Tuesday, February 28, 2017

[Review Buku] Keluarga Cemara

Ahmada menjadi 'cameo' dalam foto ini :D
Judul Buku : Keluarga Cemara #1
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2013
Tebal : 288 halaman

Acara rutin di televisi yang dulu kita kenal di area 90-an, yang asalnya berasal dari cerita karangan Arswendo Atmowiloto ini. Mengisahkan keluarga dari gadis kecil bernama Cemara yang biasa dipanggil Ara. Keluarga ini terdiri dari; Abah sebagai kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai penarik becak, Ema sang ibu yang membuat Opak untuk dijajakan putri sulungnya, Euis yang kelas 6 SD,  juga Ara sendiri yang baru masuk TK serta Agil si bungsu.

Dahulunya, keluarga ini sangat berkecukupan. Mereka tinggal di Jakarta, hidup dengan rumah yang lengkap dengan perabotannya, mobil dan segala kemewahannya. Pada saat itu, di antara ketiga anaknya, hanya Euis yang sempat merasakan kehidupan serba berada. Sebelum akhirnya mereka ‘jatuh miskin', karena usaha Abah yang ditipu rekannya sendiri. Akhirnya mereka pindah dan tinggal di rumah yang sangat sederhana di desa.

Sekalipun hidup mereka kurang beruntung secara materi, tapi hubungan antar anggota keluarganya erat sekali. Terkadang ada pertengkaran-pertengkaran kecil antar kakak beradik ini, yang membuat Abah perlu turun tangan untuk menyelesaikan. Mereka pun kembali akur dan saling menyayangi. Euis sebagai kakak tertua yang melindungi adik-adiknya dengan caranya sendiri. Ara yang lugu dan polos. Serta Agil, si bungsu peniru yang selalu mengiyakan tiap apa yang diceritakan oleh Ara. Abah sebagai sosok Ayah yang menjadi idola buat anak-anaknya. Ema yang sangat sabar, tak pernah mengeluh pada keadaan, selalu patuh kepada suaminya yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini tak perlu menyesali hal yang telah lalu. Hubungan Ema dan Abah pun terlihat harmonis dalam cerita ini. Suguhan tentang keluarga yang patut diteladani, karena pondasi pertama yang membentuk karakter anak-anak adalah interaksi erat dalam keluarganya.

Dalam mendidik, Abah selalu menjelaskan alasan kepada anak-anaknya jika melarang sesuatu. Abah juga pandai membahagiakan anak-anaknya meski berada dalam keterbatasan, misal membuat puisi di ulang tahun Guru TK Ara, becak yang dijadikan helikopter untuk perayaan karnaval, membuat akuarium dari toples opak.

Buku ini memang telah ditulis lama oleh sang penulis. Tapi nilai-nilai di dalamnya sangat relevan di jaman sekarang. Dimana kejujuran menjadi barang langka. Padahal seperti yang dilakukan Abah dalam mendidik anak-anaknya, kejujuran mulai ditanam dan disemai dari lingkup terkecil yakni keluarga.

Membaca buku ini membuat kita berkali-kali berurai air mata. Bukan hanya karena kemiskinan mereka, tetapi banyak kesempatan dan keberuntungan yang nyaris mereka genggam lalu lenyap begitu saja. Tapi mungkin benar kata sang penulis. Jikalau air mata bisa menjadi simbol kebahagiaan, inilah kisah itu.

Friday, February 24, 2017

5:38 AM - No comments

(Super) Mada Usia 4 Bulan

Tentang Ahmada yang sudah berusia 4 bulan :
  • Udah imunisasi DPT 2. Polio nya dari dinas masih kehabisan katanya. Kemungkinan bakal cari sendiri ke klinik deket rumah. Beratnya ditimbang 6.1 kilo.
  • Mulai digundul dikarenakan ada kerak seperti ketombe di kulit kepalanya. Hal yang wajar terjadi pada bayi sih. Tapi kok gemes aja pengen bersihkan. Dan dengan dicukur lebih gampang bersihkannya loh. Tukang cukurnya tak lain; Mbah dan Ibunya sendiri. Hehe. Mada belum sempet dicukur sebelumnya, karena susah cari tukang cukur buat bayi apalagi anak bayi ini aktifnya warbiyasak. Kami aja nyicilin nyukurnya. Cari waktu malam. Karena kalo siang, jangan harap deh. Itupun hasilnya nggak rapi karena si dedek bayi gerak-gerak terus, terutama pas ngeriknya. Kalo cuman potong kasaran, lebih gampang. Apalagi rambutnya memang cukup lebat. Dan sekarang udah mulai tumbuh kok.
  • Karena udah mahir mengkurep dengan gampilnya. Dia mulai coba-coba nungging dan angkat badannya bagian depan. Gerakannya udah kayak mau push up gitu. Haha.
  • Bisa muter dan mindahin posisi tubuhnya pake kekuatan tangan dan kakinya, juga dengan dada sambil mengkurep. Pernah dapet satu putaran malah. :D
  • Suka narik-narik bajunya. Atau apapun yang bisa dia jangkau.
  • Hobi masukin semua benda ke mulutnya, atau yang ada di dekatnya.
  • Abis masukin ke mulut, selanjutnya jadi Rajanya ngemut tangan deh. Kalau dilarang atau diambil tangannya langsung marah. *anak bayi udah tau marah ye. 
  • Udah mau dipakein topi. Alhamdulillah.
  • Disangka matanya dikasih celak. Padahal sih nggak. Emang bulu matanya si boncil ini lebat dan panjang.
  • Doyan jejeritaaan. Heboooh. Teriak-teriaknya dengan sepenuh hati kayak mau keselek malah. Sampe ngeri aja kalau tetangga depan/sebelah nyangka diapa-apain gitu sama emboknya. Haa. Dan pernah semenit setelah jejeritan, tetiba anteng, pas diliat eh udah bobok nyenyak ternyata! Mungkin saking capek dan ngantuknya.
  • Beberapa kali Mada memang pernah tidur tanpa perlu dimimiki dulu. Seperti kasus di atas. Cukup menggembirakan kalau itu memang tandanya dia bisa mandiri.
  • Kalau main sama guyon, waduh jangan ditanya. Ayahnya paling jago soal ginian. Makanya tiap wiken, aku sebagai sumber ASI-nya jadi nggak laku. :D
  • Menang giveaway berupa buku dongeng Charles Dickens terbitan BIP, dalam rangka Giving Books International Day yang diselenggarakan oleh Toko Buku Binta. Lumayaaan, irit 65 ribu plus ongkirnya dari Jombang. Haha. Alhamdulillah. Rejeki anak bayi.



Tuesday, February 21, 2017

Hubby's Quotes

Kalau ada kutipan suami yang menarik lagi, mungkin akan ada postingan-postingan selanjutnya. :D

Pada suatu siang kami makan bareng di rumah. Iya, karena kami sedang menjalani LDM, tiap kebersamaan menjadi sangat berarti. Termasuk makan bareng. Waktu itu kami makan seperti biasanya, masakan ala rumahan sederhana. Aku masak sayur, lauk seadanya dan sambel bikinan suami. Suami memang tidak repot soal makan, beliau bisa sangat mandiri sekali. Nggak harus ini itu, asal ada nasi dan lauk ya dimakan saja. Kalaupun improvisasi, yaa..bikin-bikin sendiri lah. Contohnya sambel itu.

Sedang asyiknya makan, tiba-tiba beliau nyeletuk; "Hidup itu ya kayak gini, Sayang.Cukup-cukup aja."
Aku bertanya, "Maksudnya?"
Beliau menjawab, kurang lebih seperti ini, "Iya,cukup. Bagi saya, hidup cukup itu kita sudah mampu bantu orang lain. Nggak perlu lauk dan makanan mahal."

Can get the point? ^_^

Untuk urusan bijak-bijakan dalam hidup, suami memang andelannya. Mungkin karena sudah lama merantau apalagi di negeri orang (bahkan benua lain), bertemu banyak orang dengan warna kulit, mata, usia, tingkat pendidikan, jabatan, asuhan kedua orangtua serta kerasnya hidup tlah menempa suami menjadi pribadi yang seperti ini. Mau rekan kerja, rekan biasa, junior atau senior, jujukannya pasti suami. Bahkan keluargaku sendiri juga mulai mempercayainya, selain menyerahkan aku pastinya. :D

Lantas yang kedua ini kami sedang ngobrol di chat, andalan pasangan LDM. Hehe.

Waktu itu suami membagikan lowker menggiurkan yang berada satu kota dengan suami. Ngiler dooong pastinya. Karena lowker ini pernah aku lepas taun lalu, dikarenakan masih hamil. Lalu sekarang? Apa kabar? Suami tentunya tidak setuju. Dan jawabannya bikin terhenyak.

"Saya nggak mau Mada jadi nggak terurus karena urusan nyari duit. Saya lebih kuat lapar daripada anak terbengkalai..."

Uwuuwuuuw. Suami dakuuh. :') Lucky me, having you in my life! :*

Dipotret tunangannya waktu sebelum nikah, perut masih tipis loh :P

Friday, February 3, 2017

6:47 PM - No comments

(Super) Mada Imunisasi DPT 1

Kenapa imunisasi yang ini sampe ditulis? Denger -denger banyak pengalaman horor setelah bayi diimunisasi, terutama DPT ini.

Harusnya, berdasarkan buku Pink (buku pedoman wajib dari Puskesmas buat Ibu dan Anak) Mada perlu diimunisasi DPT di umur 2 bulan mau ke 3 bulan. Gitu yang ku periksa di buku tersebut. Tapi sebelumnya, ketika Mada imunisasi BCG, nakesnya nyaranin supaya datang kembali buat imunisasi DPT kalau dia udah 3 bulan. Mada tepat usia 3 bulan di hari Selasa, sedangkan jadwal DPT adanya hari Jumat. Berarti plus 3 hari doong. Oke lah, kami turuti.

Maka datanglah Ayah-Ibu nya nganterin dia buat diencus sesuai saran nakes tersebut. Dan apakabar kata nakes yang lebih senior dari yang sebelumnya? Beliau negur aku, harusnya Mada diimun sebelum usia 3 bulan, sesuai di buku petunjuk. Hrrrr. Akhirnya Mada dapet posisi tanda ijo deh tiap waktu imunisasi. Karena jaraknya harus sebulan tet kaaan? Huuuuh. Padahal yang BCG itu awal bulan Desember, dan DPT (yang disarankan nakes junior) selanjutnya di ujung akhir Januari.Yasudalaaah. Katanya sih, kotak ijo masih dalam batas aman waktunya. Dadahbabaiii kotak putih.

Mulai siap-siap dienjus deh anak bayi ganteng, yang sebelumnya dia musti ditimbang dulu. Bbnya 5.5 kilo. Abis disuntik, Mada nangis kejer. Langsung deh disumpal mimik dari Ibunya. Nakes senior juga meresepkan obat penurun panas, kalau nanti si bayi demam. Beliau juga menyarankan untuk mengompres bekas suntikan dengan air matang, bukan dengan air hangat. Oke. Setelah dapat obatnya kami pulang.

Sampai di rumah, Mada masih bersikap seperti biasanya. Aktif tingkahnya. Drama dimulai ketika Ayah nya pergi cukur rambut. Mada mulai demam, tapi masih wajar geraknya. Sepulang ayahnya dan mulai siap-siap berangkat Jumatan. Si kecil bayi mulai rewel-wel. Malah nangis nyaris menjerit. Mungkin badannya mulai nggak nyaman karena panas tersebut. Diukur pake termometer suhu badannya 37.8 derajat C. Digendong-gendong lah, ditimang-timang lah, dipeluk-peluk skin to skin untuk menyalurkan panasnya. Dan nggak mau kalau digeletakin di kasur. Itu berlanjut sampe Ayahnya berangkat dan pulang dari Jumatan. Pasti kalau udah ada tanda mau digeletakin, si bayi ini langsung jerit histeris. Digendong pun masih tetep rewel. Ohlaalaaa.

Barulah ketika kami makan siang, bergantian gendong, Mada mulai tenang tapi anteeeeng sekali. Nggak segesit dan secerewet biasanya. Badannya masih panas sih, tapi kami belum ngasih dia obat. Mungkin kalau rewelnya lebih hebat, barulah dikasih obat. Apalagi kalo nanti malam sampe nggak bisa tidur. Mada juga tetap aku susukan, lebih siaga malah. Supaya rewelnya akan haus dan lapar nggak terlalu merisaukan dia. Lantas menjelang siang, sang bocah mulai kembali bawel ngoceh-ngoceh dan ketawa. Ahh..leganya. Malah kami berdua yang tepar setelah bergantian menggendong untuk menenangkannya. Matanya juga mulai awas dan aktif, serta kembali ceria lagi si jagoan kami ini. Alhamdulillah.

Hingga sore dan malam badannya masih tetap panas. Ketika Maghrib juga seperti biasa aku susukan karena itu memang jadwal tidurnya Dan lagi-lagi alhamdulillah Mada mau tidur seperti biasa. Walau kami tetap siap siaga dengan obat dari Puskesmas, kalau nanti Mada bangun, rewel, dan susah tidur. Ternyata tidurnya pun nyenyak sampe keesokannya. Palingan bangun untuk minta mimik saja seperti malam-malam biasanya. Obat penurun panasnya pun masih utuh segelnya, belum sempat kami buka.

Jadi intinya, tetap tenang dan siap siaga menghadapi bayi setelah imunisasi. Kalaupun dia panas, memang hal yang wajar sih. *btw katanya ada imunisasi yang nggak bikin panas ye? Yetapi saya pilih yang dari Pemerintah aja deh yaa. Yang nggak bikin panas, malah musti diinjeksi berkali-kali, kasiaan si kecil* Mungkin memang agak lebih rewel, tapi pastikan dia nyaman. Yah seperti menenangkan dengan cara menggendongnya, memeluknya, serta tetap dapat ASI yang cukup. Syukur-syukur kalau bisa melewatinya tanpa obat penurun panas. Keesokannya Mada malah kami bawa jalan-jalan ke Palapa. Dia enjoy-enjoy aja tuh.






Tuesday, January 24, 2017

11:26 PM - No comments

(super) Mada Usia 3 Bulan

Dari postingan terakhir tentang hamil, langsung loncat ke bayik ini yang sudah berumur 3 bulan. Hahaii. Yaap, si bayik ganteng pas umurnya menginjak 3 bulan tepat tanggal 24.

(super) Mada usia 1 bulan
  • Diberi vaksin hepatitis langsung pasca dilahirkan. Polio seminggu kemudian. Saat itu beratnya 3.38 kg, dari yang awalnya berat lahir 3.2 kg dan sempat susut menjadi 3.1 kg.
  • Sempat kuning setelah lahiran. Tapi karena asi nya kuat, dan juga rutin dijemur, dapet sebulan udah nggak kuning lagi. Dapat saran juga supaya Ibunya konsumsi gula aren. Aku sempet ngemutin sekali aja, abis itu nggak lagi.
  • Kena "merintis" kecil, merah dan berair sekitar usia hampir seminggu. Kata dsa di rs dia dilahirkan, dr. Roosna akibat pemberian bedak bayi, Woooss, yap. Mbahnya suka banget mbedakin biar wangi katanya. Tapi kata dsa nya, bayi sebenarnya nggak perlu diberi bedak. Cukup diwashlap saja, begitu saran beliau. Kami ikuti, tapi rupanya merintisnya nggak sembuh, malah jadi sebadan. Sebagai ortu baru kami khawatir dong. Akhirnya kami bawa ke Klinik Geomedika yang ditangani dr. Rizal. Diberi sabun Lactacyd dan salep yang dioles setelah mandi. Walau dr. Rizal ini RUM, tapi beliau tetap memberikan obat minum juga untuk Mada. Alhamdulillah sembuh. Kulitnya mulus kembali. Di Klinik Geomedika berat Mada 3.5 kg, alhamdulillah asi mulai menunjukkan hasil sedikit demi sedikit.
  • Karena masih dalam tahap penyembuhan bekas luka sc, memandikan Mada hanya dengan dilap saja di sore hari. Haha. Kalau paginya baru deh ditangani Mbahnya untuk dimandikan.
  • Nggak suka begadang. Pernah rewel tengah malem, itupun di malam pertama baru dateng dari rs. Masih penyesuaian kali ya. Malem selanjutnya palingan minta mimik, abis itu bobok nyenyak lagi deh dia.
  • Di awal sempet mimik sufor, ngedot pulak dikarenakan asi sang Ibu belum muncul juga. Untungnya meski pertama kali yang dia kenal adalah dot, tapi ketika aku susui dia nggak melakukan penolakan atau hal menghambat lainnya. Ngenyoot terus. Malah dia gumoh kalo dikasih sufor, setelah rutin mimik asi.  Yasuudalahyaa..lanjut ASI seterusnya. 
  • Untuk mimik nggak mau berdamai dengan kata "tunggu". Bahkan pernah satu hari di mana merasa diri ini seperti "sapi perah" saja. Karena superMada bener-beneeerr super sekali nenennya. Sampe lebayy. Lemess bray! :D
  • Punya tanda lahir di sekitar lutut nya. Emh, mau jadi pesepak bola ta, Nak? Atau mau jadi pejalan seperti Ayah? :)

(super) Mada usia 2 bulan
  • Imunisasi BCG (yang harusnya bulan sebelumnya, berhubungnya emaknya polos jadi baru 1.5 bulan diimun). Beratnya 4.5 kg. Sebenernya sih udah ideal, cuman karena ketemu sama anak bayi yang juga bareng lahirnya, dan si bayi tersebut ternyata beratnya 5 kg. Wow! Iyah, bayi tetangga itu dicekoki asi mix sufor. Baeklaaa.
  • Akhir November, emboknya kena serangan flu plus batuk. Dan iya aja, si bayi ngganteng pun ikut tertular. Emboknya mulai drama deh. Karena nggak tega liat si kecil ikut-ikutan bersin dan uhuk-uhuk. Semua usaha dilakuin, dari mulai inhalasi, jemur si bayi sambil tengkurep, kamar pun diuapin minyak kayu putih, disodorin asi tiap saat. Ini yang bikin lega, walo sakit tapi masih mau mimik. Ada kali semingguan terus sembuh-sembuh sendiri. Tapi di akhir yang seminggu itu, aku berobat ke puskesmas sekalian imunisasi Mada. Alhamdulillah langsung sihat!
  • Diadakan selametan lahiran Mada di rumah. Sekalian sama pengajian Mbahnya juga sih. Aku bikin kertas ucapan selamat kelahirannya pake aplikasi seadanya. Waktunya mefet!
  • Udah mulai nggak pake popok kain lagi, tapi pake celana dong. Etapi Mada sejak newborn emang pakenya itu pospak. Bukan masalah males, tapi emang Emaknya terbatas gerakannya pasca lahiran. Apalagi jauh dari suami. Jadi kita cari mudahnya aja deh ya.
  • Juga udah nggak pake stk. Kenapa? Karena anaknya mulai seneng ngemut tangan. Jadi cuman kakinya aja yang dibungkus kaos kaki.
  • Pernah hari Jumat dan kebetulan ayahnya lagi tugas di Surabaya. Mada reweeelll dari Magrib sampe jam 10 malem! Biasanya dia udah klepek bobok sekitar Magrib atau Isya. Tapi di hari itu nggak. Gendong udah gonta ganti tangan. Mimik kanan kiri. Dinyanyiin. Disalawatin. Dikasih liat video anak-anak di yutup. Nggak berhasil juga. Curiganya sih karena mandinya kemaleman. Iyup, jam 5 sore anak bayi baru dimandikan karena waktu itu nggak ada orang buat dimintai tolong. Ayahnya lagi jemput Mbahnya pulang ngajar sore-sore.
  • Ngerayain anniversary pernikahan pertama barengan bertiga di Gule Cak Mat Sepanjang. Cari yang terdekat dan emang rekomen temen yang terpercaya. Yaah, tapi namanya udah punya anak, nggak bisa nikmatin makanan senikmat-nikmatnya. Pas lagi asyik makan, si bayi gelisah juga kelaparan minta mimik. Sedangkan sang Ibu masih nervous ngeluarin anggota badannya yang paling sakral di depan umum. Haha.
  • Mulai ngoceh dan ketawa-ketawa. Sebenernya waktu umur sebulanan pernah beberapa kali bersuara "aaaooo..aooo". Tapi makin ke sini udah makin cerewet apalagi kalo udah diajak ngobrol dan guyon.
  • Nggak suka dipakein topi. Huah. Padahal udah dicoba buat make, dirayu, tapi tetep nggak mempan. Dia ngerasa nggak nyaman.
  • Juga mulai nggak mau digendong bayi. Terus karena makin besar jadi udah bisa nolak yang nggak dia mau, misal; mimik, gendong bayi, atau diletakkan di kasur karena keenakan di gendong.
  • Sebenernya nggak pengen Mada terus-terusan digendong siih. Tapi berhubung kalo Mada nangis kejer, Mbahnya nggak tega dan akhirnya diambil juga buat digendong.Yah, ibunya hanya bisa menatap tak bisa melarang. Jadinya dia mulai ngerti kalo digendong itu lebih nyaman ketimbang digeletakin di kasur.
  • Suka banget nonton tv (tapi kalo kelamaan jadi bosen). Paling nggak, benda yang bergerak dan bersuara. Pernah jendela kamar kebuka waktu hujan dan sedikit berangin. Mada langsung terpana liat dahan dan daun-daun yang bergoyang-goyang.
  • Masuk 2 bulan ini, Ibunya udah mulai mandikan dia full pagi dan sore. Sepertinya dia nyaman dengan kegiatan mandi, walo itu agak lama. Kenapa? Diajak ngomong sambil nyanyi, ngasih sugesti kalo mandi itu menyenangkan.
  • Mukanya udah bukan muka bayi baru lahiran lagi, yang kemerah-merahan itu, dan ehm, entahlah. Pokoknya udah mulai keliatan jelas muka lucu nan menggemaskan ala bayi. 
  • Paling mirip Ayah apa Ibunya? Entah juga deh. Ada yang bilang mirip emboknya, juga ada yang bilang mirip bapaknya. Yang pasti ada bagian wajah Mada yang mirip aku, juga ada kemiripan dengan Ayahnya. Tapi beberapa orang bilang Mada kayak orang Arab. Haah. Menurut Ebok, dikarenakan keadaan hidungmu, maka kayaknya namamu masih belum pantes untuk dikasih embel-embel "Habib" di depannya, Naak.

(super) Mada usia 3 bulan
  • Imunisasi DPT 1, Polio 2 nya nggak langsung sekaligus di hari itu. Dikarenakan kehabisan stok kata nakesnya. Bb nya ditimbang 5.5 kilo.
  • Mada ikutan kelas Laktasi di RSI Jemursari yang diadakan AIMI Jatim serta promosi klinik Laktasi di rumkit tersebut. Hahaii. Ibunya aja yang telat mendalami info soal asi. Htmnya cuman 10 K saja. Karna waktu itu hari Sabtu dan ayahnya Mada masih kerja, kami berdua ngajakin Mbahnya juga supaya lebih paham dan mendukung dong.
  • Jadwal tidur siangnya sih nggak teratur. Tapi kalo malem udah ketauan. Abis mandi sore-minta mimik-bobok bentar-bangun-ngajak guyon/ngomong/gendong-kadang pake rewel-Magrib/Isya minta mimik-terus bobok nyenyak deh sampe pagi.
  • Mada bebas pospak di siang hari. Yeaayyy. Selain penghematan, supaya Mada juga belajar bahwa basah karena bak dan bab itu nggak enak. Pospak dipake hanya ketika tidur di malam hari dan bepergian saja. Lalu, dipakein apa? Dipakein popok plastik yang bentuknya hampir mirip clodi. Popok plastiknya kulapisi alas ompol lorek-lorek. Lumayan awet 2-3 jam selama dia nggak mengkurep. Tapi kalo mengkurep, 1 jam-an aja udah bocooorr. Maklum bocornya ke depan. Haha. Intensitas ganti sekitar 5-7 kali sampe dia pake pospak di malam hari. Lumayan ribet sih, tapi hematnya ituloh bikin hati terhibur. *udah mental ibuk-ibuk banget laaah*
  • Udah bisa mengkurep. Yaa..waktu umur 2 bulanan emang pernah sekali dua kali dia udah nyoba-nyoba mengkurep. Trus menginjak usia 3 bulan ini, dia udah bisa telungkup dengan gampilnya. Haa. Tapi soal balik lagi, dia nya masih belum bisa. Bayi ini memang udah gesit sejak dari perut. Kadang ketika tidur, juga mulai doyan tengkurep. Ini yang mesti diwaspadai.
  • Bepergian terjauh main ke Pakde dan Budenya aja di Manyar. Maunya liburan akhir taun kemaren mudik ke Pasean, tapi Mbahnya nggak setuju karena Mada dianggap masih terlalu kecil buat diajak pergi jauh.
  • Mall pertama yang disambangi Mada baru Marina aja, belum ke mall lainnya. Haha. Ciyeeh. Anak metropolitan banget. XD
  • Makin bawel sampe teriak histeris kadang. Suka angkat kaki.
  • Bajunya yang ukuran newborn mulai memamerkan pusernya. Haha. Buat ngakalin biar perutnya nggak 'ngampar-ngampar' (bahasa Medunten), dipakein singlet aka kaos dalem deh.
  • Tubuhnya tumbuh ke samping, sampe dijuluki "Si Dabak" (maksudnya bantet) sama sang Mbah. :D



Monday, June 20, 2016

Hamil dan Puasa

Hamil saja, bagiku adalah berkah. Apalagi sambil berpuasa di saat bulan Ramadhan. Supeeerr dupeeerr!

Melewati pertengahan Ramadhan, alhamdulillah hingga saat ini kami berdua (aku dan Dedek mungil) diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini. Baik itu berpuasa, maupun ibadah-ibadah lainnya. Bahkan di hari ke 12 Ramadhan, kami pun mengkhatamkan Al-Quran. Semoga bisa mengkhatamkan lagi, paling tidak 3 kali. Kalau tidak malas-malasan. Hehe.


Karena sempat setelah khatam, dua hari bolos ngaji karena sedang khusyu' menyelesaikan buku bacaan Gone Girl. Btw, sudah dua buku juga loh kami namatin buku bacaan sepanjang Ramadhan ini. Sebelumnya ada The Tales of Beedle The Bard. Untuk bacaan tak ada target sih, hanya untuk selingan. Semampu dan sesempatnya saja.

Hari petama Ramadhan kami sempatkan mengaji di Sunan Ampel. Berangkat setelah Subuh, dan kembali ke rumah menjelang Dhuhur. Suami dapat juz 5, sedangkan aku juz 4. Panasnya ketika pulang, benar-benaaarr bikin cenat cenut. Mana jalanan juga sudah ramai, jadi kecepatan tersendat untuk segera sampai di rumah. Sorenya masih segar, tapi ketika menggoreng tempe sambil berdiri untuk persiapan buka, mulai terasa pusing. Aku memang bermasalah dengan darah rendah, makanya tidak betah jika berdiri lama.

Sekali dua kali, ada juga merasakan perut melilit. Pertama ketika Ashar, dan yang kedua menjelang Dhuhur di hari yang berbeda. Yang terakhir lumayan agak lama. Sampai-sampai hanya duduk saja tak melakukan apa-apa, melihat teman-teman kerja kompak mengeset atlas. Mungkin si Dedek protes karena Ibunya ke sana kemari catat ini itu. Tapi setelah itu, sembuh-sembuh sendiri. Yang paling penting kami masih tetep lanjut puasa. Suami juga khawatir dan menyarankan supaya membatalkan puasa. Untungnya kami masih sehat wal-afiat. Rencananya minggu ini kontrol ke Puskesmas, penasaran juga pengen tahu keadaan si Dedek selama menjalankan puasa bareng.

Untuk aktifitas ataupun bekerja juga berjalan seperti biasa. Bahkan minggu pertama Ramadhan, kami berdua sempat lembur di saat wiken. Diajaklah suami juga untuk menemani.

Asupan makanan menjadi poin penting untuk puasa kali ini. Karena keadaan sudah berbeda, sekarang sudah berbadan dua. Sebisa mungkin sayur buah jadi menu wajib untuk buka dan sahur. Porsi minum juga.

Ada keanehan yang kutangkap untuk Ramadhan kali ini. Aku bukanlah termasuk orang yang doyan dengan kurma. Tapi sejak berpuasa, kurma menjadi idola buatku. Biasanya dulu kalau ada kurma, aku ambil sebutir dua butir saja, itupun kalau ingat dan ingin sekali. Untuk sekarang? Bisa makan lebih dari 5 butir kurma. Aku mencurigai si Dedek mungil yang membuat minatku pada kurma berubah.

Kemarin ketika hari pertama ke Ampel, kami sempat keliling pasar yang menjual aneka baju, tasbih, termasuk makanan-makanan yang berbau Arab. Tak ketinggalan, kurma yang makin hits di kala Ramadhan. Sebelum kami berangkat, Mama memang meminta kami untuk membeli kurma. Berburulah kami di sana. Dari yang harga paling mahal dengan kualitas bagus, hingga kurma curah yang tak menarik minat. Untung suami lumayan paham soal buah satu ini, jadi aku tidak kesulitan untuk memilih kurma yang berkualitas tapi dengan harga terjangkau. Nah, karena berkeliling itulah melihat kurma yang dipajang terutama yang kualitas bagus, lumayan menggugah selera. Sampai-berandai-andai memborong kurma hingga berkilo-kilo terutama yang mulus-mulus mengkilat kecoklatan, terlihat lezzaaat. Kenyataannya, kami hanya membeli dua tray kurma Tunis yang beratnya masing-masing 250 gr. Haha.

Karena Dedek yang doyan sama kurma ini. Aku pun mulai berburu kurma dengan merek sama tapi dengan harga lebih murah. Kebetulan ada supermarket yang mengadakan promo untuk produk kurma, tak terkecuali kurma yang kuincar. Suami pun sangat-sangat mendukung, karena manfaat dan gizi kurma tak diragukan lagi. Bahkan kami juga berencana membawakan oleh-oleh untuk Emak, ibu mertuaku yang juga senang dengan kurma nanti ketika mudik.

Ada saja rejeki yang berhubungan dengan buah favorit Dedek ini, mimggu lalu Pak Bos juga memberikan kami kurma premium seharga lumayan dengan berat 500 gr. Baru kemarin juga aku dapat uang tambahan, yang akan kugunakan untuk membeli stok kurma, paling tidak hingga lebaran nanti.

Kurma jadi perbincangan di kalangan medsos semenjak Ramadhan, terutama teman-temanku yang sedang menyusui dan masih ingin berpuasa. Resep yang beredar adalah susu kurma. Kurma yang sebelumnya direndam, diblender bersama susu. Katanya sih mampu membuat para Busui tidak lemas ketika berpuasa, dan menjaga ketersediaan asi sehingga kegiatan menyusui tetap berjalan lancar.

Makinlah menjadi obsesi dengan kurma. Kemarin malah suami membuatkan kami susu kurma yang disimpan di kulkas. Diminum ketika buka dan sahur, rasanya enaaak, segar. Efeknya memang seharian bikin tidak lemas. Biasanya, Dedek paling senang jedat-jedut di dalam perut, terutama di waktu yang sudah kuhapal, karena mungkin lapar. Tapi setelah minum susu kurma tadi, pergerakannya jadi berkurang dan cenderung anteng malah. Waaah, cocok banget dia sama susu kurma. Haha. Tapi jadi kangen sebenernya sama gerakan-gerakannya yang lucu, karena sudah biasa berisik di waktu Ashar. Kalau Dedek sudah ngulet-ngulet, biasanya aku elus-elus sambil kubisikkan untuk bersabar dulu.

Alhamdulillah, tinggal separuh perjalanan lagi Ramadhan tahun ini. Agak sedih juga sebenarnya. Karena merasa begitu cepat Ramadhan akan meninggalkan kami. Ya Allah, semoga kami serta keluarga kami dilancarkan dan dimampukan untuk menjalankan ibadah-ibadah di Ramadhan-Mu ini dengan khusyu'. Aamiin.



Wednesday, April 20, 2016

Jika Kamu Perempuan, dan Ditanya

Kalau ditanya kapan menjadi seutuhnya seorang Perempuan?

Mungkin lebih terasa di depan mata setelah ada lelaki yang mengucapkan ijab kabul untukku. Menjadi seorang istri, membuatku merasa sebagai perempuan yang utuh.

Lalu proses menyandang gelar istri ini, akan mengantarkan kita pada satu gelar terhormat lainnya. Sebagai seorang Ibu.

Aku tak mendebat, soal kamu masih lajang. Belum mau menikah. Masih banyak hal yang ingin dilakukan. Mau meningkatkan tingkat pendidikan. Mau memperluas kesempatan berkarir. Berbagai pilihan yang dipilih akan selalu dikatakan benar dan patut dihargai. Mungkin ada satu di waktu dulu aku juga lebih memikirkan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti di atas.

Tapi kali ini, berbeda. Tak bisa disimpelkan segampang itu. Karena keputusan haruslah kesepakatan dua orang. Bukan lagi seorang yang sepenuhnya punya kontrol atas dirinya. Keinginan-keinginan pribadi pun akan bergeser menjadi kepentingan dengan lingkup berdua atau malah lebih luas.

Dua gelar tadi bukan sekedar sebutan dari suami atau anak-anak kelak. Tapi akan banyak ibadah dan hal-hal yang perlu diupayakan serta diperjuangkan. Terasa seperti itu.

Maka, di luar dua gelar tersebut apa yang akan dilakukan? Mungkin akan tetap menulis secara random dengan waktu yang juga takkan tentu. Sebagai penyeimbang atau pelengkap dari dua gelar mulia ini. Dan semoga dalam berproses dengan dua gelar ini, akan ditemukan arahnya secara tematis. Karena sudah hampir mendekati kecendrungan yang diminati akhir pekan lalu di Malang.


Setelah Kontrol Kedua

Untuk kontrol kedua ini, aku pergi ke Puskesmas bukan ke dokter kandungan seperti sebelumnya. Karena rencana lahiran nanti mau menggunakan fasilitas BPJS. Jadi mesti runut dari faskesnya toh?

Berkaca pada kontrol pertama, antri kontrol pastilah lama. Apalagi dalam waktu seminggu, di Puskesmas faskesku ini hanya ada jatah dua hari untuk kontrol kehamilan, yakni Rabu dan Kamis. Jadi aku pikir kalau berangkat siangan mungkin lebih sepi antriannya. Ternyata... Bukan tentang antriannya, tapi untuk kontrol hamil prosesnya sangat lama dan memang harus lebih pagi. Beda loh yaa..dengan kontrol hamil di dokter kandungan sebelumnya. Waktunya cuman sebentar, omong-omong sama dokternya, usg, omong-omong lagi, udah kelar. Palingan hanya 15 menitan kali yaa.

Juga karena periksa hamil pertama di Puskesmas, ada program wajib dari Pemerintah yang mengharuskan tes HIV tiap ibu hamil. Entah ini berlaku karena aku baru hamil pertama, atau diwajibkan bagi seluruh ibu hamil baik yang sedang hamil kedua atau seterusnya. Aku lupa tanya. Pokoknya intinya kudu tes darah.

Setelah sebelumnya didata, termasuk kapan terakhir mens, data diri dan suami, sudah berapa lama menikah bla bla. Ditensi (rendah bangeeet, makanya sering pusing dan nggak kuat berdiri lama), ditimbang (BB bulan ini turun 3 kilooo loh!). Ditensi pun sampai dua kali, yang kedua disuruh baring ke kiri untuk tau selisihnya. Tapi tetep sama, tensinya rendah. Hiks.

Selanjutnya dites darah di lab puskemas. Oiyah, sekarang tuh walau namanya puskesmas tapi udah bagus loh pelayanan dan fasilitasnya. Jadi nggak usah ragu buat periksa ke sana yaa. Apa mungkin karena ini di kota besar ya? Tapi semoga ini berlaku untuk semua daerah karena Pemerintah sudah mulai sadar untuk lebih memperhatikan kesehatan masyarakatnya. Aamiin.

Yak, jarum suntik mulai menembus lenganku. Ini juga karena aku nggak tau golongan darahku apa. Atau mungkin pernah tau tapi lupa. Selanjutnya, disuruh tes urin. Emmh..agak gimana itu. Hehe. Puskesmas udah mulai sepi karena mendekati jam istirahat. Nunggu hasil tes, lalu dikasih amplop hasil tesnya oleh petugas lab. Balik lagi ke ruang Ibu dan Anak nyerahin amplop tersebut.

Lanjut ke bagian gigi, buat diperiksa giginya. Cuman disuruh mangap aja. Lalu dibilang giginya bagus, tinggal bersihkan karang giginya nanti setelah melahirkan. Periksa gigi harus 6 bulan sekali. Oke, setelah operasi gigi kemarin jadi males periksa lagi.

Sampai di ruang Ibu dan Anak lagi, dikasih wejangan bla bla. Hasil pemeriksaan kita telah tertulis dalam buku khusus (foto bukunya menyusul), yang wajib kita bawa ke puskesmas tiap kali kontrol. Sebulan lagi kembali ke sana, dan jangan lupa untuk datang lebih pagi.

Dan beneran aku lupa, karena keburu pulang dan emang udah sepi pada istirahat. Lupa nggak ambil resep obatnya. Owalah. Obatnya berupa vitamin asam folat dan penambah darah. Asam folat masih punya sisa bulan kemarin, kalo penambah darah ini nggak ngerti yang aman buat Ibu hamil yang mana.

Friday, April 8, 2016

Tentang Trimester Pertama

Cuman pengen ngedokumentasiin apa-apa yang terjadi selama trimester pertama. Walau mungkin suram, tapi karena pengalaman pertama hamil, pastilah punya kesan tersendiri. Ini nggak terpoin perminggu, melainkan secara acak aja deh. Lupa lupa inget juga kalo mesti dirinci perminggu.

Sejak melihat garis dua minus pada testpack. Mulai lah berancang-ancang ini itu demi bayi dan kehamilan yang sehat. Misaaal, rajin beribadah, olahraga ringan, melakukan aktifitas yang bisa merangsang otak bayi, juga memakan makanan sehat. Tapi benarkah seperti itu? Benarkah sesuai rencana?

Ibadah
Shalat malam dan tilawah di awal baru tahu hamil, dijalankan dengan gigih. Terkadang seperti alarm tubuh yang secara alami terbangun dini hari. Sempat khatam di minggu ke 9. Tapi setelah itu..abu-abu. Bangun pagi terasa tak bertenaga. Bahkan pernah shalat dengan posisi duduk, karena tidak kuat berdiri sempurna. Mengaji pun sempat berhenti, karena tak kuat jika harus bersuara. Mengaji dalam hati rasanya kurang plong. Jadi sempat terhenti beberapa minggu. Yah, padahal hamil menjadi momen tepat untuk lebih dekat kepada Allah. Saat itu yang bisa dilakukan hanya berdoa, supaya keadaannya kembali normal.

Olahraga
Minggu-minggu awal hamil, masih bisa jalan kaki sepanjang gang rumah di pagi hari. Tapi karena lemas, juga pola tidur yang kacau, waktu pun jadi molor. Dan hilanglah hasrat untuk menghirup udara segar di luar. Adanya bersembunyi di kamar. Hanya keluar ketika bekerja saja, berangkat kerja pun seringnya agak telat dari biasanya. Karena memang tak sebebas seperti biasa dalam beraktivitas. Lemaaass sekali. Terkadang ada satu hari pada beberapa minggu, yang ijin tidak masuk kerja.

Aktifitas pendukung
Seperti ngisi-ngisi tts. Tapi itu nggak lama. Karena kurang greget sama males juga. Hahaii.

Makanan sehat
Pas awal emang gigih mau makan sehat. Sempet bikin tumisan bawang putih dan bayam kukus. Memperbanyak asam folat. Lalu kemudian era eneg dimulai, langsung traumaaa makan bayam kukus. Hiyeks. :(

Ngidam
Sempat kepikiran dengan bakdabak. Feuh. Ini sih walo nggak hamil pun pasti mau mau dong yaa. Apa bakdabak? Makanan bertepung yang dicampur ikan terus digoreng. Rasanya gurih dan kenyel-kenyel seru. Biasanya dicocol dengan sambel petis dan tomat. Tidak ditemukan di tempat lain, melainkan hanya di Prenduan sana. Ya, ini jajanan waktu di Pondok dulu. Secara teknis mirip pempek. Tapi walaupun makan pempek pun tak tergantikan loh. Pernah juga nyobain cireng sebagai tombo ganti. Nasibnya sama seperti pempek. Heuu. Akhirnya iseng-iseng cari di Instagram, di dunia serba cyber gini apa sih yang nggak dijual? Haha. Dan ketemu beneran, yes! Lokasinya di Malang, langsung deh ngubungi suami demi tuntasnya kengidaman sang istri. Rupanya yang jual juga masih adek angkatan suami. Alhamdulillah, suami beli adonannya untuk dibawa ke rumah.

Dan hal-hal random terjadi ketika Trimester Pertama Hamil:
  • Pernah mimpi betapa maknyusnya Bubur Kepiting yang dijual salah satu resto di Bali.
  • Mulai sembuh eneg dan nafsu makan di saat suami udah bawakan bakdabak. Sebenernya bukan karena bakdabaknya sih, tapi timingnya emang udah berlalu. Terus juga sempet nyambangi adek yang mondok, kita bawakan makanan buatnya. Aku ikutan ngicipiin. Trus juga nyeruputin es Dawet Jepara. Rasanya segeeer, gula merahnya enaaak banget.
  • Sempet mbliyur dan nyaris pingsan waktu antar Ibu ke pasar.
  • Ngebis ke Malang karena ada panggilan interview. Siap amunisi roti coklat dan susu uht.
  • Mual kalo cium aroma tumisan bawang goreng. Padahal malah suka laper dulu-dulunya kalo udah kecium tumisan bawang goreng.
  • Nggak suka makanan pedas, dan nggak selera sama makanan asin gurih. Padahal kaaan?
  • Doyan baca buku kriminal atau yang agak horor. Ini semacam obat pengalih eneg, selain tidur.
  • Kena sembelit dan muka jerawataaan!
  • Karena eneg dan nggak nafsu makan sekitar sebulanan lebih, bb turun 3 kilo. Uwow!
  • Kepengen makan nasi pecel dengan telur dadar tebel.
  • Nggak lupa juga. Kepikiran sama sayur daun kelor alias "gengan maronggih kella konce", nase' bukbuk, juko' paes atau palappa rojek (ikan laut brengkes atau bumbu rujak) dan sambel petis mix timun tomat. Pokoknya kepingin makan ala Maduraan yang sederhana itu.

Wednesday, March 30, 2016

10 ke 11

Belum membaik banget (seperti normal sebelum hamil), tapi masih selevel di atas minggu kemaren..

Mual? Pastiii.
Lemes? Cencuh sajah!

Tapi kali ini, muntah masih bisa ditanggulangi. Karena adaaa... Jreeng-jreeeeng..



Alhamdulillaaaah, permen ini udah kayak BFF buatku. Tiap mulai mual dan berujung mau muntah (udah hapal banget tanda-tandanya!), langsung ngemutin permen jahe ini. Awalnya nggak kepikiran sampe ke permen. Ku pikir dengan minum jahe anget tiap pagi udah bisa mengatasi. Oke sih, biasanya itu cuman pagi aja efeknya. Nah, gimana kalo siang? Sore? Atau di saat tak terduga? Ujug pengen hoek dan byor tanpa bisa ditunda. Tanpa harus jerang air dulu ditambah jahe, trus nunggu sampe anget baru diminum? Muntahnya nggak bisa dipause kali, mamiiih! Huhuuu.

Maka dicarilah alternatif paling simpel. Jahe emang dipercaya buat ngatasi mual. Jadi apa sekiranya, sesuatu yang mengandung jahe tanpa perlu direbus dahulu? Yak, lampu di kepala menyala! Tentu aja tinting jahe. Keinget karena ini permen yang biasa dijajakan di bis-bis kalo kita lagi mudik ke Madura. Dan suami yang tiap minggu bolak balik Malang ngebis, jadi utusan untuk mendapatkannya. Hehe. Tapi suami nggak beli di bis loh yaa. Jangan kira permen jahe yang dijual di bis sekarang itu kayak jaman daholo kala. Kita lelah dengan kepalsuan. Hikshiks. Suami cari di Malang, entah toko apa. Sempetin juga beli di bis, jahenya nggak berasa. Banyakan gulanya.

Sejauh ini.. Permen jahenya ampuh mencegah muntah. Kenapa sebisa mungkin nggak muntah? Karena ngerasa rugi banget, udah susah payah maem, trus keluar gitu aja. Apalagi susah maem gini. Siapa yang nggak senewen. Bukan itu saja, misal muntahnya itu buah atau makanan yang tidak berbumbu kuat, masih nggak seberapa. Tapi kalau makanan yang agak pedas, efeknya bener-bener ngelukai tenggorolan loh. Makanya, aku jadi mudah batuk dan flu sekarang. Setelah muntah juga biasanya jadi makin lemas. Di satu titik itu sempet bikin diri ini ngerasa frustasi karena lemah, tak berdaya. Tangisan dangdut pun tak bisa dicegah di sela-sela kepayahan muntah. Bener-bener so drama! Untungnya sih, kemarin ketika muntah tak sampai keluar cairan kuning. Konon sih, ada temen yang bener-bener mabok, saking parah-parahnya sampai keluar semua isi perutnya termasuk cairan kuning tersebut. Mungkin cairan lambung kali yah..entah.

Kelar urusan muntah, sekarang malah kena flu daaan, diare! Hikss.

Batuknya sih enggak sampe nyiksa, pileknya juga. Tapi bikin badan meriang kayak demam gitu. Badan nggak enak lah pokoknya. Sampe tiduran pun nggak nyaman. Untung ngemutin permen jahe itu, lumayan bikin dahak di tenggorokan bertahap keluar. Jadi kesiksanya emang seputaran badan yang greges itu. Sempet bolos kerja (lagi) sehari. Karena emang butuh rehat beneran. Lumayan setelah itu segeran. Oia, udah kubilang ya..kalau aku ini agak RUM, Rational Use Medicene. Pas flu dan meriang itu nggak ngobat. Cuman istirahat, makan, minum jahe madu, emut permen, sempet juga minum degan. Lumayan bekerja kok.

Itu juga berlaku pas diare. Kena diare dua harian gitu. Diare kan bikin lemes ya, dan juga bisa dehidrasi loh. Sama suami dibelikan buah jambu merah. Alhamdulillah, ngefek. Walau yang paling ampuh sih, minum rebusan daun jambu biji ya. Tapi di sini dapet dari mana coba? Mana waktu itu suami nyariin jambunya malem-malem pulak. Masih untung dapet. Suami beli di tukang jus loh. Hehe. Aku makan dengan lahap. Sisanya dimakan besoknya.

Moga makin membaiiiik, dan nggak ada yang aneh-aneh lagi. Aamiiin.