Sunday, February 15, 2015

2:50 AM - No comments

TeCaTe

Maklum lagi musim ujan gini, akhirnya kena flu juga. Awalnya suara agak parau, lalu kayak ada lendir di tenggorokan yang minta dikeluarin. Abis itu pilek, dan jadilah batuk. Apalagi kalo maemnya nggak bener, juga kurang istirahat. Klop deh. Pokoknya minum banyakiiiiin, sampe bolak balik kamar mandi. Makannya juga terutama, malah kalo bisa makan yang berkuah aja. Intinya banyakin cairan biar mengencerkan lendir di hidung dan tenggorokan.

Wiken pun diusahain di rumah. Paling banter kemarin kebagian jatah piket dan nganterin cd file ke rumah Bos. Hari Minggu full di rumah, leyeh-leyeh total.

Oia, kemaren sempe juga namatin film PK. Film India yang dibintangi Amir Khan. Bagus laaah, walo masih lebih bagusan 3 Idiots. Temanya menarik. Kali ini temanya tentang agama. Khas nyindirnya pun juga sama kayak 3 Idiots. Kocak, konyol dan memberi pelajaran. Ada bagian yang bikin terharu juga. Pokoknya liat aja dulu, rekomendet coy! Kalo karakter, aku terpesona sama si Jaggu. Ku kira si Jaggu ini pemain baru. Ternyata doi itu Anushka Sharma yang pernah maen di film Rab Ne Bana De Jodi itu. Dan menurutku di dua film ini mukanya beda banget yah?

Gambarnya dicolong dari sini loooh. Dan berikut muka doi waktu di PK ini.

Mukanyaaaaa, walo lebih feminin yang pertama. Tapi aku lebih sukanya yang terakhir loooh. Minimal make up but looking fresh still. Wuwuuu.. Karakternya juga menyenangkan. Asal foto nyomot dari sini.

Dan tadi pagi aku juga baru aja liat Maleficent. Buagoss jugak! Aktingnya Jolie alus dan menakjubkan. Seperti yang sudah-sudah, aku emang selalu tertarik sama latar belakang peran antagonis daripada protagonis. Haha. Bahkan cuman separohnya aja Maleficent jadi jahat. Separoh terakhir dia memperlihatkan ketulusannya ke Aurora. Muka para pemerannya juga uwokeh-wokeh. Dari Sam Rilay, Elle Fanning sebagai Aurora. Dan yang imut imut cantik bin manis, pemeran Maleficent kecil yakni Isabelle Molloy.

Dapet gambarnya dari siniiih.
Wohh, canteeeeknyooo.. Gaun-gaun yang dipake Aurora juga cantik! Jadi postingan ini bertemakan tek-canteeeek!
Cute kan? Gambarnya juga masih dari gugelan ini, haha.

*TeCaTe : Tek Cantek.

Monday, January 26, 2015

12:17 AM - No comments

Kebangetan!

Momen bengong terjadi, ketika penulisan; nama kota, pulau, danau dll yang kadang ditemukan dalam legenda pada sebuah peta sudah terselesaikan. Tertegun sambil memandang jalanan dari balik jendela.

Teringat, sudah sebulan lebih sehariii aku 'diikat' oleh +Kadarisman Ahmad S . Umh..ya belum seberapa sih memang jika dibanding pasangan lainnya. Apalagi, ikatan ini juga masih belum terlalu kuat untuk menghalalkan interaksi kami.

Kebetulan, adek yang kuliah di PNJ Depok sedang liburan dan baru saja pulang. Kami berbincang banyak, terutama kuliah, bisnis onlinenya yang tersendat dan kegiatan di luar kuliahnya di sana. Hingga sampailah pada topik acara pertunanganku. Dia pun menanyakan dari awal bagaimana proses penyatuan kami hingga sekarang. Aku bercerita blah blah blah. Yang kemudian ditanggapi dengan kesangsian adekku, yang malah ditujukan kepadaku. Iya, justru aku yang  'diragukan' oleh adekku sendiri, untuk hidup bersama +Kadarisman Ahmad S. Haha. Jangan kaget lah..

Dulu juga pernah ada yang bilang begitu, itu dari pihak teman junior +Kadarisman Ahmad S. Tapi, kami tetap begini dan baik-baik saja. Dan semoga hingga nanti selamanya.

Mungkin kepantasannya jika ditilik dari sisi religiusnya, yang mana aku mungkin terlihat 'nggak-ada-alim-alimnya'. Haha. Tapi perlu ku sertakan sedikit, ketika aku sempat melaksanakan sholat Istikharah. Karna pada 'beberapa' sebelum @arissmn, aku memang belum pernah mencoba Istikharah. Itulah, menurut adekku kenapa kok aku 'nggak-ada-alim-alimnya', kali ya. Muehehehe.

Untuk @arissmn, sebelumnya aku juga pernah meminta bantuan teman dalam Istikharah. Hasilnya bagus. Sedangkan aku sendiri, alhamdulillah dapat petunjuk yang baik juga. Yakni berupa ayat-ayat Al-Quran yang salah satunya dijadikan doa untuk mendapatkan pasangan dan keturunan yang bertakwa serta menyejukkan hati. Doa ini termasuk cukup populer lah.. Yakni surat Al-Furqon ayat 74.


Alhamdulillahirobbilalamin.

Di akhir sebelum kami membahas topik lainnya, adekku menyatakan bahwa kami pastinya akan menyeimbangkan satu sama lain. Amiiiin.

Pesan-pesanku semalam, pada obrolan singkat kami di telpon;
- Jaga kesehatan! *eaaak
- Jangan telat makan! *double eaaak, eaaak
- Doakan 'kita'! *wohwowoooh
- Tetep sayang akuuu..
====> BANGET!

*dijawab gitu sama beliau.

Tuesday, January 13, 2015

Mau Nambah Angka

Mencoba mengkhayal tepat di tanggal ini bertahun-tahun lalu. Betapa rempongnya ortu mempersiapkan kelahiran seorang manusia kayak daku ke dunia. Jasa ortu ke kita memang tiada disangkal-sangkal lagi. :(

Satu hari sebelum tanggal ini, dan bertahun-tahun setelah aku lahir. Adek sepupuku, Isa Yudawati pun juga mengalami momen sama. Yoi, dia emang lahir tanggal 13 Januari. Sebenernya masih ada lagi sodara dan keluarga lainnya yang rame-rame lahir di bulan Januari. Asik, bulan ini menjadi bulan keroyokan buat traktiran. Haha. Tapi, jarang malah mau ketemu mereka yang pada lahir di bulan Januari. Traktiran pun tak pernah ada. Kakakku yang juga lahir di bulan ini, malah santai banget kalo lagi ultah. Kecuali taun ini, dia mesti rempong buat ngurus perpanjangan SIM! Sepupu atau ponaan lain yang lahir di Januari ini pun jangan diharapkan nraktir, mereka bisa cebok mandiri aja udah untung.

Maklum, mereka masih pada balita semuanyaaa. Jadi gagal lah semua rencana traktiran. Hahaaaa.

Lalu tentang Yuda ini, tadi tetiba bilang kalo doi ngerasa di umur segini pengen ngejalani tanggal ulang taun dengan biasa-biasa. Malah pengen nikmatin sendiri aja.

Aku cengo lah jadinya. Mungkin..temen-temen Yuda ada rencana bikin surprise.. Yang mungkin juga..udah keendus duluan sama Yuda-nya. Dan doi ngerasa nggak asik lagi, kalik. Umhh..

Ya..aku pun turut mengamininya. Aku juga males hip hip hura tralala kalo lagi ultah. Kalo pun besok ada bancaan sederhana di tempat kerja, itu pun sekedar matuhin 'aturan main' aja. Karena jujur, bulan ini malah pengeluaranku kesedot biaya perpanjangan STNK dan SIM juga. Kalo pingin ngirit, sih ya kepingin banget. Tapi sekali lagi, dunia kerja emang mepet banget hubungannya sama persoalan sosial, hubungan antar manusia. Kalo beda, kita bakal dikucilkan. Ini juga bukan berarti aku nggak jadi diri sendiri, tapi diniatkan untuk berbagi setaun sekali. Dan ketika umur bertambah besok, menurutku merupakan momen yang tepat untuk berbagi.

Yap, yang penting kata Yuda hampir berbarengannya tanggal serta bulan kami lahir merupakan hal lucuuk. Yukk, berbahagia!  :)))))

Thursday, January 8, 2015

Gelombang, Seri Ke Lima Supernova

Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin 'nambah' sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan'. Atau paling tidak, 'bersabar' dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir'.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tanpa kekhawatiran akan ada yang membunuh kita sebelum terbangun?

Itulah alasan, mengapa Alfa mengiyakan pekerjaan yang membuatnya selalu terjaga. Di luar ia ingin membayar hutang Bapaknya pada saat mengirimnya ke Amerika, atau mewujudkan impian Amanguda  Hoboken untuk pulang ke Indonesia bertemu pohon Andaliman serta memakamkan abu Inangudanya.

Obsesi Bapak Alfa pada gelar dan kesuksesan, berimbas pada nama-nama tokoh yang ia sematkan pada nama anak-anaknya. Mungkin agak janggal di Indonesia, jika ada orang bernama Sir Issac Newton. Tapi menjadi biasa malah cenderung kocak, ketika nama penemu Gravitasi tersebut diplesetkan menjadi Uton, atau Albert Einstein menjadi Eten. Dee memang jenius sekaligus jenaka dalam pemberian nama tokoh.

Merantau yang menjadi ciri khas pada hampir setiap suku di Indonesia, tak lepas dari kisah hidup Alfa. Bekerja keras dan mencoba peruntungan di daerah lain, atau bahkan negara lain. Di singgung pula tentang kehidupan keras kawanan gangster Hoboken yang terus berperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan. Juga tempat yang dijadikan persinggahan banyak keluarga imigran gelap, yang malah lebih mengkhawatirkan inspeksi petugas imigrasi ketimbang polisi narkotik.

Hingga pada Alfa sukses mendapatkan beasiswa, menyelesaikan kuliahnya dan bekerja, alur cerita masih terasa kuat. Namun ketika memasuki pencarian tentang "keistimewaan menakutkan" yang dimiliki dirinya, yang menjadi poin utama buku ini malah terasa lemah.  Seperti kabut tipis yang menghalangi nikmatnya buku ini.

Baru pada saat keputusannya untuk pulang tiba-tiba ke Indonesia, alarm berdenyut yang memperingatkan tentang seseorang di pesawat. Entah itu Infiltran maupun Sarvara. Adalah penutup yang memberikan ketegangan seperti menonton film 'thriller' di bioskop.  Sayang hanya sebentar. Tak bisa ditemukan jawabannya, kecuali kita harus sabar menunggu buku selanjutnya.

Namun di antara semua kehidupan yang dijalani Alfa, terutama ketika di Amerika. Saya malah tertarik pada biji Andaliman, yang harus pertama kali diselamatkan oleh orang Batak  ketika ada kebakaran maupun bencana alam di tanah perantauan. Sekalipun itu tinggal segenggam saja. Jujur, saya jadi penasaran dengan biji ini. Yang bentuknya menyerupai merica hitam, dan konon dapat menyulap semua makanan menjadi masakan Batak. (hlm146)

Bisa segitunya orang Batak melindungi biji Andaliman dengan nyawanya? Wow!

Banyak ungkapan, maupun dialog dalam Bahasa Inggris pada buku ini. Namun Dee memlih untuk tidak menerjemahkannya. Mungkin menimbang bahwa bahasa tersebut sudah bukan bahasa baru lagi yang harus diterjemahkan satu persatu, juga menganggap tingkat intelektualitas pembacanya sudah mampu memahami secara tekstual. Catatan-catatan kaki yang juga sangat membantu memahami istilah medis, bahasa "slank" ala New Yorker, selipan bahasa daerah Batak maupun bahasa-bahasa negara lain. Seakan-akan menguatkan bahwa buku ini benar-benar dibuat serius, tidak setengah-setengah.

Nama Buku: Gelombang
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 482 halaman

Friday, January 2, 2015

7:00 PM - No comments

Blusukan Bersama Buku

Nggak ada niat mau keluar seharian ini. Malah ada instruksi nganter Dedek Hanip ke rumah kakak di Manyar. Jadi setelah Jumatan, cus menuju Manyar. Abis nganter, kuarahin motor ke tobu Rumah Buku Surabaya di Jalan Ngagel.

Parkirannya luaaaass, di depan tokonya "berserakan" buku-buku diskonan. Tapi males ubek-ubek, karna posisi tobunya menghadap ke barat. Akibatnya panaaas. Dan ternyata, di dalem pun fanaaass. Bgt! Di dalem tersedia kipas angin sih, tapi nggak ngaruh keknya. :( Makanya bikin nggak betah lama-lama. Mana sepi pengunjung. Mungkin malah aku aja, pengunjung satu-satunya. Buku-bukunya yaaa..gitu-gitu aja. Kebanyakan cuman ku bolak-balik, trus ku tinggal. Apalagi bukunya bersegel semua, nggak ada sampel samsek. Makanya nggak bisa ngintip isi bukunya. Huuuh.

Karena udah mati gaya di sana, langsung cepet-cepet keluar. Nggak kuat panasnya. Sampe parkir pun, kerasa auuuss banget. Aku buru-buru minum air mineral di motor. Glek. Glek. Nggak nyadar ada yang merhatiin. Mas-mas yang markirin motornya sebelahku, nyeletuk karena terpana ngeliat aku nikmat banget minumnya. Hehe. Serius sumuk beneeeer di dalem sanaaa. Rumah Buku bikin nggak seru lagi dimaenin untuk kedua kalinya. >_<

Masih belum sore banget, blusukan bukunya kulanjutin lagi. Masih di jalan yang sama, aku berhenti di depan Tobu Uranus. Nampaknya aku punya feeling meyakinkan untuk Tobu satu ini. Yah..paling nggak masih lebih asik daripada Tobu sebelumnya. Hehe. Ternyata beneran iya. Walo di dalem nggak ada pendingin ruangan, tapi terdapat beberapa kipas angin yang cukup menyejukkan. Mau keliling lama-lama, asik-asik aja. Muterin stand bukunya pelan-pelan.

Bangunannya terdiri tiga lantai. Lantai pertama terisi buku-buku novel dan populer, juga alat tulis. Lantai kedua terisi buku-buku pelajaran. Dan lantai ketiga yang paling ku suka! Beda dengan Rumah Buku yang meletakkan buku-buku diskonannya secara outdoor, di Uranus nggak usah takut kepanasan. Jadi bikin nggak males deh mau pilah pilih buku.

Selain ituuu, banyak sekali buku dengan harga miring. Kisaran 5 ribu hingga 20 ribu rupiah sahajaaa. Aaaaakk. Langsung borooong 3 biji. Hohooo. Kenapa ya..jadi mulai mengurangi bacaan novel. Malah beli buku-buku begituuu. Ini emang pertanda ingin menumbuhkan kematangan dan persiapan kedewasaan untuk menikah. Huyuuuhh. Colek @arissmn ahh. :3

Ini penampakan buku-bukunya..


Lumayyaaaan..jadi punya referensi tobu di esbeyeh. Selain gramed, gunung agung atopun toga mas. Tapi tetep, Toga Mas lah yang masih favorit! :))

Wednesday, December 24, 2014

12:09 AM - No comments

Before I Say 'Yes, I Do'

Mendekati hari akan 'diikat' secara resmi, bikin nggak nyaman. Hrrr. Sewaktu dia aja bilang kalau keluarganya lagi persiapan mau ke rumah, sesi dag dig dug sudah dimulai! Apalagi kurang lebih 24 jam lagi iniii.. Makjaaaang..

Semingguan ini malah kami banyakan berantemnya. Makin intens! Dari yang sepele, sampe perkara acara pinangan juga. Ya, memang kami sangat kurang pengetahuan masalah tradisi, kurang persiapan, kurang waktu yang dimepetin dengan liburan akhir taun ini, belum lagi jarak yang berjauhan hingga menyulitkan komunikasi yang kurang utuh. But, yowislah..

Langkah kami ini memang harus dimulai. Dan dijalani, satu persatu. Tap. Tap. Tap.

Di luar deg-degan dan ketakutan yang mengganggu ini, masih terselip buncah kebahagiaan.
Oh, I'll get his proposal tomorroooow..

Saturday, December 13, 2014

10:35 PM - No comments

Kota Seribu Sungai Part 1

Dengan segala ketiba-tibaan yang tak dinyana dan disangka ini, ortu ngajak berwiken ria di Banjarmasin. Segalanya bermula karna ortu ingin mengunjungi mesjid di kota tersebut. Katanya sih emang di Banjarmasin ini terkenal wisata relijinya, selain sungai dan sotonya itu.

Tiket pp dipesan. Hotel pun dibooking.


Berangkat dari Juanda sekitar jam 6, estimasi setelah Subuh dari rumah. Dan alhamdulillah, perjalanan baik dari rumah menuju bandara hingga sampai Banjarmasin ditakdirkan lancar jaya. Bahkan sebelum check in di hotel, kami sempat berkunjung ke Jembatan Barito dengan sungainya yang membentang lebaaaarr. Ya, sesuai namanya di bawah jembatan ini sungainya pun bernama sama. Bukan Brantas, apalagi Bengawan. Haha.



Untuk aku, ini pertama kalinya menginjak pulau Indonesia selain Jawa, Madura dan Bali. Sedangkan ayahku mungkin ini sudah ke sekian. Tapi kota Banjarmasin, menjadi pengalaman pertama kali bagi kami bertiga.

Kami menginap di Aria Barito Hotel. Sebelumnya aku pernah googling tentang hotel ini. Dan yang ku baca dari seorang blogger, dia menilai hotel ini buruk. Wah, langsung feeling nggak enak aja dong. Di google, rating hotel menunjukkan 3 bintang.



Eh tapi setelah kami ngaso santai di sini, ternyata? Yah lumayan lahh, daripada gelandangan di jalan. Aku juga nggak paham layanan hotel yang super itu mesti gimana. Yang kutau kamar empuk, ada pendingin ruangan, tv, kamar mandi bagus dilengkapi air anget dan segala pernik peralatan mandi. Minusnya emang kalo dari dalem kamar, bisa kedengeran kegaduhan di lorong depan kamar. Wifinya juga sesak napaaass. Haa. Dan ini pojok kamar yang ku suka.



Tapi bencana di malemnya, pas abis Magrib listriknya padam! Alamak. Untung nggak lama. Tapi efeknya, lampu lorong depan kamar tetep padam. Dan layanan tv sama telponnya mati. Wooohh..komplen ke cs-nya aku udah kayak nggak santai gituu. Haha. Jawabannya klasik sih, "ini masih ditangani" dijawab beberapa kali. Kata ayahku yang beliau baca di koran, di Banjarmasin emang listriknya sering padam. Itu yang bikin rugi malah. Nggak paham juga penyebabnya. Sampe kami makan malem di Rumah Makan Padang Sederhana yang masih di area hotel pun, listriknya sempet padam. Ajib.

Siangnya kami nyari makan. Aku liat di inet katanya di seberang hotel ada rumah makan ayam penyet gituu. Haah, jauh-jauh ke Borneo cuman mau makan penyetan kayaknya rugi besar yaa. Yoi, yang menarik sih sop buntutnya, sayang tutup. Sampe malem pun tutup. Tauk apa emang tutup untuk selamanya..atau emang karna wiken gini. Pilihan pun jatuh pada warung soto pinggir jalan sebelah kiri hotel. Ya..kira-kira berapa meter lah. Lupa nama depotnya apa. Yang pasti, masing-masing kami pesen soto dan nambah seporsi sate. Porsi sotonya buanyaaak, rasa pun lumayaaan dah. *padahal juga belum punya pengalaman makan soto Banjar. Masih sebatas soto Madura, soto Lamongan, soto Betawi dan Coto Makassar. Walau porsinya melimpah, tetep aja ludeees. Maklum, dari pagi emang belum makan. Oia, yang enak itu bumbu satenya. Warna bumbunya pun bukan coklat agak gelap seperti yang biasa kita makan di Jawa. Warnanya cerah kemerah-merahan. Total kerusakan sekitar 60 ribu. Sotonya masing-masing 14 ribu, satenya 12 ribu dan teh anget 2 ribu. Di sana pun menyediakan soto setengah porsi. Ya mungkin karna emang seporsi utuhnya jumbo kali yak.

Setelah makan, kita solat Dhuhur. Dan aku baru menyadari keanehan di hp. Karna jamnya otomatis mengikuti daerah WITA. Yang biasanya Dhuhur mungkin setengah dua belas, di sini jam setengah satu. Dan setelah itu kita tidoooorrr. Yang malah nggak nyenyak. Haha.

Sore abis Ashar, kita cus ke Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan Taman Siring. Mesjidnya itu mungkin semacem masjid agung di kota ini, gitulah. Bangunannya gede dan kompleksnya luaaass. Ada sekolah TK-nya juga dan sekumpulan pepohonan yang rindang di pojoknya. Katanya, ini dulu asrama militer. Tapi kemudian diratakan dan dibangun mesjid di atasnya.



Puas keliling, kita melanjutkan perjalanan menuju tempat di seberangnya. Karna tepat di depan masjid, ada Taman Siring. Ini katanya tempat gaul di sini looh. Saking gaolnya dijadiin ajang main skate board dan sepatu roda. Buanyaaak anak mudanya dan yang lebih muda lagi; Anak-anak! Banyak mereka yang latian sepatu roda. Meski itu masih tertatah. Ngliatinnya sereeem, masih anak kecil tapi nyalinya gede. Bahkan ada loh, yang masih di bawah umur 5 taun!



Perjalanan pertama, kami lewat depan mesjid Sabilal Muhtadin yaitu jalan P. Sudirman sisi sebelah kiri dari sungai Martapura. Nah, yang paling rame itu sisi sebelah kanannya sepanjang jalan P. Tendean. Rame, apalagi karna malem minggu. Para bocah masih semangat aja mainnya. Ternyata dari hasil interview ibuku, mereka, alias para bocah ini lagi latian persiapan buat lomba sepatu roda di sana. Wohooo.. Sok asik sekali. Ada juga yang sudah dewasa tapi masih bisa dihitung jari.



Yang cukup mengecewakan di sini, banyak sekali sampah di sepanjang jalannya. Entah itu dari kurangnya perhatian dari pemkot, atau kesadaran masyarakatnya. Bahkan di pagar yang membatasi jalan dan sungai banyak ditemukan gelas plastik bekas minuman. Di pinggiran sungainya pun juga ada kumpulan sampah. Huhuuu. Sangat disayangkan. Coba di luar negeri, sungai-sungai begini pasti dikelola dengan cukup baik. Yah, nggak usah keluar negeri dulu lah, karena aku pun juga belum pernah melancong keluar negeri.Yang terdekat seperti Surabaya, taman-taman di pinggir sungainya sangat tertata dan terjaga kebersihannya. Apalagi taman ini sudah menjadi ikon menarik di Banjarmasin, selain taman terbuka bagi warganya.



Karna mau Magrib dan kaki sudah menyerah tanda kecapekan jalan, kami balik ke hotel. Padahal sepanjang sisi kanan kiri sungai tersebut masih panjang loh. Tapi emang udah ampun-ampunan jauhnya.

Di hotel siap-siap solat Magrib dan makan malam. Karna masih penasaran dengan sop buntut di sebrang jalan hotel..berangkatlah ke sana lagi. Namun, lagi-lagi tutup. Buuuh.. Dengan pilihan terakhir, kami melangkahkan kaki menuju RM Padang Sederhana yang masih satu area dengan hotel. Di sini lah tempat makan yang sadis. Biaya makan kami bertiga melebihi angka dua ratus rebu. Waduuduuuh. Mehooong beneeerr. Sebotol air mineral Club ukuran tanggung dihargai 5 rebuu. Lauknya perpotong 16 rebuu. Kiamaat. Haha. Soal rasa ya gitu lah..sama aja kayaknya. Besoknya pas baru mendarat di Juanda, sempet beli makanan di RM Padang pinggir jalan, bertiga cuman 50 rebu sisa seribu lohh. Hehe.

Di hari kedua akan disambung lagi yaa..

Thursday, November 27, 2014

1:06 AM - No comments

[Bukan Resensi] Novel The Maze Runner Series

Berbekal buku pinjaman teman pada Jumat lalu. Maka, saya memulai membaca bukunya di hari Senin. Yap, buku pertama telah diangkat ke layar lebar, nampaknya laku dan langsung ngeheitss di hari-hari penayangannya. Saya nggak nonton, dikarenakan..dikarenakan takut dikecewakan. Hehe. Seperti yang pernah dilakukan Annabelle kemarin. Entah lah, saya akhir-akhir ini sudah putus harapan kalo ngebioskop euy. Kalo nggak kepingin-kepingin banget.

Oke, langsung pada apa yang ingin saya tulis setelah membaca The Maze Runner Series ini. Sekedar mengingatkan. Ini bukan resensi, ulasan, atau sinopsis bahkan ditakutkan malah ada sedikit cuplikan spoiler di luar kesengajaan saya. Bisa memojokkan penulis, atau memujanya. Terserah.

Buku pertama saya selesaikan di hari Senin. Alurnya bagus, tiap halaman yang saya buka selalu membuat saya penasaran. Ya, penasaran. Itu modal awal kita jika ingin mengetahui sesuatu bukan? Sekelompok abg yang dihilangkan ingatannya, dikumpulkan untuk bertahan hidup dengan berbagai rintangan, kalo menurut bukunya disebut variabel. Keseluruhan di buku pertama saya suka, walo masih menyisakan banyak pertanyaan di kepala. Karakter tokohnya pun mulai menonjol, selain tokoh utama. Semisal Newt dan Minho yang sangaaat saya suka. Terutama Newt, setelah saya selidiki siapa yang memerankannya di film tersebut. Huff. Ya, Thomas Sangster cute sekali loh! :6 Padahal samsek belum nonton, aihh.

Sama dengan buku pertama, juga saya selesaikan sehari. Di buku kedua ini, ketidaksukaan saya mulai tampak. Ceritanya membingungkan dan tidak jua menjawab banyak pertanyaan yang tlah timbul di buku pertama. Malah ada loh, yang bikin saya kesel. Hadeh. Saya benci kamu, Teresa! Di buku pertama dan di awal buku kedua, si Thomas digambarkan (terlalu) terobsesi dengan si Tere ini. Penggambarannya inilah yang kerasa janggal.

Terdapat istilah crank, pengidap penyakit Flare. Apa itu Flare? Katanya sih penyakit ini menyerang otak, efeknya bikin gila dan kalau udah tahap "Gone", hilang sisi rasional dan manusiawinya, trus jadinya makan orang deh! Sama kayak Zombie yak? Yoi, pada buku kedua ini saya merasa suasananya kayak Resident Evil. Hehe.

Yang bikin kerasa juga. Kenapa tiap ada apaa gitu, jedanya pasti dengan tidur, istirahat, kalo nggak ya makan. Kayak udah terjadwal makan dan tidurnya. Kenapa nggak sekalian sama mandinya juga, ya? Cuci baju? Masak? Hrrrrr.. Abaikan.

Menginjak buku ketiga, saya sudah mulai bosan. Gairah untuk membaca sudah menurun. Tapi saya bela-belain aja dan pasrah. Karena udah terlanjur maraton.

TERNYATA?? Masih sama! Kenapa dan apa, masih belum memuaskan dengan hanya menyelesaikan bukunya. Pilihan Thomas untuk menolak memorinya dikembalikan juga terasa pilihan yang aneh. Lalu, untuk apa semua ini? Toh, dengan dikembalikannya memori dan tidak, tetap saja Thomas yang akan dijadikan target untuk percobaan lagi. Ya, yang dibutuhkan hanya otaknya saja.

Adegan kekerasan cukup intens di sini. Bunuh membunuh sudah biasa. Malah kadang saya lewati bagian perkelahian dan tonjok-tonjokannya. Cuman saya agak heran, kenapa ini bisa sangat didetailkan. Apalagi jika ini dibaca remaja atau usia di bawahnya.

Malahan saya ngayal, kalo seandainya saya yang jadi tokoh utama, yaitu Thomas. Maka, mungkin saya udah mati duluan dari buku pertama. Haha. Yaa, itu saking banyaknya rintangan dan kengerian yang disuguhkan. Umhh..apa mugkin karena baru pertama kali ini saya baca buku bergenre dystopia? Sudahlah. Lupakan. Wicked is Gooood lah, pokoknya! :p

Yang paling mengharu biru adalah ketika Newt mati. Ya, si ganteng ini ternyata terinfeksi virus Flare. Kegantengannya tergantikan dengan rambut yang mulai tercerabut karena dia frustasi, juga mungkin virus tersebut sudah membuatnya menjadi separuh Crank.

Dan isi pesan yang menyuruh Tommy untuk membunuhnya adalah hal yang tidak saya inginkan. Saya pikir, surat yang ditujukan untuk Thomas dari Newt adalah jalan keluar untuk menyembuhkannya atau kejutan yang gimanaa gitu. Ternyata.. :( Tapi ada kejutan kecil di situ yang menjawab rasa penasaran saya dari awal membaca membaca buku. Rahasia Newt tentang kepincangan kakinya. Kenapa penggambarannya terlihat tegar dan cukup bijak bin dewasa dari buku pertama, namun merapuh pada buku ketiga.. Oia, Newt pun punya panggilan khusus buat Thomas, yaitu Tommy. Itu malah bermula sejak buku pertama loh. Sejak pertamaThomas dikirim ke Glad. Saya nggak tau kenapa bisa gitu. Jangan-jangan, mereka sebenernya punya pertalian darah, sodaraan mungkin? Nah, ini deh..yang nggak kejawab sampe tamat.

Teori tentangg bagaimana mengorbankan sekelompok orang untuk menyelamatkan lebih banyak orang adalah legal menurut WICKED. Ya, lagi-lagi Wicked is goooood deh, so good kayak sosis.


Pada akhirnya, berlembar-lembar halaman dari tiga novel yang saya baca ini. Ditamatkan secara paksa hanya dengan selembar surat perintah dari seorang Kanselir kepada Thomas. Yang lagi-lagi kenapa nggak diperkenalkan profilnya oleh penulis kalo memang si Kanselir ini mampu menghentikan segala kekacauan. Ujug-ujug ngirim surat, habis itu tamat deh.

Teresa juga mati dengan konyol dan keliatan gampang banget matinya. Walau saya nggak seberapa suka sama Teresa, tapi tokoh yang saya kira di buku kedua cuman jadi figuran dan kurang jelas asal usulnya di buku ketiga, malah nemenin Thomas menikmati senja yang indah di akhir buku. Siapa lagi kalo bukan, Brenda? Fyuuh.. Nggak kurang aneh apalagi ya? Hehe.

Oiaaa, tapi ada kosakata yang membuat saya mengernyitkan kening. Mungkin karena sang penerjemah bener-bener total nerjemain sesuai kaidah BI yang benar. Sampe kita yang awam nggak pernah denger kata tersebut, yaitu kata Garas. Yang mungkin kata ini menunjukkan pada bagian tubuh, yakni tulang kering. Jadi ada tokohnya yang dihantamm atau dipukul "garas"nya, yang maksudnya adalah tulang keringnya. Kata lainnya sudah pernah saya temukan sih di Harpot, seperti mencelus atau mencelos. Hehe.


Intinya, dari semua yang diupayakan Dashner. Saya sangat mengapresiasi buku pertama. Dan saya suka banget Newt. Sama Minho juga, dikiiit. Sudah, gitu aja dulu ya. Nonton filmnya nyusul deh.

Monday, November 10, 2014

Monday, October 27, 2014

7:04 AM - No comments

Selamat Hari Blogger Nasional 2014.

Ahelah.. Berasa sok momen aja nih ceritanya. Emang hari ini lagi pas aja. Dipas-pasiiin. :p

Sedikit mengisahkan kegelisahan yang menggeliat akhir-akhir ini. Keinginan buat konsis dan rajin ngblog lagi. Sebenernya, ini lagu lama. Dan banyak juga yang mengalaminya. Tapi. Ya anggap saja..kita tiada jenuh untuk usaha. Hehe. Minimal niaaaat laaah.

Ku kasih tau deh si pacar. Tentang aku yang udah jarang nyosmed dan ngblog lagi. Eh diee malah berspekulasi kenapa aku jarng nongol karna udah nggak ada harapan lagi dari sosmed. Secara kan udah nggak single lagi. *alamakjiiing. Respon "karna-udah-nggak-ada- harapan-lagi-di-sosmed", sungguh tak bersopan santun sama sekaleee. Tapi dia tetep nyemangatin, sapa tau dia ngikut rajin nulis juga. Hohooo.

Sebenernya masih tetep nyoret-nyoret, tapi nggak seberapa intens. Dan dipost di blog yang kami jaga kerahasiannya. Aku bilang kami di sini, maksudku, aku dan pacar. Jadi kami punya blog yang dikelola bersama. *heciyee..cuiiitt cuiiitt.

Tapi sekarang, kendalanya adalah hape sudah tidak men-support layanan tumblr. Entah kenapa. Padahal dengan hape menawarkan kemudahan dan kepraktisan ya. Yang masih bisa digunakan itu aplikasi blogger. Oleh karna itu, kemungkinan post terbanyak akan lebih banyak masuk ke blogger. Tidak seperti dulu, yang bisa dipost di dua-duanya secara bersamaan.

Baiklah. Tanpa perlu ditutup dengan sesuatu yang menakjubkan. Cuman ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Blogger Nasional. Terhitung sudah 5 taun menginjak ranah perbloggingan..alias akhir taun 2009, dan masih cupu kala itu. Hehe. Baru intens sekitar taun 2012. Fokus sama tumblr, yang malah baru mulai join pertengahan taun 2011.

Happy Blogging, anyoneee..