya itu hari Kamis minggu depannya. Jadi kami memutuskan untuk berangkat saja di akhir pekan tersebut.

Untuk menghemat waktu, aku berangkat sendiri ke Malang menggunakan sepeda motor pada Sabtu pagi. Jadi, suami tidak perlu ke Surabaya dulu dan misal berangkat ke Kediri bisa jadi baru Minggu paginya. Karena suami baru sampai Surabaya malam minggunya. Tentu kami tidak bisa langsung berangkat bukan?

Beda persoalan kalau aku yang ke Malang, sorenya kami masih bisa untuk perjalanan ke Kediri dan juga bisa menginap di sana malam minggunya.

Itu adalah perjalanan pertama motoran sendiri ke Malang. Ya, aku belum pernah mencobanya. Sesekali buat pengalaman, yang ternyata tak sesulit kelihatannya. Kalau soal macet, memang tak bisa dihindari. Tapi beruntung sekali selama perjalanan, aku terhindar dari hujan deras. Terimakasih ya Allah, telah melindungiku.

Sesampai di kantor suami, aku sempat kelaparan berat. Jatah bebek Sinjay punya suami tak cukup mengenyangkanku. Bahkan sampai stok nasi pun habis! Haha.

Sesuai rencana, Ashar kami berangkat menuju Kediri. Selama perjalanan kami masih dilindungi oleh Allah walau diselingi hujan. Sampai di Kediri ketika Maghrib.

Ya selama akhir pekan yang panjang itu kami menikmati liburan bersama keluarga Om. Motoran lagi sampai Blitar. Suami juga berkomentar tentang perubahan bentuk tubuhku. Dan aku yang mudah kelaparan di waktu itu. Hehe.



Setelah liburan tersebut berakhir. Setelah suami kembali ke Malang. Gejalanya masih sering muncul. Walau sudah tidak meriang lagi. Dan di hari Kamis sesuai jadwal bulananku, tidak terjadi apa-apa. Keesokannya hari Jumat kutunggu, juga sama.

Selama ini, hampir jarang sekali jadwalku meleset. Selalu tepat waktu. Kalaupun terlambat mungkin hanya sehari atau dua hari. Aku pun sudah siap dengan testpack yang kubeli dengan harga murah di apotik, hanya 2500.

Dan di Sabtu dini hari, aku memutuskan untuk tes urin. Aku terjaga setengah tiga mungkin. Urin pertama di bangun tidur adalah yang paling akurat, begitu petunjuk yang kubaca pada bungkus testpacknya. Ku ikuti petunjuknya seperti yang kulakukan pada tes urin pertama. Lalu kutunggu..sekian detik.

Aku mendiamkan sambil memejamkan mata. Aku tak tahu. Karena aku justru lebih takut kalau misalkan gejala ini malah bukan pertanda hamil. Aku tak mau membayangkan hal terburuk.

Kubuka mata sambil memicing pada alat testpacknya. Dan hasilnya..membuatku terharu. Senang. Lega. Bahagia. Perasaan campur aduk.

Ya aku tahu, bagi kami ini terasa begitu mudah dan cepat dari yang kami bayangkan.

Segera aku mengabarkan kepada suami. Yang memang sejak kemarin dia sudah penasaran ingin tahu. Dia pun menyambut dengan suka cita. Aku pun memberi tahu kedua orangtua, mereka yang masih terkantuk-kantuk pun mengangguk-angguk. Masih belum sepenuhnya sadar.
Aku juga mengabarkan beberapa teman dan kerabat. Sekaligus menanyakan apa yang harus kulakukan setelah ini.

Sepupu menyarankanku untuk segera memeriksakan kandunganku secepatnya ke dokter kandungan, agar segera diberi vitamin atau penguat rahim. Ibuku menyuruhku untuk menunggu saja, hingga usia kandungan usia dua bulan. Suami menginginkanku untuk periksa saja. Tapi kalau periksa sendirian seperti aneh rasanya bila tidak ditemani suami. Suami baru tiba malam minggu. Sedangkan, tak ada dokter kandungan atau klinik yang buka pada akhir pekan. Hmm. Dilanda dilema. Akhirnya aku brosing pengalaman orang lain yang hamil muda. Banyak yang menyarankan untuk menunggu dulu, karena usia masih kecil sekali. Belum tentu bisa terlihat sekalipun itu USG. Malah bisa-bisa dianjurkan untuk kembali periksa dalam jangka waktu tertentu. Dan dalam jangka waktu tertentu itu, pasti galau karena belum tahu secara yakin kalau sedang hamil. Bisa-bisa kepikiran dan jadi stres nantinya. Tentu itu tidak baik bagi ibu hamil.

Akhirnya aku putuskan untuk periksa bulan depannya saja lah. Yang terpenting aku perlu berhati-hati menjaga kesehatanku. Termasuk makanan, dan waktu istirahatku agar tidak terlalu lelah.

Dan waktu pun berjalan satu minggu dengan keadaan normal. Lalu minggu selanjutnya aku merasakan mual dan nafsu makan yang berkurang drastis. Emm.. Maksudku, aku jarang sekali menyisakan makanan, aku juga tergolong orang yang tak pilah pilih makanan, asal itu sehat dan bermanfaat. Aku lahap-lahap saja memakannya, sekalipun makanan sehat belum tentu lezat rasanya. Tapi di minggu ke 6 kehamilanku? Sangat terasa bedanya. Nasi terasa eneg. Sayur pun aku jadi kurang doyan.

Yang kutolerir hanya buah-buahan dan kadang roti. Jadi setiap hari, aku hanya makan nasi sekali di waktu siang. Pagi aku makan buah. Malem atau sore, aku makan roti, bisa buah, atau makanan yang tak terlalu berat.

Minum air pun jadi berkurang. Biasanya aku cukup perhatian soal porsi minum. Sekarang terasa eneg, yang membuat malas minum air putih. Akibatnya bibirku sering kering dan pecah-pecah. Huwaa. Memang harus melakukan gerakan doyan minum lagi nih! Dan seminggu ini bibirku sudah tidak gampang pecah-pecah lagi.

Hingga saat ini mual-mualku masih berlanjut. Pernah berhenti tepat keesokan setelah periksa pertama kehamilan. Entah kenapa. Dan hari-hari berikutnya, masih terasa enegnya. Untuk muntah, tidak sampai. Kecuali ada suatu kejadian beberapa hari lalu. Aku mau shalat Maghrib, tapi sebelum berwudhu, aku menghabiskan sebiji pisang terlebih dulu. Belum habis tertelan, masih sambil mengunyah, aku masuk kamar mandi. Ya tentu saja, kamar mandi tempat paling sering terjadinya mual. Entah itu sekedar mual, atau membuang ludah. Otomatis, perutku yang belum seutuhnya mencerna buah pisang yang baru saja ku makan, langsung bergolak. Seperti ada yang meronta-ronta naik ke atas. Lalu.. Meluncur keluar begitu saja. Tersisa perih di tenggorokan dan di hidungku. Huhu.

Setelah Maghrib, karena tidak rela pisang yang ku makan keluar. Aku makan sekali lagi, karena memang lapar. Makan dalam keadaan duduk tenang dan nyaman. Untunglah tak terjadi apa-apa.

Apapun itu. Pernak pernik hamil sangat kusyukuri. Kalau dinikmati memang terasa berat sih. Tapi rasa syukur karena diberi anugerah ini, membuatku ingin selalu menyemangati diri. Bahwa ada makhluk kecil yang terus bertumbuh melalui tubuhku. Dan pastinya tumbuh rasa sayang yang begitu besar kepadanya.

Toh rasa mual seperti ini adalah hal normal dan wajar. Bahkan itu lah cara komunikasi sang janin kepada kita, bahwa dirinya baik-baik saja. Aku tahu, pasti di luar sana.. Begitu banyak perempuan yang akan membayar mahal rasa mual dan tak nyaman pada awal kehamilan. Terutama bagi mereka yang masih belum dikaruniai keturunan dalam waktu lama. Maka dari itu, aku pun turut mendoakan mereka agar dapat merasakan peristiwa berharga dan penuh perjuangan ini. Aamiin.


Wednesday, March 2, 2016

Makhluk Seukuran 7 Mili



Halo, makhluk ukuran 7 mili! Ibu sama Ayah untuk pertama kalinya ingin menemuimu semalam. Kami kepikiran banget loh. Sejak tahu keberadaanmu dua minggu lalu melalui testpack. Dua garis minus, yeay!



Kata tante Dokter, ukuranmu sudah sesuai dengan umurmu. Ibu dibolehkan makan es krim kalau mau. Tante dokter juga ngasih vitamin buat kamu. Dan buat menguatkan tempatmu sekarang.

Sehat terus ya, sayang. Walau Ibu susah menahan mual dan nafsu makan berkurang drastis, tapi Ibu akan berusaha supaya kamu sehat dan berkembang di dalam sana. We love you, Dek! :*

Thursday, January 14, 2016

10:22 PM - No comments

Setelah Basmalah, Sebelum Hamdalah

Sebelum hari-hari pergi beranjak. Lalu meninggalkan torehan jejak. Pasti di awal ceramah maupun pidato. Dikidungkan kalimat syukur berulang-ulang. Maka setelah basmalah, adalah alhamdulillah.

Alhamdulillah. Banyak kenikmatan kecil apalagi besar yang lalu lalang. Terutama setelah menikah. Dengan kehadiran seorang lelaki asing yang menjadi perisai kini. Mungkin dia lah, kado terbesar dan terhebat pada ulang tahun terbaikku. Terimakasih ya Allah.. Sekali lagi terimakasih.

Barangkali juga tahun depan, diperkenankan diberi titipan malaikat kecil dari surga yang akan menyemarakkan kehidupan bahagia kami berdua. Aamiiin. *menjadi hastag doa di usia dan tahun ini* Berkali-kali..dan tak bosan ingin selalu bersyukur tiap jengkalnya. Dan bismillah, untuk kehidupan yang akan datang.

Juga bismillah.. Kami tidak akan takut akan ancaman terhadap negeri ini. #terordiSarinah Mungkin oknum-oknum tersebut punya alasan untuk membahayakan keselamatan orang-orang di tanggal ini. Tapi kita tidak akan punya alasan untuk takut kepada. mereka.