Friday, April 27, 2012

Morning After The Love Has Gone

Kita akan kembali bersua pada satu gelombang suara. Basa-basi awal yang wajar dipertanyakan.

“Apa kabar?”

Semestinya semua orang akan menjawabnya dengan ”baik” .

Sedangkan, apakah kita sama dengan semua orang itu? Kita tak ingin mendustai diri sendiri dengan jawaban yang sama itu.

Lalu. Kita akan membicarakan berapa banyak kejadian yang telah terlewat. Apa saja yang telah kita lakukan dalam waktu dan kondisi berbeda. Kita akan mengangguk. Berbasa-basi. Masihlah suasananya sama. Mengingat kembali kesalahan- kesalahan yang hanya kita sendiri yang menyadarinya.

Aku tetap selalu tahu, awal kesalahanmu di akhir itu. Dan kita akan menerimanya, kembali memakluminya. Kini aku bukanlah sosok manis itu. Kau mengatakan aku memanglah seorang pemberani. Tapi tak usahlah kau sebut nama Tuhanku untuk kesekian. Kita lagi-lagi tergelak. Kesulitan berbahasa selalu menjadi kesalahpahaman yang sama ketika kita berkomunikasi dengan orang banyak.

Aku juga mengerti. Aku tak sedang terbang saat ini. Aku berdiri di bumi sama, seperti yang kau pijaki. Mungkin kau akan memberi saran. Kita akan berusaha mencari jejak-jejak dan pertanda itu lagi.

Judulnya diambil dari lagu dengan judul yang sama. Penyanyi aslinya adalah Brian Mcknight. Akan tetapi awal saya mengetahui lagu ini pada saat dinyanyikan band Indie Indonesia, yaitu Kilas Balik Band.

Catatan Setahun Lalu. 270411

Wednesday, April 25, 2012

Oranje!

Melangkahkan kaki ke tempat itu. Sesuai saran ayah saya. Sedikit janggal ketika saya menarik pintu tempat itu. Memasukinya. Memandang orang-orang yang mungkin memiliki kepentingan berbeda ke tempat ini. Tapi. Ya pastilah bisa ditebak. Kalo nggak ”ini”. Ya ”itu” mungkin.

Menyusuri loket yang tepat untuk saya. Lalu mengantri. Walaupun masih bertanya-tanya di dalam hati : ”Bener nggak yah? Antriannya yang sebelah sini?” ”Trus ntar kalo ditanya petugasnya. Gimana ya?” Deg-degan. Padahal orang di sekeliling saya nyantai-nyantai aja tuh! Hahaha.. Saya ketawa dalam hati. Sambil tetap dalam posisi mengamati orang-orang di tempat ini.

Di zaman yang serba digital ini. Di zaman yang serba ditentukan, hanya dengan tekanan jari. Sentuhan jari. Dan saya masih berdiri di tempat ini. Mengantri. Lucu tidak ya? Ah, tidak lah.. Wajar aja kok.

Malah ada anak kecil yang masih berseragam SD juga ikut mengantri dengan lugunya. Wuuh...jadi teringat kata-katanya Doraemon tentang secanggih apapun dunia ini, masihlah tetap kita harus memfungsikan tubuh dan tenaga kita sebagai manusia. Nggak. Tenang. Saya nggak akan ngomong teori di sini. Petugas itu berpesan : ”Minimal 3 hari. Maksimal 5 hari, Mbak. Biayanya Rp.6000.”

Okelah. Saya secepatnya menyelesaikan urusan ini. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Karena terlalu siang. Kesempatan mendapat pelayanan express tidak bisa didapatkan. Ya. Nope lah..

Saya segera menghubungi seseorang. Mengabarkannya. Lalu cepat-cepat pergi. Meninggalkan tempat itu.

#PS : Eh, orang pertama yang saya tag note ini. Segera konfirm ya. Tau nggak? Tadi pas saya ambil surat ijin penelitianmu. Si Bapak bilang, kalau yang ngambil lebih cantik daripada orang yang di foto KTM. Hahahaha... Beneran deh... Saya nggak lagi bikin kebohongan publik lohh.. Ini pengakuan yang paling jujur yang pernah saya dengar hari ini! :p

Tuesday, April 24, 2012

Minceeee.. ‎O(≧∇≦)O

Whoa! Whoaaaa! Mimin beraksi virtual kemaren! Dia kelayapan, sampe nyasar ke tumblrku! Wadooow! Malu sayaaah..hahahaha XD Belum lagi dia yang manggil pake "diul". Haiyyaaaah..kegep daaaah! :D

Entah apa alesan dia sampe nyasar ke ruang putih ini. Hehehehe. Aku bilang,

@dydy_hujan@gayeih hadooh..nyasar aja ya ke tumblrku! Itu kan tumblr isinya sampah semua loooh min! Eaaa, pake manggil "diul" lg. Bales dendam yak? :p

Aku emang nggak seberapa peduli dengan sapa aja manusia pembaca setia, ato yang non setia baik di tumblr maupun blogspot. Sempet sih aku masang aplikasi traffic khusus di tumblr ini, yang dikirimkan ke emailku secara berkala. Tapi, pleaseee..bukan itu. Beneraaaan bukan itu. Alesan yang jadi dasar buat aku tumblring cuman nulis, nulis apa yang kurasa, apa yang kusuka, apa yang memusingkan kepala. Walo itu nano-nano dan jatonya nggak jelas. Aku cuman pengen nulis! Hak merdekaku untuk nulis. Sama halnya hak bagi mereka untuk bebas membaca segala yang ada di tumblr ini.

Dan aku menghargainya. ^_^

Aku menghargai sekalipun mereka tidak merespon apa yang aku bagikan di sini. Tak akan ambil pusing jika mereka hanya membaca tanpa meninggalkan komentar. Tidak muluk-muluk.

Aku akan sangat senang, ketika mereka merasa menjadi berbeda setelah membaca apa yang aku tulis. Walo itu tidak perlu aku tau. :) hehehehe *apadehyaak? Wikikikikik :p

Tapi. Apresiasi tak terhingga untuk mereka yang rela me-reblog beberapa tulisan di sini. Itu luar biasa! Luar biasa buat aku. Si tukang nulis tulisan sampah! Hehehe

Terima kasih tak terhingga..bagi kalian-kalian yang dengan tulus meluangkan waktu untuk membaca tumblr ini. Entah dengan niat apa. Emang setia ato gara-gara nyasar. Ato yang uda niat dari dulu, sampe ngebookmark url-nya. Hehehehe. Atooo...yang sengaja jadi stalker hidupku! :D Hihihihi.. Oh My.. You deserve better baby! Stay tune teruss yaaaaaaa..... ;) *wink! hahahahaha :p :D

# Spesial to Mince: Soriii niyaaah..namamu kupinjemin bentar buat jadi judul. Kan lumayan biar tenar! Hahahaha :D

Monday, April 23, 2012

Aish.. Untuk Sebungkus Cokelat

Tak ada duka sedikitpun yang tampak di wajah gadis kecil itu. Matanya masih bersinar serupa kejora, kontras dengan mata sembab Bundanya yang memangkunya sedari tadi. Sesekali tangannya menepuk sang Bunda sambil mengatakan, "Bunda. Bunda. Airnya dibanting tuh!" Terpaksa saya memberikan senyum kecil ketika Aish -nama gadis kecil itu menyebut kata "dibanting" ketika air kran di kamar mandi rumahnya menyala dengan keras. Bundanya yang masih terguncang akan kabar duka yang baru saja terjadi, berusaha menjelaskan kepadanya tentang air kran tersebut.

Memangnya apa yang terjadi dengan Aish dan Bundanya? Tunggu sebentar ya.

Saya terbangun sekitar jam 3 pagi. Kebiasaan yang menyatu dengan jam tubuh saya sebelumnya. Terbangun di jam segitu. Tapi kali ini saya tak bisa melakukan apa-apa. Solat atau mengaji sekedar menenangkan hati. Saya sedang "libur". Makanya, ini cukup menggelisahkan jika mesti terbangun jam segini. Untunglah saya tertolong dengan novel yang baru kemarin saya beli. Rumah Cokelat punya Sitta Karina. Saya pun terhanyut dalam keruwetan yang dihadapi Hannah sebagai ibu sekaligus istri urban didampingi sang suami, Wigra. Sekitar sejam setengah tepat di halaman 126, saya usaikan untuk membaca.

Menengok dapur, yang ternyata Ibu sudah hampir menyelesaikan perasan santannya untuk kolak. Ah, saya melewati sesi perasan santan nih! Hehehe. Saya segera membantu sebisanya. Menuangkan santan kental yang diperas ibu tadi, juga sari dele. Dengan perbandingan saridele lebih banyak daripada santan. Iya, ayah saya tidak suka santan. Saya pun begitu. Makanan bersantan saya hindari. Yaa..tidak sampai ekstrim sih, palingan sedikit saya konsumsi jika tersedia. Makanya, ketika Ibu berencana bikin kolak, di hari Sabtu kemaren saya khusus pesan seliter saridele ke Mba Endang untuk kolak itu. Setidaknya meminimalisir penggunaan santan seperti saran ibu.

Di sela-sela pagi yang seperti biasa ribet untuk menyiapkan bontotan saya untuk makan siang. Ayah yang katanya sebelum Subuh tadi pamit pergi ke luar kota, ternyata sudah kembali lagi. Batal ke Banyuwangi begitu katanya. Alesannya, selain pesanan Pak Bos tentang mobil yang bermasalah, adik dari Ibu Tutik meninggal subuh tadi. Iya, almarhum adalah ayah Aish, gadis kecil yang saya ceritakan di atas. Memang sudah menderita penyakit komplikasi sejak lama. Terakhir saya dan teman-teman mengunjungi almarhum pada Februari kemarin di rumahnya. Teringat saja karena di sana lah saya menghabiskan cokelat batangan yang bercampur dengan jeruk, tapi saya belum bertemu Aish waktu itu.

Maka dari itu setiba di sana, saya dan teman-teman langsung menuju rumah Aish. Kolak yang saya bawa ke kantor diundur eksekusinya sementara untuk melayat almarhum ayah Aish. Sayang sekali juga, beberapa teman ada yang puasa. Jadi sepulang dari rumah Aish, saya dan Mba Tri saja yang menikmatinya. Menyusul lalu Mas Sis.

Kembali lagi ke suasana rumah Aish. Di sela-sela celotehan biasanya, khas anak kecil yang ringan tanpa beban. Saya merogoh tas, dan mengambil sebungkus coklat sisa oleh-oleh Mas Andri ketika umroh bulan lalu. Saya sodorkan kepadanya. "Aish, mau cokelat?" Si gadis kecil ini segera mengambilnya dari saya tanpa malu-malu. Wajahnya makin riang sambil memberi tahukan Bundanya tentang coklat yang baru saja ia dapatkan. Bundanya adalah teman kerja saya juga. Ayah Aish adalah adik kandung Bu Tutik, bagian personalia di pabrik. Tak lama, saya dan rombongan teman-teman kantor segera pamit untuk kembali ke tempat kerja.

Tulisan ini pun diakhiri dengan lemburan yang mesti menunggui usainya serial drama korea dikarenakan dua patner biasa Mba Endang dan Mas Sis yang setia sekali mengikuti tiap episodenya setiap hari. Mengenai lembur, ini sudah menginjak hari ketiga lemburan, setelah Kamis dan Jumat di minggu kemarin. Bukan lembur peta flexo lagi, tapi lebih ke tanggung jawab pekerjaan kami masing-masing.

Sempat terdampar macet di bundaran Waru petang tadi. Hohohoho. Dan tulisan ini memang disengajakan ditulis dengan sangat kaku. Hahahaha. Improvisasi bung! :p

Oia, saya sudah menamatkan Rumah Cokelat loh! Kapan-kapan kalo sempat, akan saya bagi hasil otak saya tentang apa yang disampaikan dalam buku tersebut.

Saturday, April 21, 2012

Rumah Cokelat Dan Rumah Pagesangan

Situasi guarriiiiing segaring-garingnyah sampe gosong adalah ketika ngerencanain pergi kemanaaa gitu yaaa..eh di detik mendekatinya malah gatot boss! Beuhhh.. Mati gaya nggak ketulungan menjangkit seketika! Eaaaaah..hahahahuhuhuhu *tarik napas

Beberapa planing wiken itu tercanangkan di awal-awal.

1. Pertamaaax, maunya maen-maen ke temen kampus. Sekalian nengokin ponakan barunya. Maklum, kemaren-kemaren dia pamerin tuhh..di status tentang ponakan yang baru ajaaa menghirup udara dunia. Nggak di fesbuk, di tuiter juga. Makanya, aku penasaran. Laaah, aku baru inget kalo ngerencanain mau ngecek proyek kerjasamaku bareng temen. Oke. Ini planning ke dua!

2. Aku lagi punya proyek kerjasama bareng temenku. Sebenernya ini jatah kerjaanku dari Pak Bos, tapi berhubung waktu dan kemampuanku nggak memungkinkan, makanya kulempar kerjaan ini buat temenku. Yang mana dia menerimanya dengan suka cita. Proyek lengkapnya tentang apa? Nanti deh kubilangin yaaa..soalnya ini belum kelar seratus persen sih. :D Nah, mauku itu aku pengen ngecek garapan sahabatku seminggu sebelumnya, penyebab batalnya gara-gara hapeku ngambek nggak bisa sms-an ato telponan gitu. Jadi nggak bisa ngabarin yang bersangkutan sebelumnya. Yaudin kurencanain minggu ini aja. Trus aku hubungin sahabatku itu, hmm...ternyata dia nggak bisa ditemui untuk minggu ini. Jadi aku cuman bisa ngikutin live perkembangan proyek kita by sms doang. Plan 2 coreeet!

3. Ibu sambil ngingetin juga tentang seserahan yang musti kita beli buat perlengkapan nikahan kakakku. Uyeeeah, untung temenku ngebatalin. Jadi hari Minggu bisa dipake buat nyoping seserahan deh!

4. Trus Sabtunya mesti ngapain ya? Tiba-tiba aku kepikiran pengen napak tilas sejarah bareng sepupu ke salah satu museum di Surabaya. Enggak sih..cuman pengen cari suasana baru aja. Soalnya bosen ngemall. Rame, bising, yang diliat palingan itu-itu doang. Janjian deh bareng sepupu via watsap.

5. Eitsss..trusss baru-baru ini aku dapet nomer hape temen lama yang udaaaa lamaaa kita nggak ketemu. Ada kali yah 5 taunan? Maklum, dia kan kul di luar negeri, baru lulus akhir taun kemaren trus dia buru-buru mudik ke tanah air. Sekali dapet nomernya itu, kita saling bales-balesan sms, dan rencananya kita pengen ketemuan. Kebetulan wiken ini temenku mau ke Surabaya, jadi biar sekalian.Kepaksa plan wisata sejarah bareng sepupu kecoret. Demi bertemu dengan temen lama ini. Langsung watsapin sepupu buat ngundurin jadwal. Hehehe.

6. Hari Kamis, mba Fat watsapan kalo wiken ini mau ke Surabaya juga. Eaaaah.. Dengan berat hati kubatalin rencana ketemu temen lamaku itu. Sebelumnya dia emang ngabarin kalo tentang ketemuannya itu bisa kapan-kapan aja kalo aku nggak sempet. Soalnya, bentar lagi dia mau ambil kuliah S2 di Surabaya. Yang berati beberapa bulan lagi kami bakal bisa ngerencanain reunian sesukanya. Yeay!

Jadi. Sabtu kemaren aku nengokin double I di rumah Pak Roem. Huwaaaaa..duet mereka heboooh. Entah karena lagi sakit ato gimana gitu ya. Inas+Isna suka rewel banget! Nangis-nangisan. Terutama Isna! Mengherankan sih, soalnya selama aku amatin sebelum-sebelumnya Isna nggak pernah nangis sekenceng itu. Kata emaknya emang dia lagi nggak enak badan, makanya rewel. Emak dan Bapaknya jadi ikutan ribet nenangin duo I-nya itu. Beuuh..gini yaaaa kalo uda punya baby yang masih kurcaci-kurcaci. Parahnya di saat genting itu, aku yoo kok bisa bobo siang dengan cantik di kamar mereka? Hahahahaha. Dasaaarrr!

Minggu pagi, abis nyoping, abis masak, abis-abisan. Ealaaah, kakakku ngebatalin sepihak. Nggak fair nih! Makanya langsung geje banget sampe Duhur. Sms temen kul-ku, yang plan pertama tadi. Tanyain seberapa lama yang mesti dihabisin buat mendarat di rumahnya. Dia jawab sejam katanya. Hiyaks! Jau bener itu berati maaaaak! Yaudin, nggak jadi lah..wess kapan-kapan.

Karna masih butek, mood ambruk mboook.. (iyee..kebetulan pasukan pinky winky lagi beraksi) makanya langsung melarikan diri ke Toga Mas. Beli bukunya Sitta Karina, huhuuuyy! Di gramed uda lama edarnya, tapi emang sengaja aku nungguin nongol di TM. Langsung watsapin potonya ke Kuning Kenari. Hehehehe.

Sambil ngiderin toga mas, watsapin Mba Fat juga buat ijin ke sana lagi. Huhuhuhu. Abis urusan beli buku rebes, langsung tanceeep gas ke Pagesangan.

Kebetulan sepupu Mas Andrie, Mimin a.k.a Galih lagi nyamperin ke sana juga. Ngobrol lah kita lamaaa. Dan seruuu! Padahal baru kali itu ketemu dia, kami berdua langsung uakrab! Dari ngomongin tentang kerjaan, buku-buku bacaan, sampeeeeeek tentang kesamaan kita yang sama-sama nggak punya alesan kuat, buat ngefans sama petuah-petuahnya Om Mario Teguh. Fiyuuuuh! Lega rasanya! Ternyata aku nggak bener-bener sendirian! Selain aku, masih ada rupanya, manusia yang tetep idup tanpa perlu ngandelin Om Mario Teguh buat dijadiin referensi ngelawan dunia. Hahaaaaaayy! :D

Kami pun tukeran nomer hape, juga following twitter each other. Ihiyyy..! Cuman kesian aja ama Galih. Maklum, dia itu newbie di Surabaya, baru Januari kemaren dia gawe di kota ini. Sebelumnya dia tinggal di Salatiga dan kul gizi di Semarang. Jadi sama sekali ijooo banget tentang Surabaya, plus minim temen pula. Makanya langsung antusias ketemu akyuuuh buat dijadiin temen hang out ato apadeh gitu. Hehehehe.

Yang akhirnya aku jadi tau, dia itu narsis. Daaaan, jangan salah! Si Galih ini cewe! Seluruh sodara-sodaranya punya nama dengan awalan huruf G yang sama. Dari Galuh, trus Galih, Gilang dan Ghufroni. Yap, jangan salah lagi. Semuanya itu jenis kelaminnya cewe, kecuali adek bungsunya.

Ini dia duo bebi siter amatir :D

Friday, April 20, 2012

5:20 AM - No comments

A (May) New Fresh Air

Tiap kali ketika kita pernah kehilangan. Entah sesuatu, atau seseorang yang penting di hidup kita. Rasanya selalu tidak enak. Terasa ganjil. Dan. Tak nyaman. Mirip luka di salah satu anggota tubuh. Sayatannya panjang. Dalam. Dan berdarah-darah. Sesekali. Meninggalkan lubang yang perih. Walau kamu sudah mengobatinya. Melupakannya. Luka itu tetap memberi bekas yang tak indah.

Lalu. Ketika kita menengoknya kembali. Meraba luka itu. Ada kerlingan lembut menggelitik di hati, yang mengatakan :

”Dulu hidupku normal sebelum ada luka ini.”

”Dulu aku mudah sekali untuk tersenyum karenanya. Tapi, sekarang aku tak bisa semudah itu.”

”Dulu mentari selalu menyorotiku ketika pagi. Kini tidak lagi. Tanpa hadirnya.”

”Sepertinya, ada yang salah. Aku tak mengenal diriku yang sekarang. Karena dia tak ada.”

Begitu lah kira-kira..

Perasaan kehilangan. Seperti sempalan di bagian tubuh yang terbuang tanpa kita inginkan. Entah kemana perginya sempalan itu. Usaha untuk menambalnya terdengar percuma. Kita pun dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan hidup bersama bagian ”sempalan” yang tak sesempurna seperti dulu itu? Atau memilih hidup bersama bagian yang benar-benar baru, yang sama sekali tak mirip dengan sesuatu yang hilang dulu? Pilihan yang menyedihkan ya?

Tepat di hari ini. Saya ditakdirkan mencoba pilihan yang terakhir. Ya. Begitulah. Walau hal yang baru ini kualitasnya melebihi hal yang dulu. Tetap saja. Chemistry-nya tetap milik ”yang dulu”. Karena kita masih saja kurang ikhlas. Atau malah tidak ikhlas? Ada bagian dari diri kita yang tak bisa menerimanya. Semuanya tak lagi sama.

Kemudian. Sangat berharap hal yang baru ini mampu mengisi ”lubang” dari hal yang dulu. Memindahkan segala-apa-yang-ada-pada-sesuatu-yang-dulu, menjadi milik yang sekarang.

Contoh yang sederhana adalah : Ada satu kisah. Seorang lelaki yang masih mengingat mantan kekasihnya. Walaupun kisah mereka telah usai. Dia selalu teringat akan wewangian mantan kekasihnya itu. Dan ketika lelaki ini sudah menemukan ”muara terakhirnya”. Dia menginginkan seseorang yang di sampingnya kini, menggunakan wewangian yang sama dengan mantan kekasihnya dulu. Terobsesi. Hanya sekedar ingin mengingat segala-apa-yang-ada-pada-mantan-kekasihnya. Ia memfigurkan mantan kekasihnya itu pada orang lain dengan menggunakan wewangian yang dulu pernah dipakai ketika mereka masih bersama. Entah ini benar kejadiannya atau tidak.

Terkadang. Saya selalu percaya. Suara, jalanan, nama tempat, rasa makanan atau aroma wangi tertentu. (seperti contoh di atas) Meski benda mati. Punya kekuatan magis. Mereka mampu menyimpan banyak memori, melebihi kapasitas otak kita. Kepala kita memang berhasil melupakan. Tapi, mereka –benda mati yang disebutkan tadi, akan selalu bisa menyerap memori dan kenangan itu dengan baik. Tak ada ketentuan yang memerintahkan mereka untuk melupakan. Dan kembali melemparkannya kepada kita dalam waktu yang tiba-tiba! Ketika kita tidak siap mengingatnya kembali. Mendengarnya. Melihatnya. Kita terperosok lagi. Padahal kita sudah mati-matian sengaja melupakannya.

Yang pasti. Saya sekarang akan mencoba mencintai sesuatu yang "baru" ini. Walaupun tidak tahu harus menggunakan teori yang bagaimana. Apakah hidup lebih membaik? Atau masihkah berantakan?

Tuesday, April 17, 2012

Telat Asaaal... ヾ( ´ー`)

Asal tidak kena tilang! Ya. Itu benar! Nyaris tadi pagi saya jadi korban penilangan karena ketololan saya sendiri. Saya berangkat seperti biasa dari rumah. Setengah delapanan lah.. Dalam perjalanan itu, saya komat kamit baca doa, serta ngingatin diri untuk tidak bersikap sombong ato egois di jalanan.

Tiba di bawah jalan layang, saya berhenti karena harus menunggui arus kendaraan dari arah selatan. Sempet saya ragu, mau motong jalan, ato lewat "jalan tikus" yang biasanya ya? Saya melihat beberapa pengendara sepeda memotong jalan dengan seenaknya, dan sepertinya polisi sedang lengah mengatur lalu lintas ketika menghentikan kendaraan dari arah selatan. Dengan kekhilafan dan kedodolan saya *fufufufuh! :( *please..do not try at home! Saya pun mengambil keputusan sama egoisnya dengan pengendara pemotong jalan tadi.

Tapi di luar dugaan, 2 orang polisi nampaknya sedang berjalan santai ke arah jalan yang ingin saya tuju. Seketika itu juga, saya ambil inisiatif putar balik secepat kilat. Menghindari tangkapan polisi. Bisa-bisa saya jadi santapan empuk untuk sarapan pagi mereka. Alhamdulillah..yang biasanya saya susah buat muter secara mendadak kayak tadi, e..malah insting survive manusia saya menguat akibat desakan tadi. Menghindari bahaya, menghindari tilang..hehe.

Beuuuh..setelahnya saya ngedumel dalem hati. "Kapok deh! Kapooooook! Nggak mau nyoba ngelanggar lagi..Emangnya, kemampuan kamu nyetir sepeda ini buat ngelanggar aturan? Buat adu jago di jalanan? Sengaja ngilangin nyawa orang? Ato nyawa sendiri malah?? Buang-buang duit buat nyogokin polisi biar gausa ditilang gitu?!!"

Yeee..hehehe.

Ampoooon deh..ampoooon. Nggak lagi-lagi dehh..saya jadi pembangkang kayak tadi. Udaah, nggak apa-apa walo mesti ngelewatin jalan tikus sempit. Yang penting selameeet. Yang penting nggak ditilang. Iyah..bener itu.

Telat, asal nggak ditilang, dan asal selamat. Eh. Ralat! Nggak telat, asal nggak ditilang, asal selamat juga. Hihihihi :)

Sunday, April 15, 2012

Mengicau. Mengacau.

Kesempatan untuk membaca buku dalam bentuk fisik, memang cukup jarang saya lakukan terutama sekarang-sekarang ini. Waktu memang menjadi alasan utama saya. Makanya, saya juga sudah jarang update buku terbaru, atau bahkan membelinya. Walaupun saya memang mengupayakan tiap bulannya mesti mengunjungi toko buku, paling banter yang saya beli cuman majalah gaya hidup saja. Jangankan buku, majalah sebiji itu pun baru benar-benar saya lahap habis palingan dua minggu lamanya. Padahal, dulu sempat terpikir untuk berlangganan majalah tersebut. Tapi, setelah beberapa bulan melihat kondisi saya yang begini ini. Urunglah niat berlangganan majalah mingguan tersebut.

Mengetahui keadaan seperti ini, andalan saya cuman baca-baca secara online saja. Baik majalah, ato berita online di timeline, blog dengan minat yang sama dengan saya, maupun aplikasi yang saya unduh secara khusus di hape. Itu dilakukan untuk tetap mematenkan candu saya terhadap membaca, terlebih saya yang selalu haus akan informasi ini.

Buku terakhir yang saya beli? Filosofi Kopi milik Dee Lestari. Itupun secara tak sengaja ketika kunjungan rutin ke tobu favorit yang mengumumkan diskon untuk pre-order buku tersebut. Saya langsung tertarik saat itu juga.

Di bulan Februari lalu, saya sempat meminjam 2 buku koleksi sahabat saya, Kuning Kenari. Satu buku saya bawa ke kantor, dan satu buku lagi memang sengaja disimpan di rumah. Yang di kantor tebalnya cuman 194 halaman, tapi saya baru berada di posisi halaman 48 (ato halaman 50-an apa yaah? Entahlah, saya lupa). Agak heran sih, yang biasanya saya sanggup membabat habis Harry Potter series yang tebalnya hampir mirip kamus Munjid dalam tempo waktu kilat. Lah, ini kan buku termasuk kategori ringan untuk dibaca? (ini menurut ukuran saya loooh). Oke, kalo jujur, memang bukunya cukup membosankan. Hehehehe. Makanya tidak saya sertakan judul bukunya, agar sang penulis tidak tersungging, jika suatu saat tersesat dan membaca postingan ini. Sempet juga saya cek akun twitternya, hohohoho..yang ternya dia pengguna tumblr juga loh!

Untuk buku yang ada di rumah, sebenernya pernah ada keinginan untuk membelinya. Karena promonya cukup anarkis. Hehehehehe. Kenapa anarkis? Karena dulu, setaunan yang lalu, saya gencar-gencarnya meneliti infotainment yang bergentayangan di televisi. Makanya, saya tertarik. Bukunya pun rilis setaunan lalu, dan kadang masih bertengger di rak tobu. Saya pun pernah membaca cerpen hasil karya beliau di sebuah majalah. Dan menurut saya, ide maupun tutur bahasanya sangat cerdas!

Sempet loooh, saya rada underestimate sama pengarang buku ini. Selain sebagai seorang presenter yang kesannya nyinyir dan selalu usil-nggak-penting-banget ngobral gosip sesama temen artessnya, juga gaya penampilannya yang agak (okeh!) kemayu mungkin yaa.. Dan saya langsung meragukan orientasi ketertarikannya terhadap lawan jenis. Hahaha! Parah deh! Itu pikiran saya dulu.

Endingnya puuuun..saya memang nggak berkutik jika ada seseorang terlihat nyata hebatnya dalam tulis menulis! Saya langsung ingin segera mengklarifikasi penghakiman sotoy saya kepada beliau. Soriii, ya mas Indra Herlambang..

Yeeey! Akhirnya saya menyebutkan nama yang bersangkutan. Eittss..itu ada panggilannya "Mas-nya" pulak?? Hahahaha. Apapun itu lah..saya sangat menikmati karya beliau yang covernya full yellow colour. Menjadi suatu pembenaran, kalo ternyata sahabat saya tertarik membeli bukunya karena warna buku tersebut. Hahaha. Ya, nggak apa-apa sih..toh tindakannya ini dapat menahan niat saya untuk tidak mengoleksi buku Kicau Kacau. Kan lumayan, buat ngirit? Hehehehe.

Di sela senggang, kadang saya memang membacanya. Oke, suatu pengakuan dosa. Saya sudah membaca beberapa babnya sebelum meminjam dari sahabat saya ini. Ya benar, saya curi-curi kesempatan di tobu setaun lalu. Hahaha. Saya pilih bab yang paling menarik untuk dibaca. Untung tak ada yang menegur, ato sekedar sindiran manis berupa "Maaf, Mbak. Di sini bukan perpustakaan". Hohohohoho. :D

Khusus di hari ini, Minggu pagi, saya tidak nyoping ke pasar bersama Ibu seperti biasanya. Hape saya yang tercinta juga sengaja di-ninabobo-kan dari aktifitas menggila saya di dunia maya, untuk menabung energi selama beberapa jam tentunya. Jadi, saya manfaatkan untuk membaca buku tersebut.

Berlama-lama. Namun tidak sampai berjam-jam sih..saya selingi juga dengan menonton acara tv favorit saya, mengepel ato mencuci (mbabu banget deh!) Kecuali di sesi ngebo siang, saya benar-benar fokuskan di kegiatan ini saja. Dan tidak melakukan apa-apa. Lah iya, masa ada orang goblok tidur sambil baca buku? Hahahaha.

Membaca buku milik Indra Herlambang (naaah, kemana tuh "Mas-nya"?) seperti membaca pikirannya, ato malah mendengarkan dia berbicara langsung di hadapan kita. Membagi uneg-unegnya secara pribadi kepada kita. Walau semua isinya sinis, tapi masih ada selipan optimis di sana. Isinya memang sangat gado-gado, kocak, jujur, gokil, apa adanya. Yang malah mengingatkan pada tumblr saya ini. :') Heeuuuu..

Saya tak akan menceritakan isi bukunya secara vulgar. Tapi. Ada tulisan yang menarik di dalam buku ini. Mungkin kapan-kapan, akan saya tulis ulang, sedikit bagian menarik dari buku tersebut di sini. :)

Friday, April 13, 2012

3:49 AM - No comments

Tentang Sebuah Pintu

Lelaki di depan pintu. Ia mengetuk pintu itu dengan ketukan perlahan. Perempuan di belakang pintu. Mendengar ketukan itu. Tapi tak berani membuka pintu. Lelaki di depan pintu kembali mengetuk pintu itu lagi. Perempuan di belakang pintu membuka tirai jendela. Lelaki di depan pintu berbicara di antara celah jendela yang terbuka. Perempuan di belakang pintu mendengarkannya. ”Bisakah kau membukakan pintu ini untukku?” Ucap lelaki tersebut setengah berbisik. ”Sebenarnya bisa. Tapi pintu itu terkunci. Aku lupa menyimpan kuncinya di mana.” ”Mungkinkah kau bisa mengingat-ingat di mana terakhir kali kau menyimpannya, Nona?” ”Entahlah. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa kepadamu. Aku memang sengaja melupakan keberadaan kunci pintu tersebut. Aku tak ingin membiarkan seorang pun memasuki pintu itu.” ”Kau pasti bisa mengingatnya! Percayalah kepadaku, Nona. ” ”Sudah kubilang. Aku tak ingin mengingat kunci itu. Aku benci harus berusaha mengingatnya!” Perempuan itu mulai terlihat emosional. ”Tapi. Tapi. Untuk keperluan apa kau ingin sekali memasuki pintu terkunci ini?” sergah perempuan itu dengan tatapan curiga. ”Err.. Tadinya aku juga bingung. Seperti ada sesuatu yang menuntunku untuk ke sini. Yang mengharuskanku memasuki pintu ini. Mungkin kita bisa memikirkan dan mencari jawaban dari pertanyaanmu setelah kau membukakan pintu ini untukku. Ku mohon padamu. Temukan kunci pintu ini, Nona.” ”Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Siapa tahu kau mau berniat jahat kepadaku.” Perempuan itu masih tetap waspada. ”Tidak. Percayalah padaku. Aku pergi ke sini sama sekali tidak membawa barang-barang berbahaya untuk mencelakaimu. Kau bisa memeriksa saluran telponmu sekarang. Jika nanti aku berbuat jahat kepadamu, kau bisa menghubungi orang yang kau percaya untuk menolongmu.” ”Hmm. . baiklah. Aku akan mencoba mencarinya. Tunggulah sebentar.” Perempuan itu melunak. ”Ya. Aku akan menunggu. ” Lelaki itu menyanggupinya. Cukup lama. Perempuan di belakang pintu mencari benda mungil tersebut. Ia mengelilingi ruangan itu. Meraba-raba di atas lemari. Di bawah kolong meja. Hingga ia menemukan kunci itu terselip di antara tumpukan benang yang belum selesai ia sulam. Perempuan itu bergegas kembali. Dia mengacungkan kunci itu kepada lelaki di depan pintu. ”Heiy.. ini! Sudah aku temukan!”Pekik perempuan itu riang. Lelaki di depan pintu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Perempuan di belakang pintu cepat-cepat membuka pintu. Meraih gagangnya. Dan. ”Cklek” Pintu itu pun terbuka. Lelaki di depan pintu terlihat canggung ketika melewati pintu itu. Keadaan yang sama dengan perempuan di belakang pintu. Ia merasa aneh, karena sana sekali tak pernah membiarkan orang asing melewati pintu ini dengan mudah. ”Jadi. Apa yang kau inginkan?” ”Ummh.. apa ya?” Lelaki itu berpikir serius, dahinya berlipat-lipat. Memandang sekeliling ruangan itu. ”Bagaimana jika kita menggunakan dapurmu untuk melakukan aktivitas bersama di sana?” Perempuan itu terdiam, berpikir sebentar. ”Ya. Boleh. Itu ide bagus” Perempuan itu mengangguk mengiyakan. ”Tapi, apa kau bisa memasak sebelumnya?” ”Tidak juga sih.. Tapi aku bisa merebus spagetti. Atau membuatkan jus. Kau suka jus?” “Ya. Aku suka sekali” Perempuan itu tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada lelaki tersebut. “Baiklah. Hmm... apa kau juga punya persediaan marshmallow? Kita bisa memanggangnya nanti bersama-sama.” ”Oke. Biarkan aku yang meracik saus Bolognaise saja ya? Aku juga akan memotong-motong buah. Kita bisa mencelupkannya ke dalam lelehan coklat.” Mata perempuan itu meyakinkan lelaki tersebut. ”Brilian! Sepertinya aku membutuhkan yogurt untuk menambahkan rasa segar pada jus kita nanti. Oh iya. Jangan lupa. Cincangan daging di sausnya jangan lupa diperbanyak ya.” Pesan lelaki itu. ”Ahh..kau ini bawel sekali seperti nenek-nenek!” Refleks perempuan itu menjulurkan lidahnya kepada lelaki itu. Lelaki itu mencubit hidung perempuan itu dengan gemas. Mereka berdua pun saling membantu memasangkan celemek, dan tak lama mereka sibuk meramaikan ruang dapur milik perempuan itu, mempersiapkan hidangan yang akan mereka nikmati bersama. Mereka menghabiskan hasil kreasi masakan mereka itu di ruang makan terbuka yang bersebelahan dengan taman dan kolam ikan dengan hiasan bunga teratai. Sesekali mereka bersenda gurau. Berceloteh riang. Membicarakan hal-hal yang mungkin mereka anggap penting. Seperti kawan lama yang baru saja dipertemukan. Sangat akrab. ”Hei.. apa kau tak bisa makan dengan pelan? Lihatlah..mulutmu penuh dengan lelehan coklat. ” Perempuan itu menyodorkan tisu kepada lelaki tersebut. ”Ah..ku rasa tak perlu. Kau pasti akan selalu ada untuk membersihkannya bukan?” Lelaki itu mengerling, menggoda. ”Heh..enak saja!” Perempuan itu memalingkan muka, sebal sekaligus jengah. Tiba-tiba pandangan lelaki itu tertuju pada rak yang berisi tumpukan buku koleksi milik perempuan tersebut. ”Kau menghabiskan waktumu dengan buku-buku tebal itu?” Lelaki itu keheranan. ”Tidak juga.. hanya sesekali jika aku sudah bosan menyulam.” Tatapannya berbinar ke arah lelaki itu. ”Kau senang menyulam?” Perempuan itu mengangguk. Lelaki itu pun berkeliling di ruangan mungil tersebut. Sesekali ia bertingkah aneh, dengan sengaja mengetukkan kaki- kakinya di lantai. Ia berjalan menuju sebuah biola yang bersender di kursi yang tak jauh dari tempat mereka duduk. ”Kau bisa...” Lelaki itu menunjuk pada biola tersebut, menatap perempuan itu. Perempuan itu mengangguk sekali lagi, lalu lelaki itu meneruskan pertanyaannya. ”Kapan-kapan kau mau mengajariku kan?” Mata lelaki itu mulai terlihat jenaka. ”Tentu saja.” Perempuan itu menyanggupinya sambil tersenyum ringan. ”Oh iya.. Kau belum menjelaskan maksud kedatanganmu ke sini?” ”Pentingkah?” Lelaki itu mulai merasa tak nyaman dengan pertanyaan barusan. Perempuan itu mengernyitkan dahi. ”Bukankah kau yang mengatakan akan menjelaskannya setelah masuk ke sini?” ”Hmm. . Iya. Tapi aku pikir itu sudah tak penting lagi.” Lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke pintu. Lalu menunduk dalam-dalam. ”Entahlah.. ” Ia bergumam. ”Aku tak tahu..” Perempuan itu pun menghampirinya. ”Hei.." Ia meraba pipi lelaki itu dengan tangan kirinya perlahan. ”Kau terlihat kebingungan.” Ia menatap lelaki itu dalam-dalam. ”Kau tersesat ya?” Perempuan itu menyentuh dagu lelaki itu dengan gestur kikuk. Lelaki itu menaikkan alisnya. Mengangkat bahu. ”Jangan-jangan kau salah pilih pintu untuk kau masuki?” Lelaki itu menggeleng. Diam tak menjawab. “Lalu?” Perempuan itu masih dengan mata jujurnya penuh rasa ingin tahu. ”Tidak penting aku salah masuk pintu atau tidak. Ku pikir waktu yang kuhabiskan bersamamu tadi itu menyenangkan. Sangat menyenangkan dalam hidupku.” Ucap lelaki itu sungguh-sungguh sambil menatapnya tulus. Perempuan itu menarik napas berusaha menahan letupan di dalam jantungnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menormalkan ledakan ini. Lelaki itu merapikan poni perempuan itu dengan lembut. Sambil menyematkan di telinganya. Lalu berkata. ”Terima kasih. Sudah membukakan pintu ini untukku.” Perempuan itu mengangguk tulus. Matanya sedikit memanas. ”Kapan pun kau mau. Kau boleh berkunjung ke sini lagi. Aku tak akan membukakan pintu ini untuk orang lain. Aku hanya...” Perempuan itu tertunduk, menahan gejolak itu lagi. ”Aku hanya akan membukakannya untukmu. Aku akan berusaha mengingat kunci pintu ini untukmu. Karena aku selalu lupa meletakkannya di mana.” Ucap perempuan itu hati-hati dengan tatapan paling jernih yang pernah lelaki itu lihat. Lelaki itu tertawa. ”Terima kasih. Terima kasih.” Lelaki itu melambaikan tangannya. Pergi. Lalu si perempuan itu pun mengunci pintu kembali. Catatan Setahun Lalu 130411

Wednesday, April 11, 2012

6:09 PM - 1 comment

My Darkest Note

Jelas-jelas Tuhan ingin menguji saya lagi di dini hari itu. Saya yang dalam keadaaan aman dan sentosa. Terpancing untuk berada di sudut itu kembali dengan tertunduk pasrah. Memejamkan mata. Memutar ingatan. Gelombang rekaman. Bayangan berkelebatan. Suara-suara. Potongan-potongan gambar. Samar namun tetep terdengar. Saya ingin berteriak!

Demi Tuhaaaaaan.. Sayalah! Ya. Sayalah! Sosok yang di usia seperti ini, masih tetap menutup mata menerima tanggung jawab kedewasaan. Saya tahu. Sejak kecil. Saya sudah memperkirakan. Pergantian fase-fase hidup yang lambat laun terlampaui ini. Tapi ini terlalu cepat. Cepat. Amat cepat.

Katakanlah, ada seseorang yang dulunya pernah melakukan dosa yang tak termaafkan baginya atau orang lain. Ia sadar. Lalu bertobat. Dan meminta ampun kepada Tuhan. Ia pun dinyatakan bebas dari segala perkara. Tapi. Bagaimana dengan orang yang sama sekali tak pernah melakukan sesuatu apa pun di kehidupan sebelumnya? Tanpa kesalahan. Tidak juga kebaikan. Apa yang tersisa dari hidupnya itu? Tak ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Tak perlu juga sesuatu yang harus dpuji. Sama sekali tak ada bekas dari hidup sebelumnya itu yang perlu diingat. Hilanglah kesempatan. Terhormatkah ia? Saya. Sayalah. Orang barusan.

Lalu. Saya mengingatnya. Orang itu. Saya meyakininya. Mempercayainya hingga membagi rahasia saya kepadanya. Bahkan rahasia tergelap sekalipun. Hanya kepadanya. Ia tak seharusnya diragukan. Karena, sayalah yang sepantasnya diragukan untuknya. Di sampingnya. Saya tahu, apa dan siapa saja yang mengitarinya. Berbanding kebalikan dengan saya. Yang berdiri rapuh di antara apa dan siapa. Jadi. Saya selalu siap. Jika siapa dan apa yang mengitarinya itu tak cukup baik menghayati saya suatu saat nanti. Atau sekarang misalnya. Karena saya hanyalah sekejap menghampiri hidupnya. Tak lama. Tidak seperti apa dan siapa yang sudah cukup lama mengitarinya

Padahal. Saya sudah berdoa mati-matian kepada Tuhan sebelumnya. Cukuplah berikan saya seseorang yang biasa saja. Yang tak perlu menghantui perasaan khawatir kepada saya dan hidup saya nantinya. Saya mengamininya. Tapi. Tuhan tak mengabulkan. Atau belum mengabulkan? Apabila akhir ini, adalah bukanlah bersamanya. Tidak apa-apa. Saya siap. Jika harus menjadi seseorang yang terlupakan bagi dirinya. Saya sudah punya rencana hebat. Saya sudah menyiapkannya dengan matang. Walau ini membutuhkan waktu dan siksaan yang lama. Menjadi sesuatu yang kejam untuk dirinya, dan saya. Saya punya alasan.. saya hanya ingin berhati-hati dengan ekspektasi terlalu tinggi. Sendiri. Tidak menjamin kamu memiliki teman. Punya kekasih. Atau keluarga. Bisa saja kamu malah tak bisa membagi apa yang menggelisahkanmu saat ini. Belum tentu mereka bisa memahaminya. Sendiri. Mungkin hanya kamu yang bisa mengatasinya. Saya mengoreksi. Saya egois. Ada yang salah dalam diri saya. Geliat yang tak terkendali Saya hanya mau berurusan dengan kepentingan. Jika kepentingan menghilang. Maka saya akan kembali menjadi egois. Saya memang brengsek! Tapi. Mengapa masih saja ada orang yang ingin menguliti cara hidup saya ini dengan tidak elegan? Apa sih yang perlu dihayati dari sosok sampah seperti saya ini? Yang berserakan di sini hanyalah omong kosong. Sedikit pernah hidup dengan riuh tepuk tangan, tatapan kekaguman dan sikap mendewakan. Saya muak! Saya hanya ingin menjadi seseorang yang tak pernah tampak di mata orang lain. Saya ingin keberadaan saya tak perlu diperhatikan oleh orang lain. Saya ingin terlupakan. Terbuang. Terabaikan. Dini hari itu bukanlah insomnia. Tapi semacam alarm Tuhan untuk saya. Saya mengiba, mempertanyakannya kepada Tuhan. Dan melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan hamba kepada Padukanya. Tapi Tuhan tak menjawab. Mungkin masih ingin mengulur-ngulur jawaban itu untuk saya. Pagi itu. Saya memutuskan untuk berkeliling. Bersepeda. Menjelajahi kota ini. Saya jadi ingat satu kejadian di pertengahan tahun 2007. Keadaan yang nyaris sama saat saya kehabisan nafas kehilangan pegangan. Saya melarikan diri ke sebuah pulau. Saya mengumumkan kepada teman-teman bahwa saya terdampar di pulau itu. Tak ada kegiatan penting yang saya lakukan di sana. Setiap sore di pulau itu, hanya menikmati matahari terbenam di dermaga sendirian. Merasakan gelombang-gelombang air laut di bawahnya. Nelayan dan beberapa orang yang memancing di sana melihat saya dengan tatapan aneh. Tapi. Selama mereka tak mengganggu rutinitas ini. Saya tak peduli. Paginya pun saya bersepeda. Mengambil rute yang tak terlalu jauh di sekitar pulau itu. Saya tak ingin membuat ini semakin ruwet. Dan pagi itu. Saya melakukan hal yang sama. Berkeliling di jalan- jalan aman yang saya tahu. Karena cukuplah pikiran ini yang tersesat. Saya tak ingin tersesat dalam kondisi nyata. Masih pagi. Saya mengayuh melewati pusat perbelanjaan. Tak terlalu banyak aktivitas mencolok. Ada penjual nasi pecel yang mulai menyiapkan dagangannya. Satu dua gereja yang nampak ramai oleh jema’atnya untuk mengikuti kegiatan kerohanian. Orang-orang jogging, berjalan-jalan dengan anjing peliharaan mereka. Terlihat ada juga yang duduk-duduk di warung menikmati kopi pagi. Atau bersepeda seperti saya. Di kota ini sepertinya sudah ada komunitas pecinta sepeda. Saya lihat dari kostum kuning oranye yang mereka kenakan. Namanya OCC, kalau tidak salah singkatannya adalah Orzy Cycling Club. Entah. Saya tak terlalu yakin dengan huruf O-nya . Sepeda saya pun mengarah ke jalan Kilisuci, lalu belok ke pasar pahing yang cukup ramai. Dan kembali melewati Sri Ratu. Saya teruskan ke arah Imam Bonjol. Ada hal yang cukup menghibur ketika melewati jalan ini. Sebelum perempatan di sebelah kiri jalan. Ada banner dengan tulisan yanng cukup menggelikan : ”Pengobatan Tradisional Alat Vital oleh Mak Iyot asal Banten” . Oh.. Goaaaaaaat! Saya ingin tertawa sekeras-kerasnya! Kayuhan saya berlanjut ke jalan A. Yani. Di sebelah kiri jalan ini ada warung bakso yang setahun lalu pernah saya kunjungi bersama Om dan Tante selepas bepergian dari Blitar. Sebenarnya ada yang saya cari di dekat situ. Menemukannya. Tapi saya hanya meliriknya sebentar. Saya meneruskan perjalanan ke jalan Joyoboyo. Yang mana, lagi-lagi warung pecel di sebelah kiri jalan itu pernah saya nikmati pagi-pagi bersama Om dan Tante. Saya bergerak ke arah ladang tebu, dan disebelahnya berdiri megah bangunan-bangunan perusahaan rokok yang mendominasi di kota ini. Gudang Garam. Aroma tembakau menguar dari balik gedung-gedung itu. Saya suka wangi tembakau. Tapi menjadi kebalikan. Ketika ia dibakar dengan sengaja. Saya benci. Sungguh benci! Di sini terdapat rumah pribadi pemilik perusahaan rokok tersebut, konon di dalamnya terdapat satu kawasan khusus untuk penangkaran hewan-hewan peliharaan. Semacam kebun binatang lah. Tapi saya tak tahu pasti. Di depannya saja sudah banyak sekuriti yang berjaga. Sepertinya keberadaan rumah itu masih jauh di dalam. Karena halamannya begitu luas, tak bisa terlihat dari luar. Di antara bangunan-bangunan itu. Terdapat satu bangunan megah bernama Sasna Kridha Surya Kencana. Gedung ini biasanya digunakan untuk perhelatan besar, seperti pernikahan dari keluarga pemilik perusahaan rokok ini dan acara-acara lainnya. Malah di depan gedung itu, terdapat pangkalan helikopter. Pernah dengar sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan ini di tahun 2008 tidak? Tak usah dijelaskan ya. Pemandangan yang menarik juga. Ketika melihat seorang nenek renta di pinggir jalan sepanjang kawasan bangunan ini, sedang asyik menikmati tabung nikotin di bibirnya. Sepertinya. Beliau tidak terlalu ambil pusing. Usianya mungkin renta. Tinggal menunggu panggilan Yang Maha Kuasa. Jadi, beliau tidak perlu berkonsultasi dengan Mak Iyot akibat dari apa yang ia hisap. Tidaklah ada sesuatu yang hebat yang perlu tangkap dari tulisan ini. Tidak berarti. Tidak menginspirasi. Tak akan mengubah dunia. Saya hanya berusaha jujur kepada diri saya sendiri. Tiap-tiap dari kita pasti ingin mencari pembenaran-pembenaran dari apa yang terjadi. Entah dengan cara Tuhan. Atau pun non-Tuhan. Lihatlah. Betapa mudahnya memberi terapi kepada orang lain. Tapi memberi terapi untuk diri sendiri.. .susahnya tak terbayangkan. Penyesalan yang tak berkesudahan. Kekecewaan yang mustahil ada kesembuhan. Saya ingin mencoba mengobatinya sendiri. Saya. Tetaplah akan menjadi saya. Seseorang di sudut sana yang masih perlu tuntunan. #Tere~ Sendiri Saya suka lagu ini. Saking sukanya saya pernah menuliskan liriknya di diari ketika berusia 15 tahun. Beberapa hari yang lalu. Om memutar lagu ini lagi tanpa sengaja. Beliau memang suka dengan lagu-lagu lama. Saya kembali teringat saja. Di hari ini. Tuhan memutuskan untuk menghukum saya. Menghilangkan apa yang pernah saya milliki. Tak apa. Apa sih yang kekal di sini? Saya memilih Tuhan menghukum saya di sini. Daripada menghukum saya di akhirat nanti. Apa? Saya membicarakan akhirat? Yang pasti. Sehina apapun saya. Saya tak ingin keimanan saya terambil. Catatan Setahun Lalu. 120411